Kamis, 26 September 2013

Pokdakan Mina Lancar adalah salah satu kelompok pembudidaya ikan di desa Gembong, kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga yang telah dikukuhkan menjadi pokdakan dengan kelas Kelompok madya pada tahun 2012. Menurut catatan, baru 2 pokdakan di kecamatan Bojongsari yang telah berhasil naik kelas menjadi kelompok madya, dan salah satunya adalah pokdakan Mina Lancar.

Semenjak berdirinya pada tahun 2008, pokdakan Mina Lancar tercatat hanya menerima 2 kali bantuan dari pemerintah, dan yang terakhir adalah pada tahun 2012, berupa program penguatan kelembagaan kelompok pelaku utama dari Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kab. Purbalingga. Program tersebut merupakan program dekonsentrasi dari kementrian KKP melalui set-Bakorluh Jateng.

Melalui kegiatan penguatan kelembagaan kelompok pelaku utama tersebut pokdakan mina lancar hanya menerima bantuan berupa papan nama kelompok, buku-buku administrasi, dan bantuan permodalan berupa uang yang dipergunakan untuk percontohan budidaya.

Dari bantuan permodalan yang dibilang tidak seberapa tersebut ternyata dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mengusahakan pembesaran lele dengan sistem bioflok. Bukan tanpa hambatan ketika pokdakan mina lancar mengusahakan pembesaran lele dengan sistem bioflok.Selain secara teknis teknologi ini adalah teknologi yang relatif baru untuk budidaya lele, sarana dan prasarana yang ada juga sangat minim.

Kendala utama yang dihadapi saat budidaya dengan sistem bioflok pada saat itu adalah terjadinya mortalitas yang tinggi saat benih berumur 7-15 hari setelah tebar. Hingga Saat panen tiba, tingkat kelulushidupannya hanya sekitar 60% dengan FCR 1.02. 

Hasil yang jelek tidak lantas menjadikan pembudidaya berputus asa, hal ini justru membuat mereka merasa tertantang. Oleh karena itu, diputuskan untuk membuat 1 unit kolam lagi. Dengan bermodalkan 2 unit kolam bundar, kelompok mulai mempesiapkan siklus berikutnya.

Pengalaman adalah guru yang paling baik, itulah pepatah yang mungkin tepat bagi pokdakan Mina Lancar. Berdasarkan pengalaman siklus pertama, kelompok melakukan penelusuran dari catatan budidaya mereka. Diskusi panjang seringkali terjadi antar anggota dan penyuluh saat pertemuan rutin.
salah satu suasana diskusi pada pertemuan rutin pokdakan mina lancar gembong
Gambar suasana diskusi yang terjadi saat pertemuan rutin pokdakan Mina Lancar, Gembong

Dari diskusi tersebut, akhirnya ditemukan kesimpulan sementara yang dianggap layak untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Akhirnya satu kolam diputuskan untuk pemeliharaan dengan sistem bioflok yang telah dimodifikasi, dan satu kolam lagi untuk pemeliharaan dengan sistem bioflok sesuai SOP yang lama.

Bagaimanakah hasilnya?
Bersambung.......................

Posted on Kamis, September 26, 2013 by marbowo leksono

No comments

Rabu, 11 September 2013

A.    PENDAHULUAN

Ikan nila telah dibudidayakan di lebih dari 93 negara dan saat ini, ikan ini bahkan telah tersebar ke Negara beriklin tropis maupun subtropis. Sedangkan pada wilayah beriklim dingin ikan ini tidak dapat hidup dengan baik.

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan spesies ikan yang berasal dari kawasan Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya di Afrika. Secara anatomis, bentuk tubuhnya memanjang, pipih kesamping, dan warna putih kehitaman. Di Indonesia, jenis ikan ini merupakan ikan konsumsi air tawar yang banyak dibudidayakan.

Nila disukai oleh banyak kalangan karena mudah dipelihara, dapat dikonsumsi oleh segala lapisan serta rasa daging yang enak dan tebal. Tekstur daging Ikan Nila memiliki ciri tidak ada duri kecil dalam dagingnya. Apabila dipelihara di tambak akan lebih kenyal, dan rasanya lebih gurih, serta tidak berbau lumpur. Oleh karena itu, Ikan Nila layak untuk digunakan sebagai bahan baku dalam industry fillet dan bentuk-bentuk olahan lain. Ekspor Nila dari Indonesia umumnya dalam bentuk frozen fillet.

Ikan Nila pada umumnya akan matang kelamin mulai umur 5-6 bulan. Ukuran matang kelamin berkisar 30-350 g. Rasio betina : jantan berkisat antara (2-5) : 1, keberhasilan pemijahan berkisar 20-30% per minggu dengan jumlah telur antara 1-4 butir/gram induk. Kelulushidupan (Survival Rate-SR) dari telur menjadi benih (ukuran < 5 gram) dapat mencapai 70-90%. SR fingerling menjadi ikan konsumsi berkisar 500-600 g dapat mencapai 70-98%. Nila mempunyai pertumbuhan cepat, rataan pertumbuhan harian (Average Daily Growth-ADG) dapat mencapai 4,1 gram/hari.

