Jumat, 08 November 2013

a. Virus
Virus adalah organism penyebab dan sumber penyakit yang sangat kecil, karena memiliki ukuran tubuh antara 20-300 nanometer, sehingga hanya dapat dlihat dengan menggunakan mikroskop electron. Struktur tubuh virus sangat sederhana hanya terdiri dari asam nukleat (RNA atau DNA) serta tidak mempunyai organ pencernaan.

Virus memperbanyak diri dengan dimulai dari masuknya sel virus ke dalam sel inang. Setelah virus menemukan sel inangnya, maka RNA/ DNA virus akan mengendalikan organ pencernaan dari sel inang untuk memproduksi asam nukleat sesuai dengan kebutuhan virus. Inang juga akan diperintah untuk membentuk protein baru yang mempunyai sifat khas untuk membunuh organisme lain, sebagian lagi digunakan sebagai bungkus pelindung asam nukleat virus yang disebut capsid. 
Bentuk dan bagian-bagian virus secara umum yang terdiri dari RNA atau DNA
Bentuk dan bagian-bagian virus secara umum

Bentuk capsid dari satu virus dengan yang lainnya bervariasi, biasanya virus-virus yang menyerang tubuh ikan adalah virus yang berbentuk peluru (rhabdo virus). Inveksi virus pada ikan dapat tersebar secara horizontal atau vertikal atau kedua-duanya.

Gejala umum penyakit yang disebabkan oleh virus adalah pendarahan (hemoragik) pada bagian organ (termasuk kulit), perut membesar, eksoftalmia, dan kulit pucat gelap pada bagian-bagian tetentu. Aktifitas serangan virus bersifat akut, menghasilkan kerusakan jaringan secara luas, dan menimbulkan kematian dalam waktu singkat.

b. Parasit
Parasit adalah hewan ataupun tumbuh-tumbuhan yang menempel pada inang (ikan) dan mengambil manfaat dari inang tersebut. Parasit memperoleh makanan dari inangnya tanpa ada kompensasi apapun. Parasit yang banyak dikenal meyerang berbagai ikan budidaya antara lain:

Protozoa
Protozoa merupakan hewan yang paling kecil, seluruh kegiatan hidupnya dilakukan oleh satu sel itu sendiri karena telah memiliki organ-organ sel sendiri antara lain berupa membram plasma, sitoplasma, dan mitokondria. Protozoa bisa bergerak aktif karena mempunyai alat gerak berupa flagela, silia, ataupun pseudopodia. 

Pada umumnya protozoa bersifat aerobik, mendapat makanan dari memangsa organisme lain, ataupun partikel organik dengan cara fagositosis maupun pinositosis. Protozoa banyak ditemui sebagai parasit pada ikan, akan tetapi antara parasit dan inangnya dapat hidup selaras tanpa menimbulkan gejala penyakit. Hanya protozoa dalam jumlah besar yang mampu menimbulkan penyakit pada ikan. Hal ini karena pengaruh faktor-faktor lingkungan seperti tingkat pH, NH3, suhu, dan salinitas. 

Beberapa jenis protozoa hanya menyerang organ internal dari ikan (ginjal, hati, usus). Pengamamatan langsung pada organ-organ tersebut sudah bisa dipakai untuk mendiagnosa ikan terserang protozoa.

Metazoa
Metazoa adalah hewan bersel banyak dengan berbagai struktur internal seperti saluran pencernaan, gonad, dan organ-organ pelekat/ pengait. Bentuk parasit ini tergantung pada tahapan dalam siklus hidupnya (dewasa atau larva). Semua jenis metazoa yang bersifat parasit berkembangbiak secara seksual, tetapi pembelahan vegetatif pada tahap larva banyak ditemukan pada berbagai spesies.

Metazoa mempunyai ciri adanya organ pada tubuhnya yang berfungsi untuk melekat ataupun menempel. Biasanya organ-organ ini merupakan penyebab masalah kesehatan pada ikan. Jika menempel pada ikan, metazoa akan merusak jaringan tubuh ikan (kulit dan daging) dengan cara mencengkeram dan merusak bagian organ luar ikan. Jaringan luar ikan yang rusak karena proses penempelan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi infeksi virus atau bakteri.

Dalam siklus hidupnya, metazoa membutuhkan satu atau lebih inang perantara. Sehingga pengetahuan ini sangat penting dalam menentukan cara pegobatan ikan atau pencegahan penyakit yang disebabkannya. Determinasi parasit ini dapat dilakukan melalui bentuk parasit, organ-organ yang terserang, saluran genitalia, telur, serta larvanya, yaitu sebagai berikut:

Monogenea
Banyak jenis monogenea yang hidup sebagai parasit pada ikan. Ciri monogenea adalah mempunyai struktur seperti jangkar pada ujung ekor dan dilengkapi pengikat pada tepinya. Kebanyakan monogenea hidup dan berkembangbiak sebagai ektoparasit pada ikan yang sama karena tidak mempunyai inang perantara. Ada dua spesies monogenea yang sering dijumpai menyerang ikan, yaitu Dactilogyrus yang menyerang organ insang dan Gyrodactylus

Digenea
Kebanyakan bersifar endoparasit jika hidup pada inang terakhir, sedangkan jika ikan merupakan inang perantaranya, maka burung adalah inang terakhirnya. Pada inang perantara digenea hidup sebagai larva (metaserkaria) dan sering dijumpai di dalam kulit, otot, dan lensa mata. Jenis penting dari Digenea yang hidup dalam pembuluh darah adalah Sanguinicola.

Cestoda
Lingua Intestinalis merupakan parasit penting yang dapat menimbulkan perut bengkak pada ikan Cyprinidae. Secara umum siklus perkembangbiakannya adalah sebagai berikut: telur dengan 8 pengait ataupun dengan korasidium (silia berenang), presekoid di dalam inang perantara I (terutama crustacean), inang perantara II, inang terakhir. Didalam inang perantara, tahap larva bisa ditemukan didalam rongga tubuh.

Nematoda
Jenis Crustacea dan Hirudinea (Lintah) termasuk dalam golongan nematoda banyak ditemukan sebagai endoparatis di dalam tubuh ikan. Crustacea yang hidup sebagai parasit pada ikan yaitu kopepoda (Lernea sp dan Ergasilus sp.), brankiura (Argulus sp), dan isopoda. Lernea sp mempunyai organ penempel yang masuk ke dalam jaringan inang. Hal ini menyebabkan terjadinya pembengkakan pada jaringan dan hyperemia yang dapat menjadi nekrosa yang sangat sensitive terhadap serangan pathogen sekunder berupa bakteri.

