Kabupaten Purbalingga sebagai penghasil Gurame terbesar di Jateng, mengalami kelesuan setahun terakhir. Meskipun awal pekan ini gurame mengalami kenaikan harga dari Rp 25 ribu/kg menjadi Rp 28 ribu/kg, petani masih lebih antusias membudidayakan lele dan nila.
Menurut Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan, Siswanto, ada banyak persoalan yang dialami petani gurame yang membuat mereka berpikir ulang untuk tetap membudidayakan gurame.
“Harga gurame sedang tidak bagus, padahal masa pembesarannya lama sehingga ongkos produksinya relatif lebih tinggi, belum lagi penyakitnya juga banyak sehingga banyak yang mati. Kita juga kalah jauh dengan Jawa Timur yang bisa jual lebih banyak dengan harga yang lebih murah,” ujar Siswanto.
Untuk tetap bertahan, kata dia, para petani ikan beralih ke nila dan lele. Nila harganya bagus, lele permintaannya tinggi. Dan yang terpenting, kedua jenis ikan ini relatif tahan penyakit dan mudah pemeliharaannya. Meski demikian, pemasaran nila dan lele masih di sekitar lokal Purbalingga. Berbeda dengan gurame yang selama beberapa generasi berhasil menguasai pangsa pasar di Jawa Tengah, bahkan hingga ke Jakarta dan Bandung.
“Kalau lele memang sudah lama diminati petani, terlebih sekarang banyak warung makan pecel lele. Masyarakat kita juga lebih suka lele karena harganya terjangkau, dagingnya tebal, ukurannya yang tidak terlalu besar membuat seluruh anggota keluarga dapat bagiannya sendiri-sendiri, lebih praktis,” jelasnya.
Siswanto menambahkan, harga lele sebenarnya tidak terlalu baik. Jika semula harga per kg-nya mencapai Rp 15 ribu – Rp 16 ribu, sekarang hanya di kisaran Rp 13 ribu/kg. Bahkan kalau diambil langsung di kolam, kadang hanya dihargai Rp 8 ribu/kg.
“Yang harganya sedang bagus itu nila. Semula sekitar 16 ribu sekarang sudah 17 ribu sampai 18 ribu per kilonya. Nila memang sedang tren, perputarannya cepat, dan ini yang sedang dikejar petani,” imbuhnya.
Prospek lele dan nila memang relatif bagus. Tapi kelemahan keduanya sangat ketergantungan pakan, karena 100% pelet. Sedangkan gurame, pelet bisa disubtitusi dengan daun keladi, sehingga dampak buruk akibat fluktuasi harga pakan masih dapat diantisipasi.
Sumber: Serayu News
Rabu, 11 Mei 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Blog Archive
Kiriman Populer
-
Pokdakan Mina Lancar adalah salah satu kelompok pembudidaya ikan di desa Gembong, kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga yang telah dik...
-
a. Virus Virus adalah organism penyebab dan sumber penyakit yang sangat kecil, karena memiliki ukuran tubuh antara 20-300 nanometer, sehing...
Total Tayangan Halaman
Diberdayakan oleh Blogger.
0 comments:
Posting Komentar