Pendahuluan
Sidat merupakan jenis ikan yang menjadi favorit warga jepang dan korea. Sidat mengandung gizi yang sangat tinggi selain nikmat dan enak disajikan. Masih sedikit orang yang tahu apa itu sidat. Di setiap daerah namanya memang berbeda-beda. Ada yang menyebutnya ikan masapi (Bugis), ikan moa (Betawi), ikan lubang (Sunda), ikan pelus (Lampung), dan lainnya.
Meski bukan komoditas baru di bidang perikanan, namun karena tidak banyak dibudidayakan, maka popularitasnya kalah dengan ikan konsumsi lainnya. Padahal di negara lain seperti Jepang dan Korea ikan sidat ini menjadi lauk favorit di restoran dimana mereka menyabutnya sebagai unagi.
Banyaknya permintaan pasar akan ikan sidat di negara Jepang membuat negara Jepang sendiri tidak mampu memenuhi kebutuhan ikan sidat. Selama ini negara Jepang hanya mampu memproduksi sekitar 30 % saja dan untuk 70 % nya negara Jepang mendatangkan kebutuhan ikan sidat dari berbagai macam negara-negara yang lain, salah satunya adalah negara Indonesia.
Dengan adanya kebutuhan konsumsi yang berbanding terbalik dengan jumlah yang ada, membuat negara Jepang sering mengimpor ikan sidat dari negara-negara lain, termasuk dari Indonesia. Hal seperti inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa budidaya sidat mulai berkembang di Indonesia.
Mengeliatnya usaha budidaya ikan sidat, diiringi juga dengan berkembangnya teknik budidaya ikan sidat. Salah satu cara yang efektif untuk membudidayakan ikan sidat di lingkungan sekitar kita yaitu dengan memanfaatkan terpal. Memulai membudidayakan ikan sidat di kolam terpal, termasuk salah satu cara yang mudah untuk dipelajari.
Mengenal Jenis Sidat
7 dari 18 jenis sidat di dunia terdapat di Indonesia. Namun diantara 7 jenis itu hanya 2 jenis yang paling populer dan memiliki potensi besar untuk di budidayakan. Bicolor adalah salah satu jenis sidat yang sumber bibitnya berasal dari Jawa (Sukabumi, Cilacap, Jember) dan bibit terbaik banyak ditemukan di sekitar Pelabuhan Ratu, sukabumi, Jawa Barat. Sidat yang memiliki warna hitam kecoklatan polos ini juga sering disebut dengan sidat anjing yang sangat diminati orang Jepang.
Sementara itu jenis sidat lain yang yang tak kalah populer adalah dari jenis marmorata. Sidat jenis ini berwarna hitam kecoklatan dengan corak seperti batik, sering juga disebut dengan sidat kembang. Sumber bibit umumnya diluar pulau Jawa seperti Sulawesi dan Kalimantan. Namun bibit terbaik banyak ditemukan di Poso. Menariknya harga jual Marmorata 2-3 kali lebih mahal dari jenis bicolor dan lebih disukai orang Indonesia, Korea dan Taiwan.
Sekilas sidat nampak mirip dengan belut, namun tubuh sidat lebih memanjang dan memiliki kapala berbentuk segi tiga serta memiliki empat sirip dibagian dada yang sering disebut telinga, dubur, punggung dan ekor. Memiliki sisik yang sangat halus dan tubuhnya ditutupi lendir.
Sidat memiliki siklus hidup di laut akan memijah dan akan berpindah ke muara dan hidup di sungai sejak menetas hingga dewasa. Saat migrasi inilah bibit sidat di tangkap di genangan air payau hingga sungai untuk kemudian dibesarkan di kolam pembesaran dan diberi pakan secara intensif hingga umur dewasa dan siap dijual ke pihak eksportir.
Budidaya Sidat di Kolam Terpal
Membudidayakan ikan sidat memang tidak terlalu sulit, namun kita perlu memperhatikan trik dan strategi cara beternak jenis ikan sidat ini. Untuk areanya, kita dapat memanfaatkan area halaman rumah yang tersedia. Sedangkan untuk kolam yang akan digunakan untuk budidaya ikan ini, kita dapat dengan mudah menggunakan kolam terpal. Tentu membuat kolam terpal tidak serumit dan semahal membuat kolam permanen, selain itu, kolam terpal juga memiliki banyak keunggulan. Selain mengetahui cara dan teknik budidaya, kita juga perlu tahu cara membuat kolam dan seluk beluknya.
