Jumat, 30 Agustus 2013

A. PENDAHULUAN

Ikan lele (Clarias.sp) merupakan jenis ikan yang mudah dibudidayakan. Selain karena lebih tahan terhadap cuaca ekstrim, ikan lele juga termasuk ikan pertumbuhannya sangat cepat. Dengan alasan seperti itu, banyak pembudidaya memilih ikan lele sebagai komoditas untuk dibudidayakan.

Lele termasuk ikan yang mudah untuk beradaptasi sehingga ikan ini bisa dipelihara di berbagai media pemeliharaan, salah satunya adalah di kolam terpal. Kolam terpal adalah kolam yang dasar maupun sisi dindingnya di buat dari terpal. Dari mulai proses pemijahan sampai pembesaran ikan lele bisa dilakukan pada kolam terpal.

Ikan lele yang hidup di alam memijah pada musim penghujan dari bulan Mei sampai Oktober. Ikan lele juga dapat memijah sewaktu-waktu sepanjang tahun, apabila keadaan air kolam sering berganti. Pemijahan juga di pengaruhi oleh makanan yang diberikan. Makanan yang bermutu baik akan meningkatkan vitalitas ikan sehingga ikan lele lebih sering memijah.

Apabila telah dewasa, lele betina akan membentuk telur di dalam indung telurnya. Sedangkan lele jantan membentuk sperma atau mani. Bila telur-telurnya telah berkembang maksimum yaitu mencapai tingkat yang matang untuk siap dibuahi maka secara alamiah ikan lele akan memijah atau kawin.

B. PEMIJAHAN SECARA ALAMI

Pemijahan alami pada hakekatnya adalah proses pembuahan sel telur oleh sel sperma tanpa melalui perantara/ bantuan tangan manusia. Pembuahan dilakukan secara alami dengan menempatkan pasangan induk dewasa di dalam wadah kolam/ terpal yang telah dimanipulasi. Adapun persiapan untuk melakukan pemijahan lele secara alami dapat dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu:

1. Persiapan Kolam Pemijahan

Kolam pemijahan dibuat diatas tanah dengan menggunakan terpal serta bambu sebagai dindingnya. Kolam pemijahan untuk sepasang induk biasanya berukuran 2 x 4 m dengan ketinggain dinding kolam kurang lebih 1 meter. Ketinggian air optimum berada disekitar 25-30 cm. Biasanya kolam dengan ukuran 2 x 4 m, induk yang digunakan dalam sekali pemijahan adalah 6 ekor, terdiri dari 2 ekor jantan dan 4 ekor betina.

2. Pembuatan Kakaban

Kakaban dibuat dengan  menggunakan ijuk yang telah dibersihan dari lidi-lidi besarnya. Pembuatan kakaban dimaksudkan sebagai media untuk menempelnya telur hasil pemijahan agar mudah dalam pemindahannnya.
Selain itu pemasangan ijuk juga dimaksudkan agar induk tidak mengalami luka saat terjadi kejar-kejaran sebelum memijah.

Cara membuat kakaban adalah dengan memotong-motong ijuk kurang lebih sepanjang 30 - 40 cm kemudian dipaku bersama dua bilah bambu yang sudah diserut halus. Panjang kakaban dibuat 1,5 m dan untuk kolam ukuran 2m x 4m dibutuhkan 14 - 18 buah kakaban.
Gambar kolam pemijahan yang telah dipasangi kakaban
3. Persiapan Kolam Penetasan

Kolam penetasan dibuat dengan ukuran 4m x 3m dengan ketinggian dinding 50cm, kolam ini juga dibuat dengan menggunakan terpal agar lebih mudah. Untuk satu kali pemijahan dibutuhkan 5 buah kolam penetasan, ini disebabkan telur yang dihasilkan sangat banyak sehingga harus dibagi ke beberapa kolam penetasan untuk menghindari kepadatan yang berlebihan sehingga mengurangi mortalitas.

4. Persiapan Induk

Induk yang akan dipijahkan harus dipersiapkan terlabih dahulu dengan cara memberikan pakan dengan kadar protein tinggi secara rutin minimal 3-5% dari total berat induk per hari.

Pemberian protein tinggi dimaksudkan agar terjadi pematangan gonad yang sempurna, sehingga akan tercapai tingkat fekunditas yang tinggi.