Argulus sp dapat hidup di rongga mulut, insang, di dalam otot dan kulit. Kerusakan jaringan-jaringan yang terserang argulus juga dapat mengakibatkan indeksi sekunder. Ciri-ciri ikan yang terserang argulus adalah adanya gatal yang menyebabkan ikan menggosok-gosokkan tubuhnya pada benda yang ada di dalam air.

Hirudinea (lintah) adalah parasit yang bersifat tidak tetap. Lintah mempunyai alat penghisap anterior dan berbentuk simetril bilateral. Lintah biasanya menghisap darahdalam jumlah yang banyak. Salah satu jenis lintah yang ditemukan menyerang ikan budidaya adalah Piscicola sp.

c. Bakteri
Bakteri adalah mikroorganisme dengan sruktur intraselular yang sederhana, yang mempunyai daerah penyebaran relatif luas, sehingga hampir dapat dijumpai dimana saja. UKuran bakteri berkisar antara 0.3 -0.5 mikron. Bakteri mempunyai ciri dapat tumbuh dalam sebuah koloni, berbentuk rantai atau benang, sel bakteri terdiri atas sebuah dinding sel, membram sitoplasma, dan sitoplasma.

Bakteri mampu membentuk spora dan dapat hidup dalam jangka waktu yang lama. Spesies bakteri memiliki kapsul yang mengeilingi dinding sel dan ada pula yang memiliki flagel.

Bakteri dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu bakteri gram negatif dan bakteri gram positif. Hal ini berkaitan dengan reaksi sel bakteri terhadap pewarnaan gram. Bakteri gram negarif akan terlihat berwarna pink atau merah, sedangkan bakteri gram positif akan berwarna biru. Bakteri yang banyak menyerang ikan kebanyakan termasuk golongan bakteri gram negatif seperti, Flexibacter, Vibrio, dan Aeromonas.

Untuk menentukan penyabab penyakit, biasanya isolasi bakteri dilakukan terhadap ikan yang sehat dan yang terserang gejala penyakit (dari organ yang sama). Jika isolasi bakteri dari ikan yang sakit menunjukkan bakteri yang sama dalam jumlah besar, sedangkan ikan yang sehat tidak terlihat adanya bakteri yang mendominasi maka hampir dapat dipastikan bahwa penyebab penyakit telah diketemukan. 

d. Fungi/ Jamur
Fungi/ Jamur tidak bisa dibedakan antara daun, batang, dan akar. Pada budidaya ikan penyakit yang disebabkan oleh jamur biasanya mudah dikenali karena mempunyai morfologi dan organ sasaran yang khusus. Ada 4 spesies jamur yang penting dan sering dijumpai menjadi sumber penyakit pada ikan yaitu Ichthyophonus sp, Branchyomycetes sp, Saprolegnia sp, dan Achlya sp.

Saprolegnia sp dan Achlya sp merupakan jamur yang menginfeksi kulit, dengan ciri-ciri seperti kapsul bercabang yang dikelilingi oleh kapas. Saprolegnia sp dikenal juga sebagai water molds yang dapat menyerang kulit ikan dan telur ikan. Jamur ini pada umum dijumpai pada air tawar maupun air payau dan dapat tumbuh pada selang suhu 0 – 35 °C, dengan pertumbuhan optimal sekitar 15 – 30 °C. 

Pada umumnya, Saprolegnia sp menyerang bagian kulit ikan yang terluka, dan dapat menyebar pada jaringan sehat lainnya. Serangan Saprolegnia sp biasanya berkaitan dengan kondisi kualitas air yang buruk, seperti kadar oksigen yang rendah, ammonia yang tinggi, dan kadar bahan organik yang tinggi. Kehadiran Saproglegnia sp sering disertai dengan kahadiran infeksi bakteri Columnaris, dan parasit eksternal yang lainnya.

Ichthyophonus sp hampir ditemukan pada setiap ikan yang hidup di alam bebas. Pemeriksaan terhadap organ dalam ikan hampir semua terinfeksi oleh Ichthyophanus dengan intensitas yang bervariasi. Infeksi Ichthyophanus sp pada ikan dapat diidentifikasi menjadi fase aktif dan fase pasif. Fase aktif infeksi pada ikan biasanya disertai dengan penampilan ramping dan langsing pada tubuh ikan, penurunan drastis terjadi pada lemak usus , kekurusan otot somatik , dan pembengkakan organ viscera. Tanda makroskopik yang paling khas dari ichthyophonosis adalah terjadinya nodul putih krem pada jantung . Infeksi ini menyebabkan peradangan granulomatosa sistemik kronis.

Posted on Jumat, November 08, 2013 by marbowo leksono

No comments

Senin, 07 Oktober 2013

Secara umum pengertian bioflok adalah kumpulan dari berbagai organisme baik bakteri, jamur, protozoa, maupun algae yang tergabung dalam sebuah gumpalan (floc). Bioflok berasal dari kata “BIOS” yang berarti kehidupan dan “FLOC” yang artinya gumpalan. Pada awalnya teknologi bioflok merupakan teknologi pengolahan limbah berupa lumpur aktif yang melibatkan aktifitas mikroorganisme. 

Dalam penerapan pengolahan limbah, bahan organik berupa limbah lumpur harus terus diaduk dan diaerasi. Tujuannya adalah agar limbah selalu dalam kondisi tersuspensi sehingga dapat diuraikan oleh bakteri heterotrof secara aerobik menjadi senyawa anorganik.

Keharusan pengadukan dalam teknologi pengolahan limbah ini dikarenakan jika bahan organik mengendap, maka akan terjadi kondisi yang anaerob dimana bakteri anaerob terangsang untuk mengurai bahan organik menjadi senyawa yang lebih sederhana dan bersifat racun (ammonia, nitrit, H2S, dan metana).

Dalam perkembangannya konsep teknologi bioflok tersebut diadopsi untuk kegiatan akuakultur.  Awalnya konsep ini diterapkan dalam budidaya nila secara intensif di Thailand, kemudian berlanjut pada usaha budidaya udang. Seiring berjalannya waktu teknologi ini juga sudah diadopsi untuk budidaya lele dengan wadah kolam bundar.

Bahwa permasalahan utama dalam kegiatan budidaya, khususnya yang dilakukan secara intensif adalah tingginya kandungan amonia yang bersifat racun bagi ikan. Hal ini terjadi karena sisa pakan dan hasil metabolisme ikan yang mengendap di dalam kolam yang secara langsung maupun tidak langsung merupakan sumber amonia yang bersifat racun bagi ikan.

