A.    PENDAHULUAN

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan spesies ikan yang berasal dari kawasan Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya di Afrika. Secara anatomis, bentuk tubuhnya memanjang, pipih kesamping, dan warna putih kehitaman. Di Indonesia, jenis ikan ini merupakan ikan konsumsi air tawar yang banyak dibudidayakan setelah Ikan Mas (Cyrprinus Carpio).

Ikan nila telah dibudidayakan di lebih dari 93 negara dan saat ini, ikan ini bahkan telah tersebar ke Negara beriklin tropis maupun subtropis. Sedangkan pada wilayah beriklim dingin ikan ini tidak dapat hidup dengan baik.

Nila disukai oleh banyak kalangan karena mudah dipelihara, dapat dikonsumsi oleh segala lapisan serta rasa daging yang enak dan tebal. Tekstur daging Ikan Nila memiliki ciri tidak ada duri kecil dalam dagingnya. Apabila dipelihara di tambak akan lebih kenyal, dan rasanya lebih gurih, serta tidak berbau lumpur. Oleh karena itu, Ikan Nila layak untuk digunakan sebagai bahan baku dalam industry fillet dan bentuk-bentuk olahan lain. Ekspor Nila dari Indonesia umumnya dalam bentuk frozen fille (600 g) dan surimi.

Nila umumnya matang kelamin mulai umur 5-6 bulan. Ukuran matang kelamin berkisar 30-350 g. Rasio betina : jantan berkisat antara (2-5) : 1, keberhasilan pemijahan berkisar 20-30% per minggu dengan jumlah telur antara 1-4 butir/gram induk. Kelulushidupan (Survival Rate-SR) dari telur menjadi benih (ukuran < 5 gram) dapat mencapai 70-90%. SR fingerling menjadi ikan konsumsi berkisar 500-600 g dapat mencapai 70-98%. Nila mempunyai pertumbuhan cepat, rataan pertumbuhan harian (Average Daily Growth-ADG) dapat mencapai 4,1 gram/hari.

Nila mempunyai sifat omnivora (pemakan nabati maupun hewani), sehingga usaha budidayanya sangat efisien dengan biaya pakan yang rendah. Nilai Food Convertion Ratio (FCR) cukup baik, berkisar 0.8-1.6. Artinya, 1 kilogram Nila konsumsi dihasilkan dari 0.8-1.6 KG pakan, sebagai berbandingan nilai efisiensi pakan atau konversi pakan (FCR), ikan Nila yang dibudidayakan di tambak atau keramba jaring apung adalah 0.5-1.0.

Pembenihan ikan Nila dapat dilakukan secara missal di perkolaman secara terkontrol dalam bak-bak beton. Pemijahan secara missal ternyata lebih efisien, karena biaya yang dibutuhkan relatif lebih kecil dalam memproduksi larva untuk jumlah yang hampir sama. Pembesaran ikan nila dapat dilakukan di Keramba Jaring Apung (KJA), kolam, kolam air deras, perairan umun baik sungai, danau maupun waduk dan tambak.

Budidaya Nila secara monokultur di kolam rata-rata produksinya adalah 25.000 kg/ha/panen, di keramba jaring apung 1.000 kg/unit/panen (200.000 kg/ha/penen), dan ditambak sebanyak 15.000 kg/ha/panen. Budidaya Ikan Nila di tambak, pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan di kolam atau di jaring apung. Nila ukuran 5-8 cm yang dibudidayakan di tambak selama 2.5 bulan dapat mencapai 200 g, sedangkan di kolam untuk mencapai ukuran yang sama diperlukan waktu 4 bulan.

B.    PEMBENIHAN

Syarat lokasi kolam pembenihan adalah harus terdapat sumber air yang memadai secara teknis dan tersedia sepanjang tahun. Setidaknya, pada pemeliharaan benih, debit air yang dibutuhkan berkisar 0.5 liter/detik. Nila dapat hidup pada suhu 25-30 derajat Celcius; pH air 6.5-8-5; oksigen terlarut > 4 mg/I dan kedar ammoniak (NH3)< 0.01 mg/I; kecerahan kolam hingga 50 cm. selain itu ikan Nila juga hidup dalam perairan agaktenang dan kedalaman yang cukup.

Gambar pengeringan dan pengolahan dasar kolam

Pembenihan ikan Nila dilakukan dikolam pembenihan dengan konstruksi dari beton/semen ataupun tanah. Bentuk kolam empat persegi panjang sebanyak 4 unit. Kapasitas untuk masing-masing wadah/bak sebesar 500 m2. Aspek pembenihan dan produksi benih terdiri dari:

a) Induk

Bobot induk yang akan dipijahkan minimal sebesar 0,4 kg. Adapun perbandingan jumlah induk jantan dan betina adalah 1 : 2. Padat penebaran induk, untuk tiap pasang induk atau 3 ekor ikan, setidaknya disediakan lahan minimal 4 m2.

Untuk perawatan induk maka harus disediakan pakan tambahan berupa pellet, dedak, dan ampas tahu. Penambahan pakan alami dikolam dapat dilakukan dengan cara menggantungkan karung pupuk di bagian kolam tertentu, dengan terlebih dahulu melubaginya. Cara ini dimaksudkan agar pembusukan yang berlangsung di dalam karung tidak mengganggu kaulitas air kolam. Setelah beberapa hari biasanya disekitar karung akan tumbuh plankton.

b) Pakan

Pakan induk Nila adalah pakan buatan dapat berupa pellet dengan kadar protein 28-35% dengan kendungan lemeak tidak lebih dari 3%. Pada pemeliharaan induk, pembentukan telur pada ikan memerlukan bahan protein yang cukup di dalam pakannya sehinga perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan taoge dan daun-daunan/sayuran yang diris-iris.