Nila mempunyai sifat omnivora (pemakan nabati maupun hewani), sehingga usaha budidayanya sangat efisien dengan biaya pakan yang rendah. Nilai Food Convertion Ratio (FCR) cukup baik, berkisar 0.8-1.6. Artinya, 1 kilogram Nila konsumsi dihasilkan dari 0.8-1.6 KG pakan, sebagai berbandingan nilai efisiensi pakan atau konversi pakan (FCR), ikan Nila yang dibudidayakan di tambak atau keramba jaring apung adalah 0.5-1.0.

Pembenihan ikan Nila dapat dilakukan secara missal di perkolaman secara terkontrol dalam bak-bak beton. Pemijahan secara missal ternyata lebih efisien, karena biaya yang dibutuhkan relatif lebih kecil dalam memproduksi larva untuk jumlah yang hampir sama. Pembesaran ikan nila dapat dilakukan di Keramba Jaring Apung (KJA), kolam, kolam air deras, perairan umun baik sungai, danau maupun waduk dan tambak.

Budidaya Nila secara monokultur di kolam rata-rata produksinya adalah 25.000 kg/ha/panen, di keramba jaring apung 1.000 kg/unit/panen (200.000 kg/ha/penen), dan ditambak sebanyak 15.000 kg/ha/panen. Budidaya Ikan Nila di tambak, pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan di kolam atau di jaring apung. Nila ukuran 5-8 cm yang dibudidayakan di tambak selama 2.5 bulan dapat mencapai 200 g, sedangkan di kolam untuk mencapai ukuran yang sama diperlukan waktu 4 bulan.

Pertumbuhan Ikan Nila jantan dan betina dalam satu populasi akan selalu jauh berbeda, karena Nila jantan 40% lebih cepat dari pada Nila betina. Nila betina, jika sudah mencapai ukuran 200 g pertumbuhannya semakin lambat, sedangkan yang jantan tetap tumbuh dengan pesat. Hal ini akan menjadi kendala dalam memproyeksikan produksi.

Beberapa waktu lalu, telah ditemukan teknologi proses jantanisasi; yaitu membuat populasi ikan jantan dan betina maskulin melalui sexreversal; dengan cara pemberian hormone 17 Alpa methyltestosteron selama perkembangan larva sampai umur 17 hari. Saat ini teknologi sex reversal telah berkembang melalui hibridisasi antarjenis tertentu untuk dapat menghasilkan induk jantan super dengan kromosom YY; sehingga jika dikawinkan dengan betina kromosom XX akan menghasilkan anakan jantan XY.

B.    PEMBESARAN DI KOLAM

Usaha pembesaran Nila dapat dilakukan pada dataran rendah sampai agak tinggi sampai dengan 500 m dari permukaan laut (dpl). Sumber air tersedia sepanjang tahun dengan kualitas air tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
Gambar Nila Merah Larasati, salah satu ikan unggulan produksi SATKER JANTI
Persyaratan lokasi pemeliharaan pada kolam atau tambak sebagai berikut :
  1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lembung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam;
  2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3 – 5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi;
  3. Kualitas air untuk pemeliharaan Ikan Nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecokelatan karena banyak mengandung Diatomae. Tingkat kecerahan air dapat diukur dengan alat yang disebut piring secchi (secchi disc). Pada kolam dan tambak, angka kecerahan yang baik antara 20 – 30 cm;
  4. Debit air untuk kolam air tenang 8 – 15 liter/detik;
Setidaknya, dua minggu sebelum dipergunakan kolam harus dipersiapkan dengan baik. Dasar kolam dikeringkan, dijemur beberapa hari, dibersihkan dari rerumputan, dicangkul dan diratakan. Tanggul dan pintu air diperbaiki jangan sampai terjadi kebocoran, saluran air diperbaiki agar pasokan air menjadi lancar. Saringan air dipasang pada pintu pemasukan maupun pengeluaran air.

Pengapuran tanah dasar perlu dilakukan untuk memperbaiki pH tanah dan memberantas hama. Untuk itu, dapat digunakan kapur tohor sebanyak 100 – 300 kg/ha atau kapur pertanian dengan dosis 500–1.000 kg/ha. Setelah itu, pupuk kandang ditabur dan diaduk dengan tanah dasar kolam, dengan dosis 1 – 2 ton/ha. Dapat juga pupuk kandang dionggokkan di depan pintu air pemasukan, agar bila air dimasukkan, maka dapat tersebar secara merata.

Setelah semuanya siap, kolam diairi. Mula-mula sedalam 5 – 10 cm dan dibiarkan 2 – 3 hari agar terjadi mineralisasi tanah dasar kolam. Lalu tambahkan air lagi sampai kedalaman 75 – 100 cm. Kolam siap untuk ditebari bibit ikan hasil pendederan jika fitoplankton telah terlihat tumbuh dengan baik.

Fitoplankton yang tumbuh dengan baik ditandai dengan perubahan warna air kolam menjadi kuning kehijauan. Jika diperhatikan, pada dasar kolam juga mulai banyak terdapat organisme renik yang berupa kutu air, jentik-jentik serangga, cacing, siput dan sebagainya. Selama pemeliharaan ikan, ketinggian air kolam diatur sedalam 75 – 100 cm. Pemupukan susulan harus dilakukan 2 minggu sekali, yaitu pada saat makanan alami sudah mulai habis.