Konsep teknologi bioflok dalam akuakultur adalah untuk mendaur ulang senyawa nitrogen anorganik (amonia yang bersifat racun) menjadi protein sel mikroba yang dapat dimakan oleh hewan pemakan detritus seperti nila, udang dan juga lele.

Prosesnya, bahan organik dalam kolam diaerasi agar teraduk dalam kolom air sehingga dapat merangsang bakteri heterotrof aerobik menempel pada partikel organik tersebut, mengurainya menjadi bahan organik, dan menyerap mineral beracun seperti amonia, fosfat dan nitrit. Hasilnya, kualitas air menjadi lebih baik dan bahan organik didaur ulang menjadi detritus.

Mengembangkan dan menjaga keberadaan bakteri  yang menguntungkan dalam kolam merupakan kunci sukses teknologi bioflok. Bakteri yang menguntungkan harus dijaga dominasinya di dalam kolam sehingga akan menekan pertumbuhan bakteri patogen yang dapat menyebabkan peyakit pada ikan. Disisi lain, jika kumpulan bakteri yang menguntung tersebut dapat membentuk gumpalam flok yang banyak, akan berperan dalam merobak limbah nitrogen secara efisien.

Dengan demikian secara konseptual teknologi bioflok jika dikembangkan dengan benar akan sangat menguntungkan bagi para pembudidaya dibandingkan dengan teknologi budidaya konvensional yang selama ini telah lama berkembang.

Teknologi bioflok terbukti lebih stabil daripada sistem yang budidaya yang didominasi oleh plankton (konvensional) karena tidak tergantung pada sinar matahari. Dalam teknologi bioflok, penggunaan air juga akan lebih sedikit karena hanya menambahkan saja jika terjadi penguapan.

FUNGSI BIOFLOK DALAM MEDIA BUDIDAYA

Secara rinci dapat dijelaskan bahwa bioflok yang tersusun dari berbagai macan mikroorganisme yang ada di dalam kolom air mempunyai fungsi sebagai berikut:

Mengurai bahan organik dan menghilangkan senyawa beracun

Bakteri yang membentuk flok dapat mengurai bahan organik yang berasal dari sisa pakan dan feces didalam kolam. Dengan kondisi aerob, bahan organik tersebut diurai menjadi mineral anorganik sedangkan amonia akan disintesis menjadi protein sel dan sebagian lagi dioksidasi oleh bakteri Nitrosomonas menjadi nitrit dan kemudian dirubah menjadi nitrat oleh bakteri Nitrobakter.

Menstabilkan kualitas air

Dalam penerapan teknologi bioflok, ciri umum keberhasilannya adalah tercapainya kondisi pH yang stabil dan sedikit lebih rendah dari pH normal, dengan fluktuasi harian kurang dari 0,5. Seperti diketahu bahwa pengaruh amonia akan berkurang jika kondisi pH lebih rendah dari normal. Kondisi ini membuat air menjadi stabil sehingga dapat mengurangi stres pada ikan.

Mengubah amonia menjadi protein sel yang diperkaya karbohidrat

Salah satu jenis bakteri yang harus ada dalam sistem bioflok adalah bakteri Bacillus megaterium. Hal ini patut menjadi cacatan bagi para pembudidaya yang hendak menerapkan teknologi bioflok. Untuk itu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan inokulan probiotik yang dijual dipasaran.
Pemanfaatan amonia oleh bakteri heterotrof aerobik adalah cara yang paling jitu dalam pengendalian amonia, karena bakteri heterotrof memiliki waktu pembelahan yang sangat cepat dalam hitungan jam. Jika dibandingkan  dengan bakteri nitrifikasi yang memerlukan waktu hingga 3 hari dalam membelah diri, maka penggunaan bakteri heterotrof akan sangat lebih efisien.

Menekan organisme patogen

Kehadiran bioflok yang terdiri dari berbagai bakteri nonpatogen dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen yang merugikan. Hal ini dikarenakan ada beberapa jenis bakteri yang mengeluarkan antibiotik atau senyawa asam organik yang bersifat menekan bakteri merugikan dalam media budidaya.

Bila bioflok dimakan oleh ikan maka senyawa biopolimer (PHA) yang terdapat dalam gumpalan bioflok akan diuraikan oleh enzim pencernaan menjadi asam alkanoat yang dapat menekan bakteri merugikan didalam usus, sehingga peran bioflok juga sangat penting dalam menjaga kesehatan pencernaan ikan.

Sebagai makanan tambahan bagi ikan

Berkaitan dengan penggunaan pakan pabrikan yang semakin mahal, untuk mengurangi FCR bioflok diharapkan mampu menjadi makanan tambahan bagi ikan karena mengandung nutrisi yang baik dengan kadar protein yang tinggi.

PROSES PEMBENTUKAN BIOFLOK

Mikroba penyusun bioflok terdiri dari bakteri, jamur, mikroalga, dan zooplankton. Komposisi pembentuk flok sangat tergatung oleh masukan bahan organik, bakteri, dan alga yang menyusunnya. Keberadaan flok juga sangat dipengaruhi oleh perubahan nutrisi dan perubahan lingkungan.

Proses pembentukan bioflok dimulai dari akumulasi bahan organik yang ada di dalam kolom air. Dengan tidak melakukan penggantian air dan melakukan pengadukan bahan organik secara terus-menerus maka bioflok akan berkembang. Penambahan input karbon sebagai sumber energi akan mempercepat perkembangan mikroba dan membentuk flokulasi. Seiring dengan perkembangan jumlah bakteri, maka perkembangan plankton akan terhambat karena terbatasnya orthopospat.

Dominasi bakteri akan terjadi di dalam kolam dan dapat membentuk flok apabila terjadi qourum sensing. Bakteri-bakteri dengan molekul yang sama akan saling berikatan membentuk flok. Penambahan kapur/ dolomit yang mengandung kation divalent (Ca dan Mg) akan mempercepat proses pembentukan flok.

memepersiapkan media  pemeliharaan merupakan tahan yang sangat penting untuk suksesnya pembentukan flok
Persiapan Media Pemeliharaan: Penambahan Kapur dan Mollases untuk mempercepat pembentukan flok

Ukuran flok tergantung pada usia budidaya dan lama bioflok sejak mulai terbentuk. Semakin lama usia budidaya maka akan semakin besar ukuran flok. Semakin besar ukuran flok maka akan semakin menambah luas permukaanya pada kolam sehingga akan semakin efektif dalam mengurai bahan organik menjadi mineral anorganik.