Keunggulan Kolam Terpal untuk Budidaya Ikan Sidat jika dibandingkan dengan kola jenis lainnya antara lain:
Kolam terpal untuk budidaya sidat dapat dibuat dengan ukuran sekitar 2x7x0,7 meter. Pompa dapat digunakan untuk membuat air mengalir dan sebaiknya air yang digunakan adalah air sungai sesuai dengan habitat asli dari ikan sidat. Kedalaman kolam yang ideal adalah 40 cm. Untuk memberikan suplai oksigen yang optimal kolam dapat diaerasi dengan menggunakan blower.
Tahap-tahap Pembesaran Sidat
Dalam budidaya sidat, biasanya terbagi menjadi 3 tahapan yaitu tahap pendederan 1, pendederan 2, dan tahap pembesaran (konsumsi). Tahapan ini diklasifikasikan agar memudahkan dan mempercepat pertumbuhan ikan sidat yang dipelihara.
Dikarenakan hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa memijahkan ikan sidat, maka kebutuhan bibit ikan sidat hanya tergantung pada hasil tangkapan dari alam. Bentuk bibit sidat hampir menyerupai sidat dewasa. Benih sidat terlihat transparan atau lebih dikenal dengan nama glass eel.
a. Tahap Pendederan I.
Tahap pendederan I merupakan tahap pengenalan dan sekaligus adaptasi awal benih ikan sidat dari alam supaya dapat dipelihara dalam ekosistem buatan dan pakan yang homogen atau pakan buatan. Pemeliharan pada tahap ini bertujuan untuk memelihara glass ell sampai menjadi benih ikan sidat berukuran elver.
Glass eel yang dipelihara umumnya dari jenis Anguilla bicolor dan Anguilla marmorata. Glass ell untuk jenis Anguilla bicolor berasal dari pantai selatan Jawa sedangkan Anguilla marmorata berasal dari Poso Sulawesi Tengah dan Tatelu. Berat glass ell yang ditebar berukuran 0,17 gr/ekor dengan kepadatan untuk setiap tempat pemeliharaan 6 ekor / liter air.
Penebaran glass ell dilakukan sesegera mungkin setelah glass ell diterima di tempat pemeliharaan. Dirsarankan untuk melakukan transportasi pada malam hari untuk mengurangi stress oleh tingginya suhu lingkungan selama transportasi apabila dilakukan pada siang hari. Sebelum ditebar ke dalam tempat pemeliharaan glass ell harus diaklimatisasi terlebih dahulu.. Perlakuan tersebut bisa dilakukan dengan cara menempatkan plastik packing sehingga mengapung di atas air media pemeliharaan.
b. Tahap Pendederan II
Setelah glass eel melewati tahap pendederan I maka benih ikan sidat akan berkembang menjadi ukuran elver. Benih ukuran elver kemudian masuk pada tahap pendederan II. Yang mana pada tahap ini merupakan tahap persiapan untuk menghasilkan sidat ukuran fingerling (10 gr/ekor) dan selanjutnya siap di pelihara pada tahapan pembesaran.
c. Tahap Pembesaran
Tahapan terakhir dari kegiatan budidaya ini adalah pembesaran. Tahapan pembesaran bertujuan untuk memperoleh ikan sidat ukuran konsumsi (> 200 gr/ekor). Produktifitas ikan sidat tergolong bagus. Untuk satu ton benih, diperkirakan bisa menghasilkan 5 ton ikan sidat. Semakin lama banyak orang mengetahui, maka semakin banyak investor yang berkeinginan membudidayakan ikan sidat, sebab, budidaya ikan sidat dipastikan menguntungkan.
Kebutuhan Pakan
Pakan yang diberikan untuk ikan sidat adalah pakan buatan berbentuk pasta yang mengandung protein minimal 47%, lemak 10%, serat kasar 8%, BETN 8% dan Abu 25%. Pakan diberikan sebanyak 3% dari berat total ikan Konvensi pakan sebesar 1,96.Dengan konvensi tersebut akan diperoleh laju pertumbuhan rata-rata 1,46% dengan mortalitas 9,64%.
Masa Pemeliharaan dan Panen.
Pemeliharaan ikan sidat pada kolam terpal dilakukan selama 7-8 bulan. Masa panen dapat dilakukan secara bertahap dimulai pada masa pemeliharaan selama 4 bulan. Ukuran ikan sidat yang dipanen adalah ukuran yang telah mencapai ukuran konsumsi yaitu dengan berat 180-200 gram per/ ekor.
