PENDAHULUAN
Ikan merupakan
salah satu produk yang sangat rentan terhadap kerusakan apabila dibiarkan dalam
kondisi suhu kamar. Ikan sebagai komoditas pangan yang mengandung komponen gizi
seperti karbohodrat, protein, lemak dan air sangat disukai oleh bakteri dan
ababila ditempatkan dalam suhu ruang maka bakteri akan cepat berkembang yang
akan menyebabkan kerusakan/ pembusukan pada ikan.
Jika ikan
diperjualbelikan dalam kondisi mati, maka secara otomatis bakteri perusak akan
cepat berkembangbiak dan menyebabkan terjadinya penurunan mutu ikan. Ikan akan
mengalami pembusukan dan tidak bisa dikonsumsi lagi.
Pengolahan hasil
perikanan pada dasarnya merupakan upaya yang dilakukan terhadap sumberdaya ikan
dengan secara tradisional maupun modern, baik secara fisika, kimia,
mikrobiologis atau kombinasinya, untuk dijadikan produk akhir yang dapat berupa
ikan segar, ikan beku dan bentuk olahan lainnya, guna mengawetkan dan
memperbaiki penampakan/penampilan (appearance) sifat-sifat
fisika, kimia dan nilai gizi serta nilai tambahnya (value added) untuk memenuhi konsumsi manusia.
Pengolahan ikan
dilakukan dengan tujuan untuk menghambat atau menghentikan reaksi enzim dan
pertumbuhan mikroorganisme (bakteri)
yang dapat menimbulkan proses pembusukan pada ikan. Secara umum pengawetan
dilakukan untuk menghambat perkembangan organisme. Dasar pengawetan secara umum
adalah untuk menghambat perkembangan organism pembusuk atau untuk menghancurkan
organism pembusuk.
A. FAKTOR FAKTOR YANG MENYEBABKAN PEMBUSUKAN
PADA IKAN AIR TAWAR
Proses jual beli
ikan air tawar biasanya berbeda dengan ikan laut, ikan air tawar sebagian besar
diperdagangkan dan sampai kepada pembeli dalam kondisi masih hidup. Dengan
demikian pembeli ikan air tawar diuntungkan karena mutu ikan masih terjaga dengan
baik. Kebanyakan konsumen membeli ikan air tawar dalam jumlah banyak untuk
disimpan dan dipergunakan secara parsial.
Karena ikan
merupakan bahan pangan yang sangat mudah mengalami kerusakan, maka harus
disimpan dengan cara yang tepat. Beberapa jenis bakteri dapat menguraikan
komponen gizi ikan menjadi senyawa-senyawa berbau busuk dan anyir, seperti,
skatol, indol, H2S, merkaptan, dan lain-lain. Beberapa bakteri patogen
(penyebab penyakit), seperti Salmonella, Vibrio, dan Clostridium, juga sering
mencemari produk perikanan.
Faktor yang
dapat menyebabkan pembusukan pada ikan air tawar adalah sebagai berikut:
- Kadar air cukup tinggi (70-80 persen dari berat daging) yang menyebabkan mikroorganisme mudah tumbuh dan berkembang biak.
- Secara alami, ikan mengandung enzim yang dapat menguraikan protein menjadi putresin, isobutilamin, kadaverin, dan lain-lain, yang menyebabkan timbulnya bau tidak sedap.
- Lemak ikan mengandung asam lemak tidak jenuh ganda yang sangat mudah mengalami proses oksidasi atau hidrolisis yang menghasilkan bau tengik.
- Ikan mempunyai susunan jaringan sel yang lebih longgar, sehingga mikroba dapat dengan mudah mengggunakannya sebagai media pertumbuhan.
Sifat ikan yang
sangat mudah rusak ini akan diperberat lagi oleh kondisi penanganan pascapanen
yang kurang baik. Kerusakan mekanis dapat terjadi akibat benturan selama
penangkapan, pengangkutan, dan persiapan sebelum pengolahan.
Gejala yang
timbul akibat kerusakan mekanis ini antara lain memar (karena tertindih atau
tertekan), sobek, atau terpotong. Kerusakan mekanis pada ikan ini tidak
berpengaruh nyata terhadap nilai gizinya, tetapi cukup berpengaruh terhadap penampilan
dan penerimaan konsumen.