KONDISI YANG MENDUKUNG PEMBENTUKAN FLOK

Bahan organik yang cukup

Syarat utama pembetukan flok adalah adanya bahan organik yang cukup. Bioflok akan terbentuk dengan baik apabila Total Organik Karbon telah mencapai 100 ppm. Pada umumnya, pada awal budidaya akan diawali dengan sistem plankton. Semakin bertambahnya umur budidaya dimana pemberian pakan sudah mulai banyak, maka bahan organik sisa pakan dan feces akan semakin banyak dan hal ini akan mendukung bakteri untuk berkembang dan membentuk flok dalam kolam.

Pergeseran perkembangan populasi bakteri terhadap plankton biasanya dapat dilihat dari banyaknya busa dipermukaan air. Pada budidaya lele, umumnya perubahan dominasi plankton menjadi bakteri akan terjadi sekitar 3-5 minggu.

C/N Rasio

Perkembangan bakteri heterotrof sangat tergantung oleh nilai C/N rasio. Agar perkembangan bakteri heterotrof pembentuk flok optimum, maka nilai C/N rasio harus berada pada kisaran antara 15-20. Untuk memenuhi nilai C/N rasio yang sesuai maka perlu penambahan bahan-bahan sumber karbon, seperti molasses, tepung, atau gula ke dalam air atau dicampurkan dengan pakan.

Nilai C/N rasio dalam perairan harus dijaga agar tidak kurang dari 12, karena pada kondisi dimana C/N rasio kurang dari 12,  bakteri heterotrof akan memanfaatkan N organik sebagai sumber N. Berbeda jika nila C/N rasio diatas 12 maka bakteri heterotrof akan memanfaatkan N anorganik sebagai sumber N.

Aerasi dan Pengadukan

Aerasi berfungsi untuk menambah usplai oksige dalam air, dimana oksigen sangat diperlukan oleh bakteri untuk mengurai bahan organik, mengoksidasi amonia menjadi nitrit kemudian menjadi nitrat. Kondisi yang cukup oksigen, bakteri akan mampu mengurai bahan organik secara sempurna, sehingga tidak menghasilka bahan yang bersifat racun dan membahayakan bagi ikan.

Pengadukan berfungsi untuk mencegah bahan organik dan flok mengendap di dasar kolam sehingga dalam kondisi anaerobik. Dalam kondisi anaerobik, bakteri akan menggunakan sulfat maupun nitrat untuk mengoksidasi bahan organik sehingga menghasilkan gas-gas beracun (H2S, Nitrit, Amonia) yang sangat berbahaya bagi kehidupan ikan.

Suhu dan pH

Suhu berkaitan erat dengan proses metabolisme. Semakin tinggi suhu maka akan semakin cepat proses metabolisme sel dari mikroorganisme. Pada suhu rendah flok tidak dapat terbentuk. Semakin tinggi suhu maka flok yang terbentuk akan semakin besar. Agar kestabilan flok terjaga maka harus diusahakan suhu air pada kondisi sedang (20-25 0C).

Kondisi pH akan berpengaruh terhadap kestabilan flok. Penambahan bahan yang dapat nenaikkan atau menurunkan pH dapat membantu kestabilan flok. pH akan berkaitan dengan nilai alkalinitas dan konduktifitas.

N/P Rasio

NIla N/P rasio yang rendah (kurang dari 10) akan menyebabkan kondisi perairan didominasi oleh blue green algae dan dinoflagellata. Sedangkan green algae dan diaton akan tertekan perkembangannya karena keterbatasan N. Dalam teknologi bioflok nilai N/P rasio harus diusahakan lebih tinggi dari 10 agar phospat dapat menjadi faktor pembatas yang akan menghambat pertumbuhan alga dan diatom. Kondisi seperti ini akan memberikan kesempatan kepada bakteri untuk berkembang, terutama dari kelompok bakteri Bacillus.

Posted on Senin, Oktober 07, 2013 by marbowo leksono

No comments

Kamis, 03 Oktober 2013

PENDAHULUAN

Salah satu faktor kegagalan budidaya yang sering terjadi adalah serangan penyakit pada ikan yang mengakibatkan kematian. Kerugian ekonomis ini, tentu sering menjadi hambatan yang menyebabkan pembudidaya berhenti berproduksi, terutama bagi pembudidaya yang masih pemula. Secara ringan, jika serangan penyakit tidak terlalu parah, biasanya akan menyebabkan kekerdilan, periode/ siklus pemeliharaan yang lebih lama, serta menyebabkan inefisiensi penggunaan pakan (nilai FCR menjadi tinggi).

Penyakit ikan didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan gangguang fungsi atau struktur dari alat tubuh atau sebagian alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. (M. Gufran H. Kordi, 2004). Timbulnya serangan penyakit pada ikan biasanya tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses hubungan yang tidak terpisahkan dari 3 faktor yaitu: kondisi ikan, keberadaan patogen, dan kondisi lingkungan. Timbulnya serangan penyakit merupakan hasil interaksi yang tidak seimbang antara 3 faktor tersebut.


gambar interaksi antara 3 komponen yang berpengaruh terhadap kesehatan ikan
Gambar ilustrasi interaksi 3 komponen budidaya yang dapat mempengaruhi kesehatan ikan
Interaksi yang tidak seimbang antara ikan, pathogen, dan lingkunganakan menyebabkan stress pada ikan yang bermuara pada menurunnya mekanisme imunitas ikan sehingga ikan menjadi lemah dan mudah terserang penyakit. Tingkat serangan penyakit yang terjadi  akan sangat tergantung pada umur ikan yang sakit, prosentase populasi ikan yang sakit, serta adanya infeksi sekunder.

Pada umumnya, penyakit yang sering menyerang pada ikan adalah penyakif infeksi yang bisa disebabkan oleh virus, bakteri, ataupun parasit.  Faktor pencetus dari timbulnya penyakit infeksi tersebut biasanya berasal dari faktor non-infeksi yaitu sifat ikan itu sendiri yang bersifat poikiloterm. Suhu tubuh ikan akan selalu menyesuaikan dengan suhu lingkungan tepat dia hidup, sifat ini menyebabkan rendahnya tingkat metabolisme ikan jika suhu air mengalami menurunan.