Pupuk susulan menggunakan pupuk organik sebanyak 500 kg/ha. Pupuk itu dibagi menjadi empat dan masing-masing dimasukkan ke dalam karung, dua buah di kiri dan dua buah di sisi kanan aliran air masuk. Dapat pula ditambahkan beberapa karung kecil yang diletakkan di sudut-sudut kolam. Urea dan TSP masing-masing sebanyak 30 kg/ha diletakkan di dalam kantong plastik yang diberi lubang-lubang kecil agar pupuk dapat larut sedikit demi sedikit. Kantong pupuk tersebut digantungkan sebatang bambu yang dipancangkan di dasar kolam, posisi terendam tetapi tidak sampai ke dasar kolam.

Pada sistem pemeliharaan intensif atau teknologi maju, pemeliharaan dapat dilakukan di kolam atau tambak air payau dan pengairan yang baik. Pergantian air dapat dilakukan sesring mungkin sesuai dengan tingkat kepadatan ikan. Volume air yang diganti setiap hari sebanyak 20% atau bahkan lebih. Pada usaha intensif, benih Nila yang dipelihara harus tunggal kelamin, dan jantan saja. Pakan yang diberikan juga harus bermutu, dengan ransum hariannya 3% dari berat biomassa ikan perhari. Makanan sebaiknya berupa pelet yang berkadar protein berkisar 30%, dengan kadar lemak 6 – 8%.

C.    PEMBESARAN DI KARAMBA JARING APUNG

Untuk pembesaran di perairan umum dengan menggunakan KJA, kedalaman air minimal 5 meter dari dasar jaring pada saat surut terendah, kekuatan arus 20 – 40 cm/detik. Persyaratan kualitas air untuk pembesaran ikan nila adalah pH air antara 6,5 – 8,6, suhu air berkisar antara 25–30 0C. Oksigen terlarut lebih dari 5 mg/l, kadar garam air 0 – 28 ppt, dan Ammoniak (NH3) kurang dari 0,02 ppm.

Wadah untuk pembesaran di Karamba Jaring Apung (KJA) umumnya berukuran 4x4x3 m3. Spesifikasi KJA sebagai berikut :
  1. Pelampung: bahan styrofoam atau drum, bentuk silindris, Jumlah pelampung minimal 8 buah/jaring;
  2. Tali jangkar: bahan polyetiline (PE), panjang 1,5 kali kedalaman perairan, jumlah 5 utas/jaring, diameter 0.75 inci;
  3. Jangkar: bahan besi/blok beton/batu, bentuk segi empat, berat minimal 40 kg/buah, jumlah 5 buah/jaring;
  4. Jaring: bahan polyetiline (PE 210 D/12), ukuran mata jaring 1 inci, warna hijau, ukuran jaring (7x7x2,5 m3).
  5. Luas peruntukan areal pemasangan jaring maksimal 10% dari luas potensi perairan atau 1% dari luas perairan waktu surut terendah dan jumlah luas jaring maksimal 10% dari luas areal peruntukan pemasangan jaring.
Sebagai upaya sterilisasi, sebelum ditebar, benih direndam dalam larutan Kalium Pemanganat konsentrasi 4 – 5 ppm selama kurang lebih 15 – 30 menit. Adaptasi suhu dilakukan agar suhu dilakukan agar suhu pada kemasan ikan sama suhu di KJA dengan cara merendam wadah kemasan benih ke KJA selama 1 (satu) jam.

Untuk Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi hari agar ikan tidak mengalami stres atau kematian akibat perbedaan suhu tersebut. Benih yang ditebar berukuran 5 – 8 cm, berat 30 – 50 gram dengan padat tebar 50 – 70 ekor/m3. Pakan digunakan untuk pembesaran ikan nila adalah lambit, pembersih jaring, pengukur kualitas air (termometer, sechsi disk, kertas lakmus), peralatan lapangan (timbangan, hapa, waring, ember, alat panen, dll), dan sampan.

Lama pemeliharaan adalah 4 bulan dengan tingkat kelangsungan hidup/Survival Rate (SR) 80%. Pakan yang diberikan berupa pelet apung dengan dosis 3 – 4% dari bobot total ikan. Frekuensi pemberiannya, 3 kali sehari pada pagi, siang dan sore dengan rasio konversi pakan (FCR) 1,3. Panen dapat dilakukan berdasarkan permintaan pasar, namun umumnya ukuran panen pada kisaran 500 gram/ekor.

Gambar pemeliharaan Nila di KJA
Panen dilakukan pada pagi atau sore hari untuk mengurangi resiko kematian ikan. Penanganan panen dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup maupun ikan segar. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke konsumen dalam keadaan hidup dan segar antara lain: (1) pengangkutan menggunakan air yang bersuhu rendah sekitar 200C; (2) waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari: (3) jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.

Posted on Rabu, September 11, 2013 by marbowo leksono

1 comment