B. KEMUNDURAN MUTU IKAN
Kemunduran mutu
ikan digolongkan menjadi 4 tahap, yaitu prerigor, rigormortis,
postrigor dan pembusukan oleh bakteri. Tingkat kesegaran atau
kemunduran mutu pada ikan disebabkan adanya reaksi kimia dan pembusukan oleh
mikroba. Jika dilihat dari keberadaan kandungan dan besarnya unsur biokimia
makro yang terdapat di dalam tubuh ikan, perubahan utama yang terjadi pada
proses kemunduran mutu ikan umumnya bersumberkan dari perubahan atau kerusakan
komponen protein dan lemak yang terdapat dalam tubuh ikan itu sendiri.
Proses
kemunduran mutu ikan selama penyimpanan, proses perubahan tingkat kesegaran
ikan pada periode penyimpanan awal didominasi oleh proses autolisis dan
kemudian digantikan oleh perubahan akibat aktivitas bakteri.
1. Prerigor
Tahap prerigor merupakan
perubahan yang pertama kali terjadi setelah ikan mati. Fase ini ditandai dengan
pelepasan lendir cair, bening, atau transparan yang menyelimuti seluruh tubuh
ikan. Proses ini disebut hiperemia yang berlangsung 2-4 jam. Lendir yang
dikeluarkan ini sebagian besar terdiri dari glukoprotein dan musin yang
merupakan media ideal bagi pertumbuhan bakteri.
Tahap prerigor terjadi
ketika daging ikan masih lembut dan lunak. Perubahan awal yang terjadi ketika
ikan mati adalah peredaran darah berhenti sehingga pasokan oksigen untuk
kegiatan metabolisme berhenti. Di dalam daging ikan mulai terjadi aktivitas
penurunan mutu dalam kondisi anaerobik. Pada fase ini terjadi penurunan ATP dan
keratin fosfat melalui proses aktif glikolisis. Proses glikolisis mengubah
glikogen menjadi asam laktat yang menyebabkan terjadinya penurunan pH.
2. Rigormortis
Fase selanjutnya
adalah rigormortis. Fase rigormortis adalah tahap yang
terjadi ketika ikan mengalami kekakuan (kekejangan). Fase ini ditandai dengan
terjadinya penurunan pH akibat akumulasi asam laktat. Faktor yang mempengaruhi
lamanya fase rigormortis yaitu jenis ikan, suhu, penanganan
sebelum pemanenan, kondisi stress pra kematian, kondisi biologis ikan, dan suhu
penyimpanan prerigor . Nilai pH daging ikan selama fase rigormortis turun
menjadi 7-6,5.
Fase rigormortis sangat
penting dalam industri perikanan karena fase ini merupakan tahapan sebelum
terjadinya kebusukan oleh mikroba. Selama berada dalam tahap ini, ikan masih
memiliki kualitas yang baik dan diterima oleh konsumen. Fase ini dihindari oleh
industri fillet karena daging ikan yang kaku sulit untuk
diproses.
3. Postrigor
Fase postrigor merupakan
fase awal kebusukan ikan. Fase ini terjadi ketika daging dan otot ikan secara
bertahap menjadi lunak kembali. Hal ini disebabkan terjadinya degradasi
enzimatik di dalam daging ikan. Pada awalnya fase ini akan meningkatkan derajat
penerimaan konsumen.
Proses autolisis
berlangsung pada tahap postrigor. Autolisis terjadi disebabkan
adanya enzim-enzim endogenous yang ada di dalam otot ikan. Penurunan nilai pH
menyebabkan enzim-enzim dalam jaringan otot menjadi aktif. Katepsin, yaitu
enzim proteolitik yang berfungsi menguraikan protein menjadi senyawa sederhana,
merombak struktur jaringan protein otot menjadi lebih longgar sehingga rentan
terhadap serangan bakteri. Hal ini mengakibatkan daging ikan menjadi lunak
kembali.
4. Busuk
Mikroorganisme
dominan yang berperan penting di dalam proses penurunan kesegaran ikan adalah
bakteri. Dekomposisi berjalan intensif, khususnya setelah ikan melewati
fase rigormortis, pada saat jaringan otot longgar dan jarak antar
serta diisi oleh cairan.
Bakteri
mengeluarkan getah pencernaan, enzim yang merusak dan menghancurkan jaringan.
Bakteri pada daging menyebabkan perubahan bau dan rasa yang pada mulanya terasa
masam, beraroma seperti rumput atau asam. Bau dan rasa ini dapat berubah secara
bertahap menjadi pahit atau sulfida serta dapat berubah menjadi ammonia pada
tahap akhirnya. Selain perubahan bau dan rasa, bakteri menyebabkan perubahan
tampilan dan ciri fisik lendir. Lendir pada kulit dan insang dapat berubah dari
yang biasanya tampak jernih dan berair menjadi keruh dan kehitaman. Warna kulit
ikan hilang dan menjadi tampak pucat dan pudar. Lapisan perut menjadi pucat dan
hampir lepas dari dinding bagian dalam tubuh.