Ciri indukan yang siap untuk dipijahkan antara lain untuk betina adalah alat kelamin sudah berwarna merah jambu ataupun kalau itu tidak begitu kelihatan tinggal dipegang perutnya kalau terasa lembek berarti sudah siap. Untuk yang jantan juga demikian, bila alat kelaminnya sudah kelihatan berwarna merah muda dan menonjol atau bisa juga dilihat dari siripnya bagian atas yang berdiri.

C. PROSES PELAKSANAAN PEMIJAHAN

Proses pelaksanaan pemijahan diawali dari pembersihan kolam pemijahan. Setelah kolam pemijahan siap, maka akan lebih baik jika kakaban dipasang terlebih dahulu di dasar kolam sebelum diisi dengan air.

1. Pemasangan Kakaban

Susun kakaban membujur mengikuti sisi terpanjang kolam pemijahan. Atur kakaban secara berjejer, rapat dan rapi. Jangan biarkan celah kosong diantara kakaban agar semua telur dapat menempel di ijuk. Jadi, seluruh dasar kolam harus tertutup kakaban. Agar tidak mengapung, beri pemberat diatas kakaban  dengan batu atau pipa paralon yang diisi dengan adonan semen.

2. Pengisian Air

Setelah kakaban tertata dengan rapi dan rapat maka dilanjutkan dengan mengisi air ke dalam kolam pemijahan. Sumber air bisa dari sumur maupun saluran irigasi. Biarkan pengisian ari secara terus menerus hingga ketinggia air sekitar 25-30 cm.

3. Pemindahan Induk

Pemindahan induk ke dalam kolam pemijahan dilakukan pada wa ktu sore hari, sekitar pukul 4. Induk yang telah diseleksi dan memenuhi syarat untuk dipijahkan dimasukkan ke dalam kolam pemijahan secara hari-hari dan tidak kasar agar tidak menyebabkan stres. Cara mengambil indukan yang siap pijah adalah dengan mengambilnya satu-persatu dari ember atau bak plastik menggunakan seser. Tenggelamkan seser ke dalam kolam pemijahan dan biarkan induk keluar sendiri dari seser.

Biasanya, induk lele yang diletakkan dalam kolam pemijahan akan memijah pada malam harinya. Berdasarkan pengalaman, jika malam harinya induk lele memijah, keesokan harinya sekitar pukul 4 pagi telur sudah memnuhi kakaban.

Setelah proses pemijahan selesai, induk lele sangkuriang segera dipindahkan kebali ke kolam pemeliharaan induk. Namun pemindahan tersebut dilakukan setelah telur-telur dipindahkan ke kolam pemetasan. Induk yang sudah dipijahkan akandapat dipijahkan lagi setelah sekitar 20 hari, jika asupan makanannya terpenuhi.

D. PENETASAN TELUR DAN PEMELIHARAAN LARVA


Setelah induk lele memijah dan menghasilkan telur, langkah berikutnya adalah proses penetasan telur. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan pemeliharaan larva hingga akhirnya menghasilkan benih yang siap jual.

1. Persiapan Kolam Penetasan Telur

Kolam untuk kegiatan penetasa telur dianjurkan untuk dipisahkan dengan kolam pemijahan. Sehari sebelum pemijahan, kolam penetasan telur harus sudah diisi air. Untuk desinfektan, gunakan garam dapur sebanyak 3 sendok makan yang sebelumnya sudah dilarutkan dalam lima liter air bersih. Ketinggian air kolam penetasan di lokasi dengan ketinggia 1200 dpl cukup 10 cm. Semakin rendah dari permukaan laut, maka ketinggian air harus ditambah.

2. Penetasan Telur

Untuk mengetahui apakah induk lele sudah bertelur, dapat dilakukan dengan memeriksa kakaban yang di pasang di dalam kolam pemijahan. Jika kakaban telah ditempeli telur, maka induk sudah berhasil memijah, langkan berikutnya adalah memindahkan kakaban ke kolam penetasan. Waktu yang tepat untuk pemindahan kakaban adalah pada sore harinya sekitar pukul 4 sore. Selang 15 jam kemudian, atau sekitar pukul 07.00, telur-telur tersebut biasanya sudah menetas.

Gambar kakaban yang telah ditempeli telur, siap dipindahkan ke kolam penetasan
3. Pemeliharaan Larva

Proses pemeliharaan larva dimulai semenjak telur menetas hingga menghasilkan lele dengan ukuran siap tebar. Pemeliharaan benih dan larva dilakukan di kolam penetasan telur, larva yang baru menetas tidak perlu diberi makan selama 3 hari, kemudian pada hari keempat, setelah persediaan cadangan makanan berupa kuning telur habis, pemberian makan untuk larva dapat dimulai. Pakan yang sesuai untuk larva adalah cacing sutra/ rambut yang diberikan dalam keadaan hidup. Pemberian cacing sutra dilakukan kurang lebih selama 11 hari. Setelah itu, jenis pakan yang diberikan disesuaikan dengan ukuran benih.