Pemberian pellet untuk pemeliharaan induk sekurang-kurangnya adalah 3% berat biomass per hari. Untuk mengetahui berat biomassa ikan, maka diambil sempel 10 ekor ikan, ditimbang, dan dirata-ratakan beratnya. Berat rata-rata yang diperoleh dikalikan dengan jumlah seluruh ikan di kolam.

c) Peralatan

Peralatan pendukung yang diperlukan dalam pemijahan, penetasan dan pemeliharaan larva adalah alat pengukuran suhu air berupa thermometer. Kontrol terhadap suhu air diperlukna guna memastikan bahwa kolam dalam kondisi yang baik untuk pemeliharaan induk.

Sedangkan peralatan lapangan yang diperlukan adalah ember, baskom, gayung, selang plastik, saringan, plankton net, serok, timbangan, aerasi dan instalasinya. Untuk pendederan peralatan yang dibutuhkan adalah ember, baskom, saringan, serok, lambit, waring, cangkul, hapa penampung benih, timbangan
dll.

d) Produksi larva

Persiapan produksi larva dilakukan dengan mengeringkan dasar kolam selama kurang lebih 3 hari. Lubang-lubang pada pematang kolam ditimbun dengan tanah. Pengapuran diperlukan untuk memperbaiki dan pH tanah dan mematikan bibit penyakit maupun hama ikan. Pemupukan dilakukan untuk menyediakan makanan alami ikan bagi benih yang baru menetas. Selanjutnya, kolam diairi hingga air mencapai ketinggian 50-70 cm.

Proses produksi larva dilakukan dengan pemeliharaan induk. Proses pemijahan alami pada suhu air berkisar 25-30 derajat celcius , keaseman (pH) 6.5-7.5, dan ketinggian air 0.6-1m. Pemasukan induk ikan ke dalam kolam dilakukan pada pagi dan sore hari karena suhu tidak tinggi, dan untuk menjaga agar induk tidak stress, induk dimasukkan satu persatu. Induk jantan akan mulai menggali sarang dan segera memburu induk betina untuk melakukan pelepas telur, yang dengan cepat dibuahi oleh induk jantan dengan cara menyemprotkan spermanya.

Selesai pemijahan, induk betina menghisap telur-telur yang telah dibuahi untuk dierami di dalam mulutnya. Induk jantan akan meninggalkan induk betina, membuat sarang dan kawin lagi. Anakan yang telah keluar dari mulut induk segera dipanen dan dipisahkan tersendiri pada bak pemeliharaan larva. Panen benih sudak boleh dilakukan dengan menggunakan serokan/waring dan ditampung dalam ember/baskom untuk dipindahkan ke kolam pendederan.

Penangkapan sebaiknya dilakukan pada pagi hari di saat benih biasanya berkumpul di permukaan air. Bila matahari makin tinggi dan suhu air meningkat biasanya benih akan berada di bagian dasar kolam mencari tempat yang sejuk. Penangkapan biasanya beberapa kali dan membutuhkan waktu 2 jam. Masa-masa kritis biasanya berkisar 10 hari, karena benih sangat rentan mengalami kematian, sehingga pemeliharaan harus dilakukan secara hati-hati.

e. Pendederan

Kualitas air media pemeliharaan larva diatur pada suhu 25 – 30 0C, keasaman (pH) 6,5 – 7,5 ketinggian air media 0,6 – 1 m dalam kolam pemeliharaan dengan kapasitas luasan berkisar 500 m2. Padat tebar larva berkisar 150 ekor per m2 dengan waktu pemeliharaan 10 hari. Ukuran panen 1 – 3 cm dengan bobot 1 gram.
Gambar benih nila yang siap ditebar di kolam pendederan

Pemeliharaan benih ukuran 1-3 cm dilakukan pada suhu 30 – 32 0C, keasaman (pH) 6,5 – 7,5 ketinggian air media 20 – 30 cm dalam wadah pemeliharaan dengan kapasitas 500 m2. Ukuran benih tebar 1 – 3 cm, bobot 1 gram dengan padat tebar 50 – 75 ekor per m2. Waktu pemeliharaan 20 hari dengan ukuran panen 3 – 5 cm dan bobot 2,5 gram.

Pendederan benih dengan ukuran 3-5 cm dilakukan pada suhu 30 – 32 0C, keasaman (pH) 6,5 – 7,5 ketinggian air media 20 – 50 cm dalam wadah pemeliharaan dengan kapasitas 500 m2. Padat tebar benih berada pada kisaran 50 ekor per m2. Waktu pemeliharaan 30 hari, dengan ukuran panen 5 – 8 cm dan bobot 5 gr.

Gambar benih ikan nila dalam kolam pendederan

Kedalaman perairan kolam untuk pendederan nila di kolam tanah adalah 50 – 70 cm. Pakan benih berupa pakan buatan dengan kadar protein berkisar 30%. Persiapan kolam pendederan dilakukan dengan jalan mengeringkan kolam, pengapuran dan pemupukan dengan pupuk kandang ataupun pupuk buatan. Pupuk kandang diberikan sebagai pupuk dasar dengan dosis 1 kg/m2.

Nila sangat menyukai pakan alami berupa plankton, sehingga tujuan pemupukan susulan agar plankton dapat bertahan hidup dengan baik. Pupuk yang digunakan harus mengandung unsur fosfor dan nitrogen maka dianjurkan untuk menggunakan pupuk DSP (Double Superphosphat) atau TSP (Triple Superphospat) dan urea. Untuk kolam seluas 200 m2 dosis pupuk yang diperlukan 2 kg DSP atau TSP dan 2 kg urea. Pupuk diberikan setelah kolam terisi air.