Pengamatan terhadap kesehatan ikan dan lingkungan tempat ikan hidup (kualitas air) merupakan kunci utama dalam upaya pencegahan hama dan penyakit ikan. Menjaga keserasian antara 3 komponen budidaya merupakan suatu keharusan, disini pembudidaya memegang peranan yang penting untuk selalu melakukan pengamatan secara rutin dan konsisten. Jika pengamatan dilakukan secara rutin dan konsisten, maka jika ada perubahan yang terjadi terhadap ketiga faktor tersebut dapat segera di atasi tepat pada waktunya. Penanganan secara cepat akan mengurangi resiko terjadinya serangan penyakit yang dapat menimbulkan kerugian yang lebih besar.

FAKTOR NON PARASITER PEMICU TIMBULNYA PENYAKIT PADA IKAN

1. Stress

Semua perubahan lingkungan yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi ikan dapat dianggap sebagai faktor penyebab stress bagi ikan. Biasanya yang sering terjadi adalah karena perubahan faktor kimia-fisika lingkungan media pemeliharaan. Selain faktor kimia-fisika stress pada ikan dapat dipicu karena transportasi dan penanganan saat tebar benih yang kurang baik.

Secara alami, ikan seringkali mampu beradaptasi terhadap faktor kimia-fisika air tanpa terjadi masalah, akan tatapi jika kondisi ikan sudah tidak prima, maka akan mudah sekali stress. Faktor stressor yang disebabkan karena faktor kimia-fisika air dapat diminimalis dengan cara mengkondisikan air media pemeliharaan berada pada kondisi optimum, dengan kata lain bahwa semua faktor kimia-fisika air harus dimonitor agar selalu pada kondisi yang baik untuk kehidupan ikan.

Sedangkan faktor stressor yang disebabkan oleh pengangutan dapat diminimalir dengan mengurangi kepadatan ikan di diwadah pengangkutan. Usahakan untuk tidak memaksakan dengan membawa ikan diwadah dengan kepadatan yang sangat tinggi, apalagi jika jarak yang ditempuh untuk membawa ikan lebih dari 1 jam perjalanan.

2. Kekurangan Gizi

Ikan yang tidak diberi pakan dengan asupan gizi yang seimbang dapat menyebabkan berbagai masalah pada kesehatannya. Kekurangan gizi terutama kandungan protein pakan, akan menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat, tidak sempurnanya pembentukan organ reproduksi, serta menjadikan ikan mudah terserang penyakit. Sedangkan defisiensi lemak akan menyebabkan ikan kesulitan bereproduksi dan terjadi perubahan warna kulit yang tidak normal.

Komposisi pakan yang tidak seimbang juga  bisa menyebabkan berbagai masalah dalam usaha budidaya. Kelebihan protein dan lemak dapat menyebabkan penumpukan lemak di hati dan ginjal yang menyebabkan ikan tiba-tiba tidak nafsu makan disertai dengan bengkak disekitar perut. Penumpukan lemak di organ dalam lainnya juga menyebabkan kualitas telur pada ikan betina menurun karena telur tertekan dan tertutup timbunan lemak.

Untuk menghindari kerugian karena kekurangan gizi, maka asupan pakan yang diberikan pada ikan harus lengkap dan seimbang. Komposisi dan kandungan gizi pada pakan pellet untuk ikan karnivora, tentu saja akan sangat berbeda dengan ikan yang bersifat herbivora. Oleh karena itu, pilihlah jenis pakan yang tepat sesuai dengan sifat ikan.

3. Kelebihan asupan pakan (overfeeding)

Kondisi overfeeding merupakan kejadian dimana pakan yang diberikan pada ikan terlalu berlebihan dan terjadi secara terus menerus. Overfeeding akan sangat berbahaya karena sisa pakan yang tidak termakan akan menumpuk di dasar kolam/ tambak dan apabila tidak terurai dengan sempurna akan menimbulkan penurunan kualitas air. Penurunan kualitas air terutama  terutama pada peningkatan kandungan amoniak yang dapat menimbulkan keracunan pada ikan.

Selain penurunan kualitasa air, pada ikan yang rakus kelebihan pakan juga akan menyebabkan ikan kekenyangan yang berakibat pada pecahnya usus halus atau usus besar sehingga menyebabkan peradangan. Peradangan yang terjadi lama kelamaan akan menyebabkan pecahnya dinding perut pada bagian ventral . Gejala pecahnya usus pada berbagai jenis ikan rakus biasa diistilahkan sebagai RIS (Reptured Intestine Syndrome). (J.H. Boon, 1987)

4. Keracunan

Penyakit pada ikan seringkali menyerang jika kondisi kimia-fisika perairan/ media budidaya sudah melampaui ambang batas toleransi. Keracunan juga dipicu karena kondisi  gas-gas dan ion-ion di dalam perairan. Apabila pertukaran gas-gas dan ion-ion terjadi secara efisien, maka proses terjadinya keracunan sangat mudah. Keracunan yang biasa terjadi adalah yang disebabkan karena meningkatnya konsentrasi NH3. Keracunan ammonia bisa terjadi pada kondisi kolam yang mengalami penumpukan bahan organik berlebih. Reaksi berikut adalah reaksi keseimbangan yang terjadi di dalam perairan, Reaksi ini bersifat reversible:

〖NH〗_3+ N_2 O ≪=≫ 〖NH〗_4 OH ≪=≫ 〖NH〗_4+ + 〖OH〗^-

Kondisi yang diharapkan adalah terjadi reaksi keseimbangan yang bergerak kearah kanan atau kearah produksi ion ammonium dan ion hidroksida. Akan tetapi pada kondisi dimana pH air meningkat cukup signifikan (>8,0) maka reaksi akan bergerak kearah kiri sehingga produksi ammonia meningkat. Proses keracunan ammonia terjadi karena ammonia tidak bisa meninggalkan darah. Karena konsentrasi ammonia di air lebih tinggi dari pada d dalam darah, maka ammonia di air akan mengalir masuk ke dalam darah ikan. Konsentrasi ammonia yang tinggi didalam darah menyebabkan aseptis penyakit otak yang menyerang system syaraf pada ikan.

Selain keracunan ammonia, keracunan yang sering muncul adalah keracunan yang berasal dari pakan, terutama untuk budidaya dengan sisitem intensif. Keracunan dari pakan bisa disebabkan karena aktifitas mikroorganisme yang mencemari pakan atau karena penurunan kualitas pakan yang disebabkan faktor penyimpanan yang tidak baik. Pakan yang tengik dan mengandung jamur Mycotoksin dan Aspergilus flavus apabila tetap diberikan kepada ikan bisa menyebabkab kerusakan hati.