E. PENYORTIRAN BENIH

Penyortiran benih merupakan kegiatan menyeleksi benih sesuai dengan ukuran yang diharapkan. Penyortiran benih bertujuan untuk mendapatkan keseragaman ukuran benih. Lele termasuk jenis ikan yang memiliki sifat kanibal, sehingga diusahakan agar dalam satu kolam ukuran benih yang dipelihara seragam untuk menghindari lele yang lebih besar memakan temannya sendiri saat sedang lapar.

Penyortiran benih umumnya dilakukan 2 kali, Penyortiran pertama dilakukan saat benih berumur 20 hari. Pada penyortiran pertama, biasanya akan terdapat 3 ukuran benih, yaitu ukuran 2-3 cm, 3-4 cm, dan 5-6 cm. Karena itu digunakan 3 ukuran baskom sortir.

Untuk menghemat waktu, penyortiran bisa dilakukan dengan cara bertumpuk. Yaitu dengan menyusun baskom sortir secara bertumpuk dari ukuran terkecil hingga ukuran terbesar. Dimana ukuran terbesar diletakkan dibagian paling atas. Beri ganjalan diantara baskom sortir agar terdapat ruang antar baskom sehingga benih bisa turun.
Gambar baskom sortir, dari kiri ke kanan ukuran 3-4 cm, 3-5 cm dan 4-6 cm
Penyortiran dapat dilakukan untuk 2 kolam terlebih dahulu. Angkat semua benih, sehingga kedua buah kolam tersebut kosong. Benih hasil sortir biasanya ditampung terlebih dahulu di dalam bokor hingga proses penyortiran selesai.

Usahakan air dalam kedua buah kolam tidak diganti sama sekali, setelah proses penyortiran selesai maka akan didapat benih dengan ukuran 2-3 cm, 3-4 cm, dan 5-6 cm. Benih ukuran 2-3 cm dan 3-4 cm dapat dimasukkan kembali kedalam kedua kolam tersebut. Sedangkan untuk benih dengan ukuran 5-6 cm dapat dimasukkan ke dalam kolam tersendiri yang sehari atau 3 hari sebelumnya sudah dipersiapkan dan diisi dengan air bersih.

Untuk penyortiran kedua dapat dilakukan pada saat benih berumur sekitar 30 hari. Atau sekitar 10 hari sejak penyortiran pertama. Teknis penyortiran kedua hampir sama dengan cara penyortiran pertama, penyortiran kedua difokuskan untuk mendapatkan benih dengan ukuran 3-4 cm dan 5-6 cm.

Untuk mendapatkan benih dengan ukuran yang lebih besar dari 5-6 cm maka penyortiran harus dilakukan kembali, akan tetapi pada umumnya benih dengan ukuran 5-6 cm sudah ditunggu oleh pasar, kecuali kalau ada permintaan untuk benih dengan ukuran besar dari pembeli maka penyortiran ketiga dapat dilakukan.

Posted on Jumat, Agustus 30, 2013 by marbowo leksono

No comments

Kamis, 15 Agustus 2013

A.    PENDAHULUAN

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan spesies ikan yang berasal dari kawasan Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya di Afrika. Secara anatomis, bentuk tubuhnya memanjang, pipih kesamping, dan warna putih kehitaman. Di Indonesia, jenis ikan ini merupakan ikan konsumsi air tawar yang banyak dibudidayakan setelah Ikan Mas (Cyrprinus Carpio).

Ikan nila telah dibudidayakan di lebih dari 93 negara dan saat ini, ikan ini bahkan telah tersebar ke Negara beriklin tropis maupun subtropis. Sedangkan pada wilayah beriklim dingin ikan ini tidak dapat hidup dengan baik.

Nila disukai oleh banyak kalangan karena mudah dipelihara, dapat dikonsumsi oleh segala lapisan serta rasa daging yang enak dan tebal. Tekstur daging Ikan Nila memiliki ciri tidak ada duri kecil dalam dagingnya. Apabila dipelihara di tambak akan lebih kenyal, dan rasanya lebih gurih, serta tidak berbau lumpur. Oleh karena itu, Ikan Nila layak untuk digunakan sebagai bahan baku dalam industry fillet dan bentuk-bentuk olahan lain. Ekspor Nila dari Indonesia umumnya dalam bentuk frozen fille (600 g) dan surimi.

