Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan jumlah pegawai negeri sipil (PNS) di Indonesia saat ini sudah cukup tinggi dan bisa memberatkan anggaran pemerintah dalam penyediaan tunjangan gaji serta pensiun dan asuransi.
Rabu, 11 Mei 2011
Peternakan ikan gurame mulai ditinggalkan para pembudidaya di Purbalingga, Jawa Tengah, karena harganya anjlok dan rentan terhadap penyakit. Mereka kini beralih membudidayakan ikan nila dan lele yang perputaran uangnya lebih cepat serta lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purbalingga, Siswanto, Senin (9/5), mengatakan, banyaknya persoalan yang dialami dalam budidaya gurame menyebabkan para peternak ikan berpikir ulang. "Harga gurame sedang tidak bagus, padahal masa pembesarannya lama sehingga ongkos produksinya relatif lebih tinggi. Belum lagi penyakitnya juga banyak sehingga banyak benih yang mati," ujarnya.
Harga ikan gurame di Purbalingga yang sebelumnya Rp 28.000 per kilogram (kg), sejak akhir tahun lalu sempat anjlok sampai menjadi Rp 23.000 per kg. Beberapa hari ini harga kembali naik hingga menjadi Rp 25.000 per kg.
Siswanto mengakui, kecenderungan para petani ikan beralih membudidayakan nila dan lele. Selain harganya yang bagus, permintaan pasar untuk dua komoditas itu lebih tinggi. Apalagi kedua jenis ikan ini relatif tahan penyakit dan mudah pemeliharaannya.
Namun pemasaran nila dan lele masih di sekitar lokal Purbalingga. Berbeda dengan gurame yang selama beberapa generasi berhasil menguasai pasar di Jawa Tengah, bahkan hingga ke Jakarta dan Bandung. Dibandingkan dengan produksi daerah lain, gurame hasil budidaya peternak Purbalingga punya kelebihan tak berbau lumpur atau tanah dan dagingnya lebih gurih.
Penurunan minat pembudidaya gurame dikhawatirkan menyebabkan penurunan poduksi gurame sebagai salah satu komoditas perikanan unggulan Purbalingga. Data Dinas Peternakan dan Perikanan Purbalingga menyebutkan, produksi gurame pada 2009 mencapai 2.130 ton, sedangkan pada 2014 ditargetkan 2.600,5 ton.
Lebih prospektif
Ketua Kelompok Tani Ternak Mina Dipakerti I, Kecamatan Bukateja, Purbalingga, Umar Thoyib, mengatakan, komoditas lele memang sudah lama diminati petani, terlebih lagi dengan menjamurnya warung makan pecel lele. Masyarakat juga lebih suka ikan lele, karena harganya lebih terjangkau dibandingkan dengan gurame.
Saat ini, harga ikan lele berkisar Rp 15.000-Rp 16.000 per kg, sedangkan ikan nila Rp 17.000-Rp 18.000 per kg. "Ikan nila di kalangan para pembudidaya memang sedang diminati, karrena perputaran produksinya lebih cepat. Ini yang menarik bagi petani," tambahnya.
Menurut Umar, prospek bisnis ikan lele dan nila memang relatif semakin bagus. Namun dua jenis ikan tersebut sangat bergantung pada jenis pakan pelet. Pada gurame, pelet bisa diganti dengan daun keladi, sehingga dampak buruk akibat fluktuasi harga pakan masih dapat diantisipasi.
Mujahid (54), salah satu pembudidaya ikan nila, mengakui, sebelumnya ia sempat beternak gurame. Namun sejak akhir tahun lalu, ia beralih beternak nila karena dari potensi panen gurame sebanyak 20 ton pada bulan Desember lalu, sekitar 70 persennya mati terserang parasit. Ikan gurame lebih banyak terjangkit parasit jika iklim di sekitarnya dingin.
"Mulanya, pada bagian tertentu kulit berwarna merah, terutama pada bagian dada, perut dan pangkal sirip. Warna ikan juga jadi pucat dan tubuhnya berlendir dan akhirnya mati . Kalau lele dan nila lebih tahan iklim," kata Mujahid.