C. TUJUAN PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN
Aspek penting
dari produk perikanan adalah kandungan nutrisinya yang baik bagi kesehatan dan produk
ikan cepat mengalami pembusukan. Kedua
asprek tersebut menjadikan manusia mengembangkan teknologi pengolahan produk
perikanan agar produk perikanan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Dengan
demikian tujuan pengolahan hasil perikanan adalah :
- Mempertahankan dan memperpanjang daya awet produk sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Daya awet yang lebih lama menjadikan produk dapat didistribusikan ke berbagai daerah yang berjauhan dengan wilayah penghasil produk perikanan.
- Meningkatkan penerimaan produk, dengan adanya berbagai variasi hasil olahan produk perikanan menjadikan masyarakat mempunyai berbagai macam alternatif pilihan untuk mengkonsumsinya tanpa takut akan rasa “bosan”.
- Meningkatkan nilai gizi, komponen makro nutrient seperti lemak dan protein termasuk komponen dengan berat molekul yang besar dan panjang. Komponen – komponen tersebut dapat lebih mudah dicerna dan diserap agar dimanfaatkan oleh tubuh dalam bentuk molekul yang lebih ringan atau menjadi komponen penyusunnya seperti asam amino (protein) dan asam lemak (lemak). Proses pengolahan menjadikan komponen protein dan lemak terurai menjadi komponen yang lebih sederhana atau komponen penyusunnya.
D. JENIS JENIS TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL
PERIKANAN
Berdasarkan
karakteristik atau sifat dasar, teknologi pengolahan hasil perikanan dibedakan
menjadi tiga jenis yaitu Fisikawi, Kimiawi, dan Biologi
- Fisikawi, pengolahan yang memanfaatkan sifat fisik seperti sinar matahari, suhu (suhu rendah maupun suhu tinggi), cahaya atau sinar (iradiasi), Modified Atmosphere Packaging (MAP).
- Kimiawi, pengolahan yang memanfaatkan bahan kimia alami seperti garam, gula, pengasapan, serta bumbu-bumbu alami maupun bahan tambahan pangan.
- Biologi, memanfaatkan organisme maupun produk metabolisme organisme contohnya fermentasi.
- Kombinasi dari beberapa proses tersebut diatas maupun ketiganya sekaligus.
Masing-masing
jenis pengolahan menghasilkan produk dengan karakteristik yang berbeda-beda
baik dari segi sensoris maupun nilai nutrisinya. Setiap pengolahan tentunya
mempunyai nilai positif serta negatif sehingga kedua hal tersebut tentunya
perlu diketahui oleh pengolah agar manfaat dan nutrisi produk perikanan dapat
dioptimalkan. Untuk itu, adanya pengetahuan tentang pengolahan hasil perikanan
perlu diketahui oleh pihak yang berkecimpung di bidang ini.
E. PROSES FISIKAWI DALAM PENGOLAHAN IKAN AIR
TAWAR
Pemanfaatan
sifat-sifat fisikawi dalam pengolahan ikan air tawar terutama penggunaan suhu
merupakan prinsip dasar dalam bidang pengolahan hasil perikanan. Penggunaan
suhu dikenal dengan suhu rendah (chilling
dan freezing) dan suhu tinggi yang
meliputi (boiling, pasteurisasi, dan
sterilisasi). Berikut masing-masing penjelasan proses tersebut.
1.
Chilling
Chiling atau dalam bahasa umumnya adalah
pendinginan merupakan proses pengolahan ikan yang sangat sederhana dan sering
digunakan, pendinginan berprinsip menurunkan suhu serendah mungkin yang
dilakukan dengan cepat. Pendinginan hanya mampu memperlambat proses pembusukan
oleh bakteri maupun aktifitas enzim pembusuk. Suhu pendinginan berkisar antara
(0 – 40C) dan patokan suhu ini yang dijadikan pembeda antara proses
pendinginan dengan freezing atau
lebih dikenal dengan pembekuan.
Media
pendingin dapat berupa gas, cairan maupun padatan contohnya es, es lebih sering
digunakan. Es sebagai media pendingin dapat berbentuk balok maupun curai dan
dapat dibuat dari air tawar yang didinginkan, air laut yang didinginkan, dan
air larutan garam yang didinginkan. Pendinginan dengan es dapat digunakan
secara langsung untuk mengawetkan ikan dengan susunan (es, ikan, es, ikan dst)
maupun ditambahkan dengan air (es, air, dan ikan). Kebutuhan es sebagai media
pendingin ikan adalah 1 : 1 (1 kg ikan :
1 kg es).