Nila umumnya matang kelamin mulai umur 5-6 bulan. Ukuran matang kelamin berkisar 30-350 g. Rasio betina : jantan berkisat antara (2-5) : 1, keberhasilan pemijahan berkisar 20-30% per minggu dengan jumlah telur antara 1-4 butir/gram induk. Kelulushidupan (Survival Rate-SR) dari telur menjadi benih (ukuran < 5 gram) dapat mencapai 70-90%. SR fingerling menjadi ikan konsumsi berkisar 500-600 g dapat mencapai 70-98%. Nila mempunyai pertumbuhan cepat, rataan pertumbuhan harian (Average Daily Growth-ADG) dapat mencapai 4,1 gram/hari.

Nila mempunyai sifat omnivora (pemakan nabati maupun hewani), sehingga usaha budidayanya sangat efisien dengan biaya pakan yang rendah. Nilai Food Convertion Ratio (FCR) cukup baik, berkisar 0.8-1.6. Artinya, 1 kilogram Nila konsumsi dihasilkan dari 0.8-1.6 KG pakan, sebagai berbandingan nilai efisiensi pakan atau konversi pakan (FCR), ikan Nila yang dibudidayakan di tambak atau keramba jaring apung adalah 0.5-1.0.

Pembenihan ikan Nila dapat dilakukan secara missal di perkolaman secara terkontrol dalam bak-bak beton. Pemijahan secara missal ternyata lebih efisien, karena biaya yang dibutuhkan relatif lebih kecil dalam memproduksi larva untuk jumlah yang hampir sama. Pembesaran ikan nila dapat dilakukan di Keramba Jaring Apung (KJA), kolam, kolam air deras, perairan umun baik sungai, danau maupun waduk dan tambak.

Budidaya Nila secara monokultur di kolam rata-rata produksinya adalah 25.000 kg/ha/panen, di keramba jaring apung 1.000 kg/unit/panen (200.000 kg/ha/penen), dan ditambak sebanyak 15.000 kg/ha/panen. Budidaya Ikan Nila di tambak, pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan di kolam atau di jaring apung. Nila ukuran 5-8 cm yang dibudidayakan di tambak selama 2.5 bulan dapat mencapai 200 g, sedangkan di kolam untuk mencapai ukuran yang sama diperlukan waktu 4 bulan.

B.    PEMBENIHAN

Syarat lokasi kolam pembenihan adalah harus terdapat sumber air yang memadai secara teknis dan tersedia sepanjang tahun. Setidaknya, pada pemeliharaan benih, debit air yang dibutuhkan berkisar 0.5 liter/detik. Nila dapat hidup pada suhu 25-30 derajat Celcius; pH air 6.5-8-5; oksigen terlarut > 4 mg/I dan kedar ammoniak (NH3)< 0.01 mg/I; kecerahan kolam hingga 50 cm. selain itu ikan Nila juga hidup dalam perairan agaktenang dan kedalaman yang cukup.

Gambar pengeringan dan pengolahan dasar kolam

Pembenihan ikan Nila dilakukan dikolam pembenihan dengan konstruksi dari beton/semen ataupun tanah. Bentuk kolam empat persegi panjang sebanyak 4 unit. Kapasitas untuk masing-masing wadah/bak sebesar 500 m2. Aspek pembenihan dan produksi benih terdiri dari:

a) Induk

Bobot induk yang akan dipijahkan minimal sebesar 0,4 kg. Adapun perbandingan jumlah induk jantan dan betina adalah 1 : 2. Padat penebaran induk, untuk tiap pasang induk atau 3 ekor ikan, setidaknya disediakan lahan minimal 4 m2.

Untuk perawatan induk maka harus disediakan pakan tambahan berupa pellet, dedak, dan ampas tahu. Penambahan pakan alami dikolam dapat dilakukan dengan cara menggantungkan karung pupuk di bagian kolam tertentu, dengan terlebih dahulu melubaginya. Cara ini dimaksudkan agar pembusukan yang berlangsung di dalam karung tidak mengganggu kaulitas air kolam. Setelah beberapa hari biasanya disekitar karung akan tumbuh plankton.

b) Pakan

Pakan induk Nila adalah pakan buatan dapat berupa pellet dengan kadar protein 28-35% dengan kendungan lemeak tidak lebih dari 3%. Pada pemeliharaan induk, pembentukan telur pada ikan memerlukan bahan protein yang cukup di dalam pakannya sehinga perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan taoge dan daun-daunan/sayuran yang diris-iris.