Sumber: kompas.com
Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purbalingga, Siswanto, Senin (9/5), mengatakan, banyaknya persoalan yang dialami dalam budidaya gurame menyebabkan para peternak ikan berpikir ulang. "Harga gurame sedang tidak bagus, padahal masa pembesarannya lama sehingga ongkos produksinya relatif lebih tinggi. Belum lagi penyakitnya juga banyak sehingga banyak benih yang mati," ujarnya.
Harga ikan gurame di Purbalingga yang sebelumnya Rp 28.000 per kilogram (kg), sejak akhir tahun lalu sempat anjlok sampai menjadi Rp 23.000 per kg. Beberapa hari ini harga kembali naik hingga menjadi Rp 25.000 per kg.
Siswanto mengakui, kecenderungan para petani ikan beralih membudidayakan nila dan lele. Selain harganya yang bagus, permintaan pasar untuk dua komoditas itu lebih tinggi. Apalagi kedua jenis ikan ini relatif tahan penyakit dan mudah pemeliharaannya.
Namun pemasaran nila dan lele masih di sekitar lokal Purbalingga. Berbeda dengan gurame yang selama beberapa generasi berhasil menguasai pasar di Jawa Tengah, bahkan hingga ke Jakarta dan Bandung. Dibandingkan dengan produksi daerah lain, gurame hasil budidaya peternak Purbalingga punya kelebihan tak berbau lumpur atau tanah dan dagingnya lebih gurih.
Penurunan minat pembudidaya gurame dikhawatirkan menyebabkan penurunan poduksi gurame sebagai salah satu komoditas perikanan unggulan Purbalingga. Data Dinas Peternakan dan Perikanan Purbalingga menyebutkan, produksi gurame pada 2009 mencapai 2.130 ton, sedangkan pada 2014 ditargetkan 2.600,5 ton.
Lebih prospektif
Ketua Kelompok Tani Ternak Mina Dipakerti I, Kecamatan Bukateja, Purbalingga, Umar Thoyib, mengatakan, komoditas lele memang sudah lama diminati petani, terlebih lagi dengan menjamurnya warung makan pecel lele. Masyarakat juga lebih suka ikan lele, karena harganya lebih terjangkau dibandingkan dengan gurame.
Saat ini, harga ikan lele berkisar Rp 15.000-Rp 16.000 per kg, sedangkan ikan nila Rp 17.000-Rp 18.000 per kg. "Ikan nila di kalangan para pembudidaya memang sedang diminati, karrena perputaran produksinya lebih cepat. Ini yang menarik bagi petani," tambahnya.
Menurut Umar, prospek bisnis ikan lele dan nila memang relatif semakin bagus. Namun dua jenis ikan tersebut sangat bergantung pada jenis pakan pelet. Pada gurame, pelet bisa diganti dengan daun keladi, sehingga dampak buruk akibat fluktuasi harga pakan masih dapat diantisipasi.
Mujahid (54), salah satu pembudidaya ikan nila, mengakui, sebelumnya ia sempat beternak gurame. Namun sejak akhir tahun lalu, ia beralih beternak nila karena dari potensi panen gurame sebanyak 20 ton pada bulan Desember lalu, sekitar 70 persennya mati terserang parasit. Ikan gurame lebih banyak terjangkit parasit jika iklim di sekitarnya dingin.
"Mulanya, pada bagian tertentu kulit berwarna merah, terutama pada bagian dada, perut dan pangkal sirip. Warna ikan juga jadi pucat dan tubuhnya berlendir dan akhirnya mati . Kalau lele dan nila lebih tahan iklim," kata Mujahid.
Sumber: kompas.com
Posted on Rabu, Mei 11, 2011 by marbowo leksono
Kabupaten Purbalingga sebagai penghasil Gurame terbesar di Jateng, mengalami kelesuan setahun terakhir. Meskipun awal pekan ini gurame mengalami kenaikan harga dari Rp 25 ribu/kg menjadi Rp 28 ribu/kg, petani masih lebih antusias membudidayakan lele dan nila.
Menurut Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan, Siswanto, ada banyak persoalan yang dialami petani gurame yang membuat mereka berpikir ulang untuk tetap membudidayakan gurame.
“Harga gurame sedang tidak bagus, padahal masa pembesarannya lama sehingga ongkos produksinya relatif lebih tinggi, belum lagi penyakitnya juga banyak sehingga banyak yang mati. Kita juga kalah jauh dengan Jawa Timur yang bisa jual lebih banyak dengan harga yang lebih murah,” ujar Siswanto.