2.
Freezing
Freezing atau yang sering dikenal pembekuan adalah
proses dimana suatu produk diturunkan suhunya hingga dibawah titik beku dan
sebagian dari air yang terkandung didalamnya telah menjadi kristal es (Fellows,
1990). Dari pengertian tersebut penggunaan suhu lebih rendah dari -20C
bahkan sampai -300C atau lebih rendah lagi digunakan dalam proses
pembekuan. Titik beku air yang terkandung dalam tubuh ikan adalah 00C
sehingga kondisi diluar tubuh ikan untuk mencapai titik beku tersebut haruslah
lebih rendah dari 00C. Perbedaan penggunaan suhu inilah yang
menjadikan pembeda antara proses pendinginan dan pembekuan. Hal penting yang
perlu diperhatikan apabila akan membekukan ikan adalah:
- Karakteristik ikan atau bahan baku (hal ini meliputi sifat biologis, karakteristik kimiawi ikan, bentuk dan ukuran ikan, ketebalan produk, cara penanganan ikan, cara kematian ikan dan lain sebagainya).
- Penguasaan sistem dan proses pembekuan meliputi faktor penentu laju dan waktu pembekuan, metode pindah panas dan termodinamika produk, sirkulasi, kecepatan dan distribusi medium pembeku.
- Penguasaan peralatan dan mesin pembekuan meliputi jenis dan kapasitas mesin pembeku serta metode pengoperasiaannya.
Pemanfaatan dengan suhu rendah selain memberikan efek
positif juga dapat memberikan efek negatif, efek negatif yang dapat ditimbulkan
dari proses pemanfaatan suhu rendah adalah :
Denaturasi dan agregasi protein akibat aktifitas
enzim, tingkat ekstrakbilitasnya berkurang, menurunnya daya ikat air (Water Holding Capacity) daging ikan dan pada akhirnya menyebabkan
perubahan tekstur dan sensori daging yang tidak diinginkan. Ikan salmon asap
yang disimpan pada suhu 40C(RFS), fillet salmon yang belum diasap
disimpan pada suhu -250C selama 24 jam kemudian diasap dan disimpan
pada suhu 40C (BFS), dan fillet salmon yang sebelumnya disimpan pada
suhu suhu -250C selama 24 jam kemudian diasap dan disimpan pada suhu
-180C selama 24 jam sebelum dianalisis (AFS), semua sampel
dianalisis pada hari ke – 2, 9, 16, 23, 30, 37 dan 45 hari. Hasil analisa
menunjukkan bahwa perlakuan RFS dan BFS menghasilkan efek negatif pada adhesiveness dan cohesiveness (karakteristik tekstur), intensitas aroma asap, aroma
amina, dan intensitas warna daging. Sedangkan perlakuan AFS mempunyai masa
simpan lebih lama 45 hari dan memberikan nilai cohesiveness, firmness,
dan intensitas warna yang lebih baik dibandingkan dua perlakuan sebelumnya.
3.
Boiling
Boiling merupakan salah satu tehnik pengolahan
ikan dengan cara merebus ikan dalam air yang telah diberi garam maupun tanpa
garam. Boiling fish atau di Indonesia
lebih dikenal dengan ikan pindang merupakan tehnik pengawetan ikan yang
bersifat singkat. Hal ini dikarenakan bahan baku ikan yang digunakan kurang
memenuhi standar, tehnik pengolahan, serta pengemasan yang masih bersifat
sederhana. Jenis ikan yang sering dijadikan pindang adalah kembung (Rastrelliger), Layang (Decapterus), Tongkol (Euthynnus) atau Caranx sp. Proses pengolahan ikan pindang pada masing-masing daerah
berbeda-beda tergantung dari teknologi / peralatan yang digunakan. Secara umum
proses pemindangan ikan adalah sebagai berikut :
Proses
pemindangan ikan memberikan efek positif maupun negatif terhadap nutrisi,
tekstur dan sensori produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ikan Clupea
harengus, Scomber scombrus, Trachurus trachurus and Urophycis tenuis yang telah
dihilangkan kepala dan tulangnya dimasak selama 10 menit pada suhu 1000C
hingga matang menunjukkan bahwa pemanfaatan panas dalam proses pengolahan ikan
(boiling); 1). Mampu mengurangi kadar
protein daging ikan yang nantinya menyebabkan kerusakan dan tidak tersediannya
asam-asam amino, hal ini dikarenakan semakin lama dan tinggi temperatur yang
digunakan pada proses pemindangan menyebabkan perubahan kandungan asam amino
pada daging.