Pemberian pellet untuk pemeliharaan induk sekurang-kurangnya adalah 3% berat biomass per hari. Untuk mengetahui berat biomassa ikan, maka diambil sempel 10 ekor ikan, ditimbang, dan dirata-ratakan beratnya. Berat rata-rata yang diperoleh dikalikan dengan jumlah seluruh ikan di kolam.

c) Peralatan

Peralatan pendukung yang diperlukan dalam pemijahan, penetasan dan pemeliharaan larva adalah alat pengukuran suhu air berupa thermometer. Kontrol terhadap suhu air diperlukna guna memastikan bahwa kolam dalam kondisi yang baik untuk pemeliharaan induk.

Sedangkan peralatan lapangan yang diperlukan adalah ember, baskom, gayung, selang plastik, saringan, plankton net, serok, timbangan, aerasi dan instalasinya. Untuk pendederan peralatan yang dibutuhkan adalah ember, baskom, saringan, serok, lambit, waring, cangkul, hapa penampung benih, timbangan
dll.

d) Produksi larva

Persiapan produksi larva dilakukan dengan mengeringkan dasar kolam selama kurang lebih 3 hari. Lubang-lubang pada pematang kolam ditimbun dengan tanah. Pengapuran diperlukan untuk memperbaiki dan pH tanah dan mematikan bibit penyakit maupun hama ikan. Pemupukan dilakukan untuk menyediakan makanan alami ikan bagi benih yang baru menetas. Selanjutnya, kolam diairi hingga air mencapai ketinggian 50-70 cm.

Proses produksi larva dilakukan dengan pemeliharaan induk. Proses pemijahan alami pada suhu air berkisar 25-30 derajat celcius , keaseman (pH) 6.5-7.5, dan ketinggian air 0.6-1m. Pemasukan induk ikan ke dalam kolam dilakukan pada pagi dan sore hari karena suhu tidak tinggi, dan untuk menjaga agar induk tidak stress, induk dimasukkan satu persatu. Induk jantan akan mulai menggali sarang dan segera memburu induk betina untuk melakukan pelepas telur, yang dengan cepat dibuahi oleh induk jantan dengan cara menyemprotkan spermanya.

Selesai pemijahan, induk betina menghisap telur-telur yang telah dibuahi untuk dierami di dalam mulutnya. Induk jantan akan meninggalkan induk betina, membuat sarang dan kawin lagi. Anakan yang telah keluar dari mulut induk segera dipanen dan dipisahkan tersendiri pada bak pemeliharaan larva. Panen benih sudak boleh dilakukan dengan menggunakan serokan/waring dan ditampung dalam ember/baskom untuk dipindahkan ke kolam pendederan.

Penangkapan sebaiknya dilakukan pada pagi hari di saat benih biasanya berkumpul di permukaan air. Bila matahari makin tinggi dan suhu air meningkat biasanya benih akan berada di bagian dasar kolam mencari tempat yang sejuk. Penangkapan biasanya beberapa kali dan membutuhkan waktu 2 jam. Masa-masa kritis biasanya berkisar 10 hari, karena benih sangat rentan mengalami kematian, sehingga pemeliharaan harus dilakukan secara hati-hati.

e. Pendederan

Kualitas air media pemeliharaan larva diatur pada suhu 25 – 30 0C, keasaman (pH) 6,5 – 7,5 ketinggian air media 0,6 – 1 m dalam kolam pemeliharaan dengan kapasitas luasan berkisar 500 m2. Padat tebar larva berkisar 150 ekor per m2 dengan waktu pemeliharaan 10 hari. Ukuran panen 1 – 3 cm dengan bobot 1 gram.
Gambar benih nila yang siap ditebar di kolam pendederan

Pemeliharaan benih ukuran 1-3 cm dilakukan pada suhu 30 – 32 0C, keasaman (pH) 6,5 – 7,5 ketinggian air media 20 – 30 cm dalam wadah pemeliharaan dengan kapasitas 500 m2. Ukuran benih tebar 1 – 3 cm, bobot 1 gram dengan padat tebar 50 – 75 ekor per m2. Waktu pemeliharaan 20 hari dengan ukuran panen 3 – 5 cm dan bobot 2,5 gram.

Pendederan benih dengan ukuran 3-5 cm dilakukan pada suhu 30 – 32 0C, keasaman (pH) 6,5 – 7,5 ketinggian air media 20 – 50 cm dalam wadah pemeliharaan dengan kapasitas 500 m2. Padat tebar benih berada pada kisaran 50 ekor per m2. Waktu pemeliharaan 30 hari, dengan ukuran panen 5 – 8 cm dan bobot 5 gr.