Sidat merupakan jenis ikan yang menjadi favorit warga jepang dan korea. Sidat mengandung gizi yang sangat tinggi selain nikmat dan enak disajikan. Masih sedikit orang yang tahu apa itu sidat. Di setiap daerah namanya memang berbeda-beda. Ada yang menyebutnya ikan masapi (Bugis), ikan moa (Betawi), ikan lubang (Sunda), ikan pelus (Lampung), dan lainnya.
![]() |
| Ikan sidat |
Banyaknya permintaan pasar akan ikan sidat di negara Jepang membuat negara Jepang sendiri tidak mampu memenuhi kebutuhan ikan sidat. Selama ini negara Jepang hanya mampu memproduksi sekitar 30 % saja dan untuk 70 % nya negara Jepang mendatangkan kebutuhan ikan sidat dari berbagai macam negara-negara yang lain, salah satunya adalah negara Indonesia.
Dengan adanya kebutuhan konsumsi yang berbanding terbalik dengan jumlah yang ada, membuat negara Jepang sering mengimpor ikan sidat dari negara-negara lain, termasuk dari Indonesia. Hal seperti inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa budidaya sidat mulai berkembang di Indonesia.
Mengeliatnya usaha budidaya ikan sidat, diiringi juga dengan berkembangnya teknik budidaya ikan sidat. Salah satu cara yang efektif untuk membudidayakan ikan sidat di lingkungan sekitar kita yaitu dengan memanfaatkan terpal. Memulai membudidayakan ikan sidat di kolam terpal, termasuk salah satu cara yang mudah untuk dipelajari.
Mengenal Jenis Sidat
7 dari 18 jenis sidat di dunia terdapat di Indonesia. Namun diantara 7 jenis itu hanya 2 jenis yang paling populer dan memiliki potensi besar untuk di budidayakan. Bicolor adalah salah satu jenis sidat yang sumber bibitnya berasal dari Jawa (Sukabumi, Cilacap, Jember) dan bibit terbaik banyak ditemukan di sekitar Pelabuhan Ratu, sukabumi, Jawa Barat. Sidat yang memiliki warna hitam kecoklatan polos ini juga sering disebut dengan sidat anjing yang sangat diminati orang Jepang.
Sementara itu jenis sidat lain yang yang tak kalah populer adalah dari jenis marmorata. Sidat jenis ini berwarna hitam kecoklatan dengan corak seperti batik, sering juga disebut dengan sidat kembang. Sumber bibit umumnya diluar pulau Jawa seperti Sulawesi dan Kalimantan. Namun bibit terbaik banyak ditemukan di Poso. Menariknya harga jual Marmorata 2-3 kali lebih mahal dari jenis bicolor dan lebih disukai orang Indonesia, Korea dan Taiwan.
Sekilas sidat nampak mirip dengan belut, namun tubuh sidat lebih memanjang dan memiliki kapala berbentuk segi tiga serta memiliki empat sirip dibagian dada yang sering disebut telinga, dubur, punggung dan ekor. Memiliki sisik yang sangat halus dan tubuhnya ditutupi lendir.
Sidat memiliki siklus hidup di laut akan memijah dan akan berpindah ke muara dan hidup di sungai sejak menetas hingga dewasa. Saat migrasi inilah bibit sidat di tangkap di genangan air payau hingga sungai untuk kemudian dibesarkan di kolam pembesaran dan diberi pakan secara intensif hingga umur dewasa dan siap dijual ke pihak eksportir.
Budidaya Sidat di Kolam Terpal
Membudidayakan ikan sidat memang tidak terlalu sulit, namun kita perlu memperhatikan trik dan strategi cara beternak jenis ikan sidat ini. Untuk areanya, kita dapat memanfaatkan area halaman rumah yang tersedia. Sedangkan untuk kolam yang akan digunakan untuk budidaya ikan ini, kita dapat dengan mudah menggunakan kolam terpal. Tentu membuat kolam terpal tidak serumit dan semahal membuat kolam permanen, selain itu, kolam terpal juga memiliki banyak keunggulan. Selain mengetahui cara dan teknik budidaya, kita juga perlu tahu cara membuat kolam dan seluk beluknya.
Keunggulan Kolam Terpal untuk Budidaya Ikan Sidat jika dibandingkan dengan kola jenis lainnya antara lain:
- Temperature air yang ada di dalam kolam terpal ini cenderung stabil,
- Hasil budidaya sidat di kolam terpal cenderung tidak berbau tanah,
- Jenis kola mini sesuai untuk area yang kekurangan air,
- Pemanenan sidat akan cenderung lebih mudah,
- Biaya pembuatan kolam cenderung lebih rendah,
- Mudah dibersihkan.