Ikan yang
dipindang pada suhu 85-900C selama 15 menit mampu menurunkan
nilai EPA dan DHA, akan tetapi EPA dan DHA ikan yang dipindang tersebut
mengalami penurunan yang tidak signifikan jika dibandingkan dengan ikan yang
digoreng menggunakan minyak bunga matahari pada suhu 150-1700C
selama 15-20 menit.
4.
Pasteurisasi
Proses
pengolahan yang memanfaatkan suhu tinggi tetapi tidak melebihi titik didih air
(1000 C). Pasteurisasi digunakan untuk menginaktifkan enzim,
membunuh sebagian bakteri pembusuk maupun patogen, dan mampu memperpanjang daya
simpan. Penggunaan pasteurisasi disesuaikan dengan karakteristik bahan yang
akan diolah dan biasanya bahan yang dipasteurisasi tidak tahan terhadap panas.
Produk perikanan yang biasa dipasteurisasi adalah rajungan, kepiting, oyster.
Menurut Badan Standarisasi Nasional (2002), bahwa suhu dalam wadah pasteurisasi
rajungan 1800–1900 F atau 82,20–87,80
C selama 115 – 118 menit.
5.
Sterilisasi
Sterilisasi
merupakan pengolahan yang menggunakan suhu sangat tinggi, dapat melebihi titik
didih air. Suhu yang digunakan untuk sterilisasi adalah 1210C selama
15 menit dengan mengacu pada spora bakteri termophilus seperti Clostridium
botulinum dan Bacillus lebih resisten pada suhu tersebut. Sterilisasi dapat
merusak nilai gizi bahan yang diolah oleh karena itu dikenal adanya sterilisasi
komersial. Sterilisasi komersiil merupakan tingkat sterilisasi dimana semua
bakteri patogen dan pembentuk toksin, mikroorganisme jika ada dan yang dapat
tumbuh dibawah penanganan dan kondisi penyimpanan normal dapat dimusnahkan.
Makanan yang
telah disterilisasi komersial mungkin masih mengandung sejumlah kelompok
mikroba dalam bentuk spora yang tahan panas, akan tetapi spora ini sudah
inaktif atau tidak dapat membelah diri dan hanya dapat hidup bila diisolasi dan
ditumbuhkan.
6.
Deep Frying
Deep frying sama halnya
dengan proses pengolahan ikan memanfaatkan suhu tinggi yang bertujuan untuk
inaktivasi enzim, membunuh mikroba pembusuk dan patogen yang nantinya
meningkatkan daya awetnya serta memperbaiki tekstur dan citarasa produk yang
dihasilkan akan tetapi yang membedakan disini adalah media perambatan panas
yang digunakan berupa minyak. Minyak yang digunakan seperti minyak kelapa
sawit, bunga matahari, canola, kedelai, maupun minyak sayur. Hal yang perlu
diperhatikan pada proses penggorengan adalah jenis minyak yang digunakan, suhu
pemanasan dan lama waktu pemanasan karena ketiga faktor tersebut dapat
menyebabkan oksidasi minyak maupun lemak khususnya asam lemak seperti EPA dan
DHA yang terkandung pada ikan menunjukkan bahwa kandungan EPA dan DHA mengalami
penurunan yang signifikan pada ikan yang digoreng jika dibandingkan dengan ikan
yang diolah secara direbus maupun dipanggang.
7.
Iradiasi
Prinsip pengolahan hasil perikanan dengan iradiasi
adalah bahan pangan diiradiasi pengion (Cobalt 60, Celsium 137, Mesin Berkas
Elektron, Sinar X) sehingga sel hidup (mikroorganisme) mengalami eksitasi,
ionisasi, dan perubahan kimia yang nantinya berpengaruh terhadap proses
biologis mikroorganisme sehingga makanan mempunyai daya awet yang lebih lama.
Di Indonesia pengolahan ikan secara iradiasi masih jarang kita jumpai hal ini
disebabkan oleh faktor sumber daya yang digunakan harus benar-benar terlatih
serta mahalnya biaya produksi yang harus dikeluarkan.
8.
Modified Atsmoshere Packaging (MAP)
MAP merupakan suatu tehnik pengawetan dengan
memodifikasi susunan gas khususnya oksigen yang terdapat dalam kemasan dengan
tujuan menghambat atau bahkan mematikan bakteri aerobik penyebab kebusukan.