Gambar benih ikan nila dalam kolam pendederan

Kedalaman perairan kolam untuk pendederan nila di kolam tanah adalah 50 – 70 cm. Pakan benih berupa pakan buatan dengan kadar protein berkisar 30%. Persiapan kolam pendederan dilakukan dengan jalan mengeringkan kolam, pengapuran dan pemupukan dengan pupuk kandang ataupun pupuk buatan. Pupuk kandang diberikan sebagai pupuk dasar dengan dosis 1 kg/m2.

Nila sangat menyukai pakan alami berupa plankton, sehingga tujuan pemupukan susulan agar plankton dapat bertahan hidup dengan baik. Pupuk yang digunakan harus mengandung unsur fosfor dan nitrogen maka dianjurkan untuk menggunakan pupuk DSP (Double Superphosphat) atau TSP (Triple Superphospat) dan urea. Untuk kolam seluas 200 m2 dosis pupuk yang diperlukan 2 kg DSP atau TSP dan 2 kg urea. Pupuk diberikan setelah kolam terisi air.

Posted on Kamis, Agustus 15, 2013 by marbowo leksono

No comments

Rabu, 14 Agustus 2013

A.    PERSIAPAN KOLAM

Agar kegiatan pembesaran dapat berjalan dengan lancar maka kolam pembesaran perlu dipersiapkan dengan cara memperbaiki pematang, memeriksa dan membersihkan saluran pemasukan air dan saluran pembuangan air, pintu pematang air, pintu pembuangan air, caren dan kowean (sering pula disebut kemalir dan kobakan). Setelah proses perbaikan kolam dan pembersihan saluran air selesai, maka tahapan berikutnya adalah pengolahan dasar kolam dengan melakukan pemupukan dan pengapuran.

Contoh kambar kolam yang disekitarnya ditanami pohon sente sebagai salah satu bahan pakan ikan

Contoh gambar bak control air, untuk mengontrol kualitas air sebelum dimasukkan ke dalam koam pembesaran

Sebelum pengapuran dan pemupukan dilakukan dasar kolma terlebih dahulu dikeringkan. Setelah dasar kolam kering, maka dapat diberikan kapur dengan dosis 100-200 gr/m2 dan pupuk kandang 500-1.000 gr/m2. Pupuk kandang yang cukup baik untuk digunakan adalah kotoran ayam karena memiliki unsur hara yang lengkap untuk menumbuhkan pakan alami, mudah terurai dan kandungan amoniaknya tidak terlalu tinggi.

Pemupukan dilakukan untuk menyuburkan tanah sekaligus menumbuhkan pakan alami seperti Fitoplankton, Zooplankton dan Bentos yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan benih ikan gurami. Setelah itu dilakukan pengisian air dan dibiarkan selama 7 hari untuk memberi kesempatan pupuk terurai dan menumbuhkan pakan alami bagi benih gurami. Persediaan pakan alami ini dapat memenuhi kebutuhan benih ikan selama 11 s.d 14 hari. Di dasar kolam dekat pintu pemasukan air sebaiknya ditanami ganggang Hydrilla verticilata sebagai tempat berlindung dan mencari makan benih ikan gurami.

B.    PENEBARAN BENIH

Sebelum benih ditebar, terlebih dahulu dilakukan pemilihan benih yang berkualitas untuk menjamin produktifitas ikan yang dipelihara. Dalam pemilihan benih, hal yang perlu diperhatikan antara lain :
  • Kondisi benih sehat, tidak cacat/luka dan gerakan lincah
  • Warna sisik tidak terlalu hitam
  • Sisik tubuh lengkap/tidak ada yang lepas
  • Tubuh tidak kaku
  • Ukuran seragam
Penebaran benih dilakukan setelah air kolam sudah siap (berwarna hijau muda) atau kurang lebih 5-7 hari setelah pemupukan. Padat penebaran disesuaikan dengan ukuran benih yang akan dipeliharan. Ukuran benih yang biasa ditebar untuk pembesaran berukuran berat 200-250 gram/ekor dan ditebar dengan kepadatan benih ± 1 -2 kg/m2

Untuk mengurangi stress, penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat suhu udara rendah. Sebelum ditebar, dilakukan penyesuaian suhu air dalam wadah angkut dengan suhu air kolam (proses aklimitasi) dengan cara memasukkan air kolam sedikit demi sedikit secara perlahan ke dalam wadah angkut. Setelah terjadi penyesuaian suhu, wadah angkut dimasukkan ke dalam kolam. Air akan bercampur sedikit demi sedikit dan ikan-ikan akan keluar dan berenang ke tengah kolam.