Kolam terpal untuk budidaya sidat dapat dibuat dengan ukuran sekitar 2x7x0,7 meter. Pompa dapat digunakan untuk membuat air mengalir dan sebaiknya air yang digunakan adalah air sungai sesuai dengan habitat asli dari ikan sidat. Kedalaman kolam yang ideal adalah 40 cm. Untuk memberikan suplai oksigen yang optimal kolam dapat diaerasi dengan menggunakan blower.
Tahap-tahap Pembesaran Sidat
Dalam budidaya sidat, biasanya terbagi menjadi 3 tahapan yaitu tahap pendederan 1, pendederan 2, dan tahap pembesaran (konsumsi). Tahapan ini diklasifikasikan agar memudahkan dan mempercepat pertumbuhan ikan sidat yang dipelihara.
Dikarenakan hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa memijahkan ikan sidat, maka kebutuhan bibit ikan sidat hanya tergantung pada hasil tangkapan dari alam. Bentuk bibit sidat hampir menyerupai sidat dewasa. Benih sidat terlihat transparan atau lebih dikenal dengan nama glass eel.
a. Tahap Pendederan I.
Tahap pendederan I merupakan tahap pengenalan dan sekaligus adaptasi awal benih ikan sidat dari alam supaya dapat dipelihara dalam ekosistem buatan dan pakan yang homogen atau pakan buatan. Pemeliharan pada tahap ini bertujuan untuk memelihara glass ell sampai menjadi benih ikan sidat berukuran elver.
Glass eel yang dipelihara umumnya dari jenis Anguilla bicolor dan Anguilla marmorata. Glass ell untuk jenis Anguilla bicolor berasal dari pantai selatan Jawa sedangkan Anguilla marmorata berasal dari Poso Sulawesi Tengah dan Tatelu. Berat glass ell yang ditebar berukuran 0,17 gr/ekor dengan kepadatan untuk setiap tempat pemeliharaan 6 ekor / liter air.
Penebaran glass ell dilakukan sesegera mungkin setelah glass ell diterima di tempat pemeliharaan. Dirsarankan untuk melakukan transportasi pada malam hari untuk mengurangi stress oleh tingginya suhu lingkungan selama transportasi apabila dilakukan pada siang hari. Sebelum ditebar ke dalam tempat pemeliharaan glass ell harus diaklimatisasi terlebih dahulu.. Perlakuan tersebut bisa dilakukan dengan cara menempatkan plastik packing sehingga mengapung di atas air media pemeliharaan.
b. Tahap Pendederan II
Setelah glass eel melewati tahap pendederan I maka benih ikan sidat akan berkembang menjadi ukuran elver. Benih ukuran elver kemudian masuk pada tahap pendederan II. Yang mana pada tahap ini merupakan tahap persiapan untuk menghasilkan sidat ukuran fingerling (10 gr/ekor) dan selanjutnya siap di pelihara pada tahapan pembesaran.
c. Tahap Pembesaran
Tahapan terakhir dari kegiatan budidaya ini adalah pembesaran. Tahapan pembesaran bertujuan untuk memperoleh ikan sidat ukuran konsumsi (> 200 gr/ekor). Produktifitas ikan sidat tergolong bagus. Untuk satu ton benih, diperkirakan bisa menghasilkan 5 ton ikan sidat. Semakin lama banyak orang mengetahui, maka semakin banyak investor yang berkeinginan membudidayakan ikan sidat, sebab, budidaya ikan sidat dipastikan menguntungkan.
Kebutuhan Pakan
Pakan yang diberikan untuk ikan sidat adalah pakan buatan berbentuk pasta yang mengandung protein minimal 47%, lemak 10%, serat kasar 8%, BETN 8% dan Abu 25%. Pakan diberikan sebanyak 3% dari berat total ikan Konvensi pakan sebesar 1,96.Dengan konvensi tersebut akan diperoleh laju pertumbuhan rata-rata 1,46% dengan mortalitas 9,64%.
Masa Pemeliharaan dan Panen.
Pemeliharaan ikan sidat pada kolam terpal dilakukan selama 7-8 bulan. Masa panen dapat dilakukan secara bertahap dimulai pada masa pemeliharaan selama 4 bulan. Ukuran ikan sidat yang dipanen adalah ukuran yang telah mencapai ukuran konsumsi yaitu dengan berat 180-200 gram per/ ekor.