5. Memar dan Luka

Kondisi tubuh ikan yang memar dan luka dapat menjadi pintu untuk masuknya penyakit. Luka dan memar terjadi pada ikan karena proses penanganan yang kurang baik saat penebaran ataupun pemindahan. Penanganan ikan yang kurang hati-hati, baik saat penanganan ditempat asalnya, saat pengangkutan, dan pada saat sampai ditempat tujuan untuk ditebar dapat menimbulkan stress dan menyebabkan bibit penyakit mudah menyerang. Selama pengangkutan harus diperhatikan dengan seksama agar air media didalam wadah pengangut berada pada kondisi yang tetap baik. Jumlah ikan yang diangkut, jarak tempuh, dan waktu pengangkutan juga perlu diperhatikan.

Dalam pengangkutan, terutama untuk ikan-ikan yang mempunyai sifat kanibal, ukuran ikan dalam satu wadah harus benar-benar seragam. Saling tabrak dan serang yang terjadi selama pengangkutan dapat menimbulkan memar dan luka yang akan sangat merugikan, karena berpotensi terkena penyakit.

Posted on Kamis, Oktober 03, 2013 by marbowo leksono

No comments

Kamis, 26 September 2013

Pokdakan Mina Lancar adalah salah satu kelompok pembudidaya ikan di desa Gembong, kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga yang telah dikukuhkan menjadi pokdakan dengan kelas Kelompok madya pada tahun 2012. Menurut catatan, baru 2 pokdakan di kecamatan Bojongsari yang telah berhasil naik kelas menjadi kelompok madya, dan salah satunya adalah pokdakan Mina Lancar.

Semenjak berdirinya pada tahun 2008, pokdakan Mina Lancar tercatat hanya menerima 2 kali bantuan dari pemerintah, dan yang terakhir adalah pada tahun 2012, berupa program penguatan kelembagaan kelompok pelaku utama dari Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kab. Purbalingga. Program tersebut merupakan program dekonsentrasi dari kementrian KKP melalui set-Bakorluh Jateng.

Melalui kegiatan penguatan kelembagaan kelompok pelaku utama tersebut pokdakan mina lancar hanya menerima bantuan berupa papan nama kelompok, buku-buku administrasi, dan bantuan permodalan berupa uang yang dipergunakan untuk percontohan budidaya.

Dari bantuan permodalan yang dibilang tidak seberapa tersebut ternyata dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mengusahakan pembesaran lele dengan sistem bioflok. Bukan tanpa hambatan ketika pokdakan mina lancar mengusahakan pembesaran lele dengan sistem bioflok.Selain secara teknis teknologi ini adalah teknologi yang relatif baru untuk budidaya lele, sarana dan prasarana yang ada juga sangat minim.

Kendala utama yang dihadapi saat budidaya dengan sistem bioflok pada saat itu adalah terjadinya mortalitas yang tinggi saat benih berumur 7-15 hari setelah tebar. Hingga Saat panen tiba, tingkat kelulushidupannya hanya sekitar 60% dengan FCR 1.02. 

Hasil yang jelek tidak lantas menjadikan pembudidaya berputus asa, hal ini justru membuat mereka merasa tertantang. Oleh karena itu, diputuskan untuk membuat 1 unit kolam lagi. Dengan bermodalkan 2 unit kolam bundar, kelompok mulai mempesiapkan siklus berikutnya.

Pengalaman adalah guru yang paling baik, itulah pepatah yang mungkin tepat bagi pokdakan Mina Lancar. Berdasarkan pengalaman siklus pertama, kelompok melakukan penelusuran dari catatan budidaya mereka. Diskusi panjang seringkali terjadi antar anggota dan penyuluh saat pertemuan rutin.
salah satu suasana diskusi pada pertemuan rutin pokdakan mina lancar gembong
Gambar suasana diskusi yang terjadi saat pertemuan rutin pokdakan Mina Lancar, Gembong

Dari diskusi tersebut, akhirnya ditemukan kesimpulan sementara yang dianggap layak untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Akhirnya satu kolam diputuskan untuk pemeliharaan dengan sistem bioflok yang telah dimodifikasi, dan satu kolam lagi untuk pemeliharaan dengan sistem bioflok sesuai SOP yang lama.

Bagaimanakah hasilnya?
Bersambung.......................

Posted on Kamis, September 26, 2013 by marbowo leksono

No comments

Rabu, 11 September 2013

A.    PENDAHULUAN

Ikan nila telah dibudidayakan di lebih dari 93 negara dan saat ini, ikan ini bahkan telah tersebar ke Negara beriklin tropis maupun subtropis. Sedangkan pada wilayah beriklim dingin ikan ini tidak dapat hidup dengan baik.

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan spesies ikan yang berasal dari kawasan Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya di Afrika. Secara anatomis, bentuk tubuhnya memanjang, pipih kesamping, dan warna putih kehitaman. Di Indonesia, jenis ikan ini merupakan ikan konsumsi air tawar yang banyak dibudidayakan.

Nila disukai oleh banyak kalangan karena mudah dipelihara, dapat dikonsumsi oleh segala lapisan serta rasa daging yang enak dan tebal. Tekstur daging Ikan Nila memiliki ciri tidak ada duri kecil dalam dagingnya. Apabila dipelihara di tambak akan lebih kenyal, dan rasanya lebih gurih, serta tidak berbau lumpur. Oleh karena itu, Ikan Nila layak untuk digunakan sebagai bahan baku dalam industry fillet dan bentuk-bentuk olahan lain. Ekspor Nila dari Indonesia umumnya dalam bentuk frozen fillet.

Ikan Nila pada umumnya akan matang kelamin mulai umur 5-6 bulan. Ukuran matang kelamin berkisar 30-350 g. Rasio betina : jantan berkisat antara (2-5) : 1, keberhasilan pemijahan berkisar 20-30% per minggu dengan jumlah telur antara 1-4 butir/gram induk. Kelulushidupan (Survival Rate-SR) dari telur menjadi benih (ukuran < 5 gram) dapat mencapai 70-90%. SR fingerling menjadi ikan konsumsi berkisar 500-600 g dapat mencapai 70-98%. Nila mempunyai pertumbuhan cepat, rataan pertumbuhan harian (Average Daily Growth-ADG) dapat mencapai 4,1 gram/hari.

