Semenjak berdirinya pada tahun 2008, pokdakan Mina Lancar tercatat hanya menerima 2 kali bantuan dari pemerintah, dan yang terakhir adalah pada tahun 2012, berupa program penguatan kelembagaan kelompok pelaku utama dari Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kab. Purbalingga. Program tersebut merupakan program dekonsentrasi dari kementrian KKP melalui set-Bakorluh Jateng.
Melalui kegiatan penguatan kelembagaan kelompok pelaku utama tersebut pokdakan mina lancar hanya menerima bantuan berupa papan nama kelompok, buku-buku administrasi, dan bantuan permodalan berupa uang yang dipergunakan untuk percontohan budidaya.
Dari bantuan permodalan yang dibilang tidak seberapa tersebut ternyata dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mengusahakan pembesaran lele dengan sistem bioflok. Bukan tanpa hambatan ketika pokdakan mina lancar mengusahakan pembesaran lele dengan sistem bioflok.Selain secara teknis teknologi ini adalah teknologi yang relatif baru untuk budidaya lele, sarana dan prasarana yang ada juga sangat minim.
Kendala utama yang dihadapi saat budidaya dengan sistem bioflok pada saat itu adalah terjadinya mortalitas yang tinggi saat benih berumur 7-15 hari setelah tebar. Hingga Saat panen tiba, tingkat kelulushidupannya hanya sekitar 60% dengan FCR 1.02.
Hasil yang jelek tidak lantas menjadikan pembudidaya berputus asa, hal ini justru membuat mereka merasa tertantang. Oleh karena itu, diputuskan untuk membuat 1 unit kolam lagi. Dengan bermodalkan 2 unit kolam bundar, kelompok mulai mempesiapkan siklus berikutnya.
Pengalaman adalah guru yang paling baik, itulah pepatah yang mungkin tepat bagi pokdakan Mina Lancar. Berdasarkan pengalaman siklus pertama, kelompok melakukan penelusuran dari catatan budidaya mereka. Diskusi panjang seringkali terjadi antar anggota dan penyuluh saat pertemuan rutin.
| Gambar suasana diskusi yang terjadi saat pertemuan rutin pokdakan Mina Lancar, Gembong |
Dari diskusi tersebut, akhirnya ditemukan kesimpulan sementara yang dianggap layak untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Akhirnya satu kolam diputuskan untuk pemeliharaan dengan sistem bioflok yang telah dimodifikasi, dan satu kolam lagi untuk pemeliharaan dengan sistem bioflok sesuai SOP yang lama.
Bagaimanakah hasilnya?
Bersambung.......................
0 comments:
Posting Komentar