Untuk tetap bertahan, kata dia, para petani ikan beralih ke nila dan lele. Nila harganya bagus, lele permintaannya tinggi. Dan yang terpenting, kedua jenis ikan ini relatif tahan penyakit dan mudah pemeliharaannya. Meski demikian, pemasaran nila dan lele masih di sekitar lokal Purbalingga. Berbeda dengan gurame yang selama beberapa generasi berhasil menguasai pangsa pasar di Jawa Tengah, bahkan hingga ke Jakarta dan Bandung.
“Kalau lele memang sudah lama diminati petani, terlebih sekarang banyak warung makan pecel lele. Masyarakat kita juga lebih suka lele karena harganya terjangkau, dagingnya tebal, ukurannya yang tidak terlalu besar membuat seluruh anggota keluarga dapat bagiannya sendiri-sendiri, lebih praktis,” jelasnya.
Siswanto menambahkan, harga lele sebenarnya tidak terlalu baik. Jika semula harga per kg-nya mencapai Rp 15 ribu – Rp 16 ribu, sekarang hanya di kisaran Rp 13 ribu/kg. Bahkan kalau diambil langsung di kolam, kadang hanya dihargai Rp 8 ribu/kg.
“Yang harganya sedang bagus itu nila. Semula sekitar 16 ribu sekarang sudah 17 ribu sampai 18 ribu per kilonya. Nila memang sedang tren, perputarannya cepat, dan ini yang sedang dikejar petani,” imbuhnya.
Prospek lele dan nila memang relatif bagus. Tapi kelemahan keduanya sangat ketergantungan pakan, karena 100% pelet. Sedangkan gurame, pelet bisa disubtitusi dengan daun keladi, sehingga dampak buruk akibat fluktuasi harga pakan masih dapat diantisipasi.
Sumber: Serayu News
Menurut Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan, Siswanto, ada banyak persoalan yang dialami petani gurame yang membuat mereka berpikir ulang untuk tetap membudidayakan gurame.
“Harga gurame sedang tidak bagus, padahal masa pembesarannya lama sehingga ongkos produksinya relatif lebih tinggi, belum lagi penyakitnya juga banyak sehingga banyak yang mati. Kita juga kalah jauh dengan Jawa Timur yang bisa jual lebih banyak dengan harga yang lebih murah,” ujar Siswanto.
Untuk tetap bertahan, kata dia, para petani ikan beralih ke nila dan lele. Nila harganya bagus, lele permintaannya tinggi. Dan yang terpenting, kedua jenis ikan ini relatif tahan penyakit dan mudah pemeliharaannya. Meski demikian, pemasaran nila dan lele masih di sekitar lokal Purbalingga. Berbeda dengan gurame yang selama beberapa generasi berhasil menguasai pangsa pasar di Jawa Tengah, bahkan hingga ke Jakarta dan Bandung.
“Kalau lele memang sudah lama diminati petani, terlebih sekarang banyak warung makan pecel lele. Masyarakat kita juga lebih suka lele karena harganya terjangkau, dagingnya tebal, ukurannya yang tidak terlalu besar membuat seluruh anggota keluarga dapat bagiannya sendiri-sendiri, lebih praktis,” jelasnya.
Siswanto menambahkan, harga lele sebenarnya tidak terlalu baik. Jika semula harga per kg-nya mencapai Rp 15 ribu – Rp 16 ribu, sekarang hanya di kisaran Rp 13 ribu/kg. Bahkan kalau diambil langsung di kolam, kadang hanya dihargai Rp 8 ribu/kg.
“Yang harganya sedang bagus itu nila. Semula sekitar 16 ribu sekarang sudah 17 ribu sampai 18 ribu per kilonya. Nila memang sedang tren, perputarannya cepat, dan ini yang sedang dikejar petani,” imbuhnya.
Prospek lele dan nila memang relatif bagus. Tapi kelemahan keduanya sangat ketergantungan pakan, karena 100% pelet. Sedangkan gurame, pelet bisa disubtitusi dengan daun keladi, sehingga dampak buruk akibat fluktuasi harga pakan masih dapat diantisipasi.
Sumber: Serayu News
Posted on Rabu, Mei 11, 2011 by marbowo leksono
Langganan:
Komentar (Atom)