Nila mempunyai sifat omnivora (pemakan nabati maupun hewani), sehingga usaha budidayanya sangat efisien dengan biaya pakan yang rendah. Nilai Food Convertion Ratio (FCR) cukup baik, berkisar 0.8-1.6. Artinya, 1 kilogram Nila konsumsi dihasilkan dari 0.8-1.6 KG pakan, sebagai berbandingan nilai efisiensi pakan atau konversi pakan (FCR), ikan Nila yang dibudidayakan di tambak atau keramba jaring apung adalah 0.5-1.0.

Pembenihan ikan Nila dapat dilakukan secara missal di perkolaman secara terkontrol dalam bak-bak beton. Pemijahan secara missal ternyata lebih efisien, karena biaya yang dibutuhkan relatif lebih kecil dalam memproduksi larva untuk jumlah yang hampir sama. Pembesaran ikan nila dapat dilakukan di Keramba Jaring Apung (KJA), kolam, kolam air deras, perairan umun baik sungai, danau maupun waduk dan tambak.

Budidaya Nila secara monokultur di kolam rata-rata produksinya adalah 25.000 kg/ha/panen, di keramba jaring apung 1.000 kg/unit/panen (200.000 kg/ha/penen), dan ditambak sebanyak 15.000 kg/ha/panen. Budidaya Ikan Nila di tambak, pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan di kolam atau di jaring apung. Nila ukuran 5-8 cm yang dibudidayakan di tambak selama 2.5 bulan dapat mencapai 200 g, sedangkan di kolam untuk mencapai ukuran yang sama diperlukan waktu 4 bulan.

Pertumbuhan Ikan Nila jantan dan betina dalam satu populasi akan selalu jauh berbeda, karena Nila jantan 40% lebih cepat dari pada Nila betina. Nila betina, jika sudah mencapai ukuran 200 g pertumbuhannya semakin lambat, sedangkan yang jantan tetap tumbuh dengan pesat. Hal ini akan menjadi kendala dalam memproyeksikan produksi.

Beberapa waktu lalu, telah ditemukan teknologi proses jantanisasi; yaitu membuat populasi ikan jantan dan betina maskulin melalui sexreversal; dengan cara pemberian hormone 17 Alpa methyltestosteron selama perkembangan larva sampai umur 17 hari. Saat ini teknologi sex reversal telah berkembang melalui hibridisasi antarjenis tertentu untuk dapat menghasilkan induk jantan super dengan kromosom YY; sehingga jika dikawinkan dengan betina kromosom XX akan menghasilkan anakan jantan XY.

B.    PEMBESARAN DI KOLAM

Usaha pembesaran Nila dapat dilakukan pada dataran rendah sampai agak tinggi sampai dengan 500 m dari permukaan laut (dpl). Sumber air tersedia sepanjang tahun dengan kualitas air tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
Gambar Nila Merah Larasati, salah satu ikan unggulan produksi SATKER JANTI
Persyaratan lokasi pemeliharaan pada kolam atau tambak sebagai berikut :
  1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lembung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam;
  2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3 – 5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi;
  3. Kualitas air untuk pemeliharaan Ikan Nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecokelatan karena banyak mengandung Diatomae. Tingkat kecerahan air dapat diukur dengan alat yang disebut piring secchi (secchi disc). Pada kolam dan tambak, angka kecerahan yang baik antara 20 – 30 cm;
  4. Debit air untuk kolam air tenang 8 – 15 liter/detik;
Setidaknya, dua minggu sebelum dipergunakan kolam harus dipersiapkan dengan baik. Dasar kolam dikeringkan, dijemur beberapa hari, dibersihkan dari rerumputan, dicangkul dan diratakan. Tanggul dan pintu air diperbaiki jangan sampai terjadi kebocoran, saluran air diperbaiki agar pasokan air menjadi lancar. Saringan air dipasang pada pintu pemasukan maupun pengeluaran air.

Pengapuran tanah dasar perlu dilakukan untuk memperbaiki pH tanah dan memberantas hama. Untuk itu, dapat digunakan kapur tohor sebanyak 100 – 300 kg/ha atau kapur pertanian dengan dosis 500–1.000 kg/ha. Setelah itu, pupuk kandang ditabur dan diaduk dengan tanah dasar kolam, dengan dosis 1 – 2 ton/ha. Dapat juga pupuk kandang dionggokkan di depan pintu air pemasukan, agar bila air dimasukkan, maka dapat tersebar secara merata.

Setelah semuanya siap, kolam diairi. Mula-mula sedalam 5 – 10 cm dan dibiarkan 2 – 3 hari agar terjadi mineralisasi tanah dasar kolam. Lalu tambahkan air lagi sampai kedalaman 75 – 100 cm. Kolam siap untuk ditebari bibit ikan hasil pendederan jika fitoplankton telah terlihat tumbuh dengan baik.

Fitoplankton yang tumbuh dengan baik ditandai dengan perubahan warna air kolam menjadi kuning kehijauan. Jika diperhatikan, pada dasar kolam juga mulai banyak terdapat organisme renik yang berupa kutu air, jentik-jentik serangga, cacing, siput dan sebagainya. Selama pemeliharaan ikan, ketinggian air kolam diatur sedalam 75 – 100 cm. Pemupukan susulan harus dilakukan 2 minggu sekali, yaitu pada saat makanan alami sudah mulai habis.

Pupuk susulan menggunakan pupuk organik sebanyak 500 kg/ha. Pupuk itu dibagi menjadi empat dan masing-masing dimasukkan ke dalam karung, dua buah di kiri dan dua buah di sisi kanan aliran air masuk. Dapat pula ditambahkan beberapa karung kecil yang diletakkan di sudut-sudut kolam. Urea dan TSP masing-masing sebanyak 30 kg/ha diletakkan di dalam kantong plastik yang diberi lubang-lubang kecil agar pupuk dapat larut sedikit demi sedikit. Kantong pupuk tersebut digantungkan sebatang bambu yang dipancangkan di dasar kolam, posisi terendam tetapi tidak sampai ke dasar kolam.

Pada sistem pemeliharaan intensif atau teknologi maju, pemeliharaan dapat dilakukan di kolam atau tambak air payau dan pengairan yang baik. Pergantian air dapat dilakukan sesring mungkin sesuai dengan tingkat kepadatan ikan. Volume air yang diganti setiap hari sebanyak 20% atau bahkan lebih. Pada usaha intensif, benih Nila yang dipelihara harus tunggal kelamin, dan jantan saja. Pakan yang diberikan juga harus bermutu, dengan ransum hariannya 3% dari berat biomassa ikan perhari. Makanan sebaiknya berupa pelet yang berkadar protein berkisar 30%, dengan kadar lemak 6 – 8%.

