Rabu, 26 Februari 2014

Menilik dapur produksi poklahsar prima melati di desa Patemon kecamatan Bojongsari jauh dari kesan kotor. Dapur mini tempat produksi berbagai macam olahan beku dari ikan tersebut, terlihat rapih dan bersih. Secara persyaratan, sudah lebih dari cukup untuk dapur produksi ukuran skala rumah tangga.

Proses memasak di dapur Poklahsar "Prima Melati"
Dapur dengan ukuran sekitar 3x5 meter persegi itu berbentuk leter L. Terdapat 2 kompor gas yang tertata rapih di ruang masak, sementara disisi ruang yang lain, ada sebuah Freezer untuk menyimpan produk jadi yang siap dipasarkan dan sebuah kulkas yang berfungsi untuk menyimpan bumbu dan bahan-bahan sebelum diolah. Untuk urusan menyimpan perlengkapan dan buku-buku administrasi terdapat sebuah almari kecil bersusun 5 di salah satu sudut ruang yang lain.

Kegiatan produksi di poklahsar Prima Melati hampir dilakukan setiap hari. Sebelum dimulai poduksi, mereka selalu membiasakan diri untuk melakukan evaluasi dan breefing. Evaluasi dimaksudkan untuk menilai hasil kegiatan produksi sebelumnya, sehingga jika terdapat kekurangan bisa sebagai catatan untuk produksi selanjutnya.

Agar kegiatan produksi berjalan dengan lancar dan terarah, ditunjuk salah satu anggota kelompok sebagai kepala dapur yang bertugas dan bertanggungjawab untuk mengarahkan dan memimpin proses produksi. Sementara, proses penimbangan bahan-bahan dan bumbu-bumbu juga dilakukan oleh orang yang khusus. Hal ini dilakukan agar cita rasa hasil produksi bisa konsisten dan tidak berubah dari waktu ke waktu.

Crew Prima Melati saat breefing sebelum proses produksi
Cita rasa merupakan masalah penting yang sangat diutamakan. Menurut ketua Poklahsar Prima melati,Yelfia, "agar bisa diterima oleh konsumen maka rasa produk harus memiliki ciri khas, enak, dan yang jelas harus konsisten". "Konsistensi rasa dari sebuah produk akan menjadi kendala jika bahan-bahan dan bumbu-bumbu diracik oleh orang yang berbeda-beda, oleh karena itu peran khusus untuk seorang peracik bumbu harus ada" tambahnya.

Untuk urusan kebersihan dapur dan rasa, hal ini sudah diakui oleh Bpk. Marno B Sanbardi seorang pemilik waralaba No's Food saat beberapa waktu lalu berkunjung ke markas poklahsar Prima Melati. Bahkan beliau langsung memesan 10 bungkus tahu bakso berbahan daging ikan untuk dijajal dan disandingkan dengan produk Frozen Food lainnya di Gerai No's Food miliknya.

Posted on Rabu, Februari 26, 2014 by marbowo leksono

No comments

Senin, 17 Februari 2014

SK Kepala BPSDM KP No 14/KEP BPSDMKP/2014 tentang penempatan pendamping PUMP tahun 2014 dapat dilihat dan diunduh pada tautan dibawah ini:


Posted on Senin, Februari 17, 2014 by marbowo leksono

No comments

Senin, 03 Februari 2014

Poklahsar Prima Melati merupakan salah satu kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan yang berada di desa Patemon, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga. Berdiri sejak bulan september 2012, kelompok ini beranggotakan 10 orang yang kesemuanya adalah ibu-ibu rumah tangga.

Saat pertama kali terbentuk, kelompok Prima Melati hanya fokus memproduksi Abon Lele. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 30 Kg Abon setiap bulan. Untuk pemasaran secara offline, Abon lele telah dipasarkan di toko-toko di daerah Purbalingga dan Purwokerto. Sedangkan untuk pemasaran secara online, abon lele marisa tercatat sudah terkirim hingga ke Papua dan Sumatra.

Selain memproduksi Abon, kini poklahsar Prima Melati juga telah berhasil memproduksi berbagai olahan beku dengan bahan dasar ikan lele. Setiap harinya ikan lele diolah oleh ibu-ibu anggota kelompok menjadi berbagai olahan beku yang enak dan lezat.

Hasil sentuhan tangan-tangan terampil dari ibu-ibu anggota poklahsar prima melati antara lain, Nugget Ikan, Otak otak, Bakso Ikan, Fillet Crispy, Tahu Bakso, dan Fish Roll. Sedangkan untuk menimimalkan limbah lele (kulit dan tulangnya) kini mereka juga telah mengolah produk sampingan yang tidak kalah nikmatnya.
Produk Prima Melati (Abon Lele dan Pastel Abon) di salah satu kafe di Purbalingga

Hasil olahan limbah lele yang dapat dinikmati antara lain kripik kulit lele, krupuk ikan, Pastel Abon, dan "Ladrik". Semua olahan dimasak dengan menggunakan bumbu rempah yang lengkap tanpa bahan pengawet dan tanpa MSG. Komitment untuk tidak menggunakan bahan pengawet dan MSG dilakukan dari kesadaran bahwa zat-zat tersebut berbahaya bagi kesehatan.

Saat ini, hampir setiap hari kelompok melakukan kegiatan pengolahan di dapurnya yang berada di desa patemon tersebut. "Tiap hari kita selalu berusaha melakukan kegiatan produksi, walaupun kapasitas produksinya masih kecil yaitu sekitar 1-2 kg ikan lele segar" ungkap ketua poklahsar Prima Melati, Yelfia.

Ikan lele yang diolah merupakan ikan yang dibeli dari pembudidaya lokal yang diantar oleh pedagang ikan Setiap minggu sekali. Sebelum diolah, ikan dengan bobot minimal 0,8 kg/ ekor tersebut ditampung di kolam penampungan yang berukuran 6 M2 disebelah dapur produksinya.

Jika anda penasaran untuk mencicipi produk-prouduk dari poklahsar prima melati yang praktis, aman, dan sehat, tanpa bahan pengawet dan tanpa MSG, anda dapat datang lansung ke dapur produksinya di bilangan desa Patemon. Bagi anda yang jauh dari tempat produksi, jangan khawatir, anda masih bisa mencicipi produk-produk keringnya dengan melakukan pembelian secara online.

Atau, jika anda ingin bertanya dan melihat katalog produknya terlebih dahulu, andapun bisa melihat dihalaman facebooknya di http://www.facebook.com/marisafood.

Posted on Senin, Februari 03, 2014 by marbowo leksono

No comments