Gambar benih ikan  berbagai ukuran
Urutan (ki-ka) ukuran 2 jari, bungkus korek, 3 jari, dan tampelan

C.    PEMBERIAN PAKAN

Selama masa pertumbuhannya ikan gurami mengalami perubahan tingkah laku makan (feeding habit) yang sangat signifikan. Larva bersifat karnivora (pemakan daging) sampai dengan ukuran dan umur tertentu, sedangkan juvenil muda bersifat omnivora (pemakan segala), dan setelah ukuran induk menjadi herbivora (pemakan daun). Pola perubahan tersebut terkait dengan pola perubahan enzimatik dalam saluran pencernaannya.

Adapun jenis pakan ikan gurami terdiri dari pakan alami (organik) berupa daun-daunan maupun pakan buatan (anorganik), berupa pelet. Pakan alami yang digunakan antara lain daun sente (Alocasia macrorrhiza (L), Schott), pepaya (Carica papaya Linn), keladi (Colocasia esculenta Schott), ketela pohon (Manihot utililissima Bohl), genjer (Limnocharis flava (L) Buch ), Kimpul (Xanthosoma violaceum Schott), Kangkung (Ipomea reptans Poin), Ubi jalar (Ipomea batatas Lamk), ketimun (Cucumis sativus L), labu (Curcubita moshata Duch en Poir), dadap (Erythrina sp).

Gambar daun sente.
Salah satu pakan ikan gurami yang biasa digunakan

Komposisi makanan yang ideal bagi pertumbuhan ikan adalah makanan yang berkadar protein 40%. Namun untuk efisiensi biaya, persentase pemberian makanan buatan ini hendaknya disesuaikan dengan persediaan makanan yang telah ada dalam kolam. Bila masih cukup banyak, cukup diberikan makanan buatan dengan kadar protein 20-30% saja.

Pada usaha budidaya yang hanya menggunakan pakan daun-daunan (teknologi tradisional) pertumbuhan ikan relatif lambat. Sebagai gambaran, berdasarkan pengalaman pembudidaya pemeliharaan benih ikan ukuran 200 gram dengan hanya diberi pakan daun-daunan saja membutuhkan waktu 1 tahun untuk mencapai ukuran 500 gram, sedangkan jika menggunakan pelet dan daun-daunan hanya membutuhkan waktu 4 bulan untuk mencapai ukuran 500 gram. Sehingga dianjurkan untuk dilakukan kombinasi antara daun-daunan dengan pelet.

Kebutuhan pakan berupa pelet per hari adalah 3% dari berat ikan namun jika pakan berupa daun-daunan kebutuhan pakan perhari sebanyak 5-10% dari berat ikan. Untuk penggunaan pakan secara kombinasi diberikan pelet sebanyak 1,5% per hari dari berat ikan dan hijauan sebanyak 5% per hari dari berat ikan. Pemberian pakan secara teratur dalam jumlah yang tepat dapat menghasilkan pertumbuhan ikan gurami yang optimal. Konversi pakan untuk pemeliharaan dalam kolam adalah 1,5-2%, artinya untuk menghasilkan 1 kg daging ikan memerlukan pakan sebanyak 1,5 kg sampai dengan 2 kg. Untuk memberikan pakan yang tepat sesuai kebutuhan dilakukan sampling berat ikan.

D.    PEMANENAN

Jika pakan yang diberikan cukup dan sesuai anjuran, maka dalam waktu 4 bulan ikan akan mencapai ukuran konsumsi dengan berat 500-700 gram/ekor. Pemanenan sebaiknya dilakukan tanpa menggunakan alat tangkap untuk menghindari kerusakan pada tubuh ikan.
 
Gambar contoh ikan gurami konsumsi

E.    HAMA DAN PENYAKIT

Hama yang biasanya menganggu ikan gurami adalah ikan liar pemangsa seperti gabus (Ophiocephalus striatur BI), belut (Monopterus albus Zueiw), lele (Clarias batrachus L) dan lain-lain. Musuh lainnya adalah biawak (Varanus salvator Dour), kura-kura (Tryonix cartilagineus Bodd), katak (Rana spec), ular dan bermacam-macam jenis burung.

Beberapa jenis ikan peliharaan seperti tawes, mujair dan sepat dapat menjadi pesaing dalam perolehan makanan. Oleh karena itu sebaiknya benih gurami tidak dicampur pemeliharaannya dengan jenis ikan yang lain. Untuk menghindari gurami dari ikan-ikan pemangsa, pada pipa pemasukan air dipasangi serumbung atau saringan ikan agar hama tidak masuk dalam kolam.

Gangguan penyakit dapat berupa penyakit non parasiter dan penyakit parasiter. Gangguan penyakit dapat lebih mudah menyerang ikan gurami pada saat musim kemarau dimana suhu menjadi lebih lebih dingin.
Penyakit non parasiter adalah penyakit yang timbul bukan karena serangan parasit, tapi biasanya bersumber dari faktor lingkungan fisika dan kimia air dan makanan. Penyakit ini bisa berupa pencemaran air karena adanya gas beracun seperti asam belerang atau amoniak, kerusakan akibat penangkapan atau kelainan tubuh karena keturanan. Untuk mengetahui gangguan yang dialami oleh ikan yang dipelihara dapat diketahui dari pengamatan terhadap ikan. Bila ada gas beracun dalam air, ikan biasanya lebih suka berenang pada permukaan air untuk mencari udara segar.

Penyakit parasiter diakibatkan parasit. Parasit adalah hewan atau tumbuh-tumbuhan yang berada pada tubuh, insang, maupun lendir inangnya dan mengambil manfaat dari inang tersebut. Parasit dapat berupa udang renik, protozoa, cacing, bakteri, virus, jamur dan berbagai mikroorganisme lainnya. Berdasarkan letak penyerangannya parasit dibagi menjadi dua kelompok yaitu ektoparasit yang menempel pada bagian luar tubuh ikan dan endoparasit yang berada dalam tubuh ikan.

Ciri-ciri ikan yang terkena penyakit parasiter adalah sebagai berikut :
Penyakit pada kulit:
Pada bagian tertentu kulit berwarna merah, terutama pada bagian dada, perut dan pangkal sirip. Warna ikan menjadi pucat dan tubuhnya berlendir.
Penyakit pada insang:
Tutup insang mengembang, lembaran insang menjadi pucat, kadang-kadang tampak semburat merah dan kelabu.
Penyakit pada organ dalam:
Perut ikan membengkak, sisik berdiri. Kadang-kadang sebaiknya perut menjadi amat kurus, ikan menjadi lemah dan mudah ditangkap.

Salah satu parasit yang sering menyerang ikan gurami adalah Argulus indicus yang tergolong Crustacea tingkat rendah yang hidup sebagai ektoparasit, berbentuk oval atau membundar dan berwarna kuning bening. Parasit ini menempel pada sisik atau sirip dan dapat menimbulkan lubang kecil yang akhirnya akan menimbulkan infeksi. Selanjutnya infeksi ini dapat menyebabkan patah sirip atau cacar. Parasit lainnya adalah bakteri Aeromonas hdyrophyla, Pseudomonas, dan cacing Thrematoda yang berasal dari siput-siput kecil.

Untuk mencegah penyakit ini dapat dilakukan dengan mengangkat dan memindahkan ikan ke dalam kolam lain dan melakukan penjemuran kolam yang terjangkit penyakit selama beberapa hari agar parasit mati. Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan pinset. Sementara pengobatan bagi ikan-ikan yang penyakitnya lebih berat dapat menggunakan bahan kimia seperti Kalium Permanagat (PK), neguvon dan garam dapur.

Selain penggunaan bahan kimia tersebut di atas, petani di daerah Purbalingga menggunakan daun lambesan (Chromolaena odorata (L), RM King & H. Robinson) sebagai antibiotik. Daun lambesan dimasukkan ke dalam kolam sebelum ikan di tebar yaitu pada saat pengolahan kolam. Banyaknya daun lambesan yang dipakai adalah 1 pikul (yaitu kurang lebih 50 kg) untuk luas tanah 25 m2. Penggunaan daun ini adalah 1 kali untuk 1 masa tanam.


Contoh gambar daun lambesan
Penggunaan obat-obatan kimia untuk ikan konsumsi sudah tidak tidak lagi direkomendasikan mengingat dampak yang tidak baik kepada konsumen. Oleh karena itu mencegah akan lebih baik dari mengobati. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengamatan secara konsisten terhadap kualitas air dan jika terjadi perubahan kualitas air yang ekstrim maka harus segera diatasi.

Posted on Rabu, Agustus 14, 2013 by marbowo leksono

No comments