C.    PEMBESARAN DI KARAMBA JARING APUNG

Untuk pembesaran di perairan umum dengan menggunakan KJA, kedalaman air minimal 5 meter dari dasar jaring pada saat surut terendah, kekuatan arus 20 – 40 cm/detik. Persyaratan kualitas air untuk pembesaran ikan nila adalah pH air antara 6,5 – 8,6, suhu air berkisar antara 25–30 0C. Oksigen terlarut lebih dari 5 mg/l, kadar garam air 0 – 28 ppt, dan Ammoniak (NH3) kurang dari 0,02 ppm.

Wadah untuk pembesaran di Karamba Jaring Apung (KJA) umumnya berukuran 4x4x3 m3. Spesifikasi KJA sebagai berikut :
  1. Pelampung: bahan styrofoam atau drum, bentuk silindris, Jumlah pelampung minimal 8 buah/jaring;
  2. Tali jangkar: bahan polyetiline (PE), panjang 1,5 kali kedalaman perairan, jumlah 5 utas/jaring, diameter 0.75 inci;
  3. Jangkar: bahan besi/blok beton/batu, bentuk segi empat, berat minimal 40 kg/buah, jumlah 5 buah/jaring;
  4. Jaring: bahan polyetiline (PE 210 D/12), ukuran mata jaring 1 inci, warna hijau, ukuran jaring (7x7x2,5 m3).
  5. Luas peruntukan areal pemasangan jaring maksimal 10% dari luas potensi perairan atau 1% dari luas perairan waktu surut terendah dan jumlah luas jaring maksimal 10% dari luas areal peruntukan pemasangan jaring.
Sebagai upaya sterilisasi, sebelum ditebar, benih direndam dalam larutan Kalium Pemanganat konsentrasi 4 – 5 ppm selama kurang lebih 15 – 30 menit. Adaptasi suhu dilakukan agar suhu dilakukan agar suhu pada kemasan ikan sama suhu di KJA dengan cara merendam wadah kemasan benih ke KJA selama 1 (satu) jam.

Untuk Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi hari agar ikan tidak mengalami stres atau kematian akibat perbedaan suhu tersebut. Benih yang ditebar berukuran 5 – 8 cm, berat 30 – 50 gram dengan padat tebar 50 – 70 ekor/m3. Pakan digunakan untuk pembesaran ikan nila adalah lambit, pembersih jaring, pengukur kualitas air (termometer, sechsi disk, kertas lakmus), peralatan lapangan (timbangan, hapa, waring, ember, alat panen, dll), dan sampan.

Lama pemeliharaan adalah 4 bulan dengan tingkat kelangsungan hidup/Survival Rate (SR) 80%. Pakan yang diberikan berupa pelet apung dengan dosis 3 – 4% dari bobot total ikan. Frekuensi pemberiannya, 3 kali sehari pada pagi, siang dan sore dengan rasio konversi pakan (FCR) 1,3. Panen dapat dilakukan berdasarkan permintaan pasar, namun umumnya ukuran panen pada kisaran 500 gram/ekor.

Gambar pemeliharaan Nila di KJA
Panen dilakukan pada pagi atau sore hari untuk mengurangi resiko kematian ikan. Penanganan panen dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup maupun ikan segar. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke konsumen dalam keadaan hidup dan segar antara lain: (1) pengangkutan menggunakan air yang bersuhu rendah sekitar 200C; (2) waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari: (3) jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.

Posted on Rabu, September 11, 2013 by marbowo leksono

1 comment

Jumat, 30 Agustus 2013

A. PENDAHULUAN

Ikan lele (Clarias.sp) merupakan jenis ikan yang mudah dibudidayakan. Selain karena lebih tahan terhadap cuaca ekstrim, ikan lele juga termasuk ikan pertumbuhannya sangat cepat. Dengan alasan seperti itu, banyak pembudidaya memilih ikan lele sebagai komoditas untuk dibudidayakan.

Lele termasuk ikan yang mudah untuk beradaptasi sehingga ikan ini bisa dipelihara di berbagai media pemeliharaan, salah satunya adalah di kolam terpal. Kolam terpal adalah kolam yang dasar maupun sisi dindingnya di buat dari terpal. Dari mulai proses pemijahan sampai pembesaran ikan lele bisa dilakukan pada kolam terpal.

Ikan lele yang hidup di alam memijah pada musim penghujan dari bulan Mei sampai Oktober. Ikan lele juga dapat memijah sewaktu-waktu sepanjang tahun, apabila keadaan air kolam sering berganti. Pemijahan juga di pengaruhi oleh makanan yang diberikan. Makanan yang bermutu baik akan meningkatkan vitalitas ikan sehingga ikan lele lebih sering memijah.

Apabila telah dewasa, lele betina akan membentuk telur di dalam indung telurnya. Sedangkan lele jantan membentuk sperma atau mani. Bila telur-telurnya telah berkembang maksimum yaitu mencapai tingkat yang matang untuk siap dibuahi maka secara alamiah ikan lele akan memijah atau kawin.

B. PEMIJAHAN SECARA ALAMI

Pemijahan alami pada hakekatnya adalah proses pembuahan sel telur oleh sel sperma tanpa melalui perantara/ bantuan tangan manusia. Pembuahan dilakukan secara alami dengan menempatkan pasangan induk dewasa di dalam wadah kolam/ terpal yang telah dimanipulasi. Adapun persiapan untuk melakukan pemijahan lele secara alami dapat dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu:

1. Persiapan Kolam Pemijahan

Kolam pemijahan dibuat diatas tanah dengan menggunakan terpal serta bambu sebagai dindingnya. Kolam pemijahan untuk sepasang induk biasanya berukuran 2 x 4 m dengan ketinggain dinding kolam kurang lebih 1 meter. Ketinggian air optimum berada disekitar 25-30 cm. Biasanya kolam dengan ukuran 2 x 4 m, induk yang digunakan dalam sekali pemijahan adalah 6 ekor, terdiri dari 2 ekor jantan dan 4 ekor betina.

2. Pembuatan Kakaban

Kakaban dibuat dengan  menggunakan ijuk yang telah dibersihan dari lidi-lidi besarnya. Pembuatan kakaban dimaksudkan sebagai media untuk menempelnya telur hasil pemijahan agar mudah dalam pemindahannnya.
Selain itu pemasangan ijuk juga dimaksudkan agar induk tidak mengalami luka saat terjadi kejar-kejaran sebelum memijah.

Cara membuat kakaban adalah dengan memotong-motong ijuk kurang lebih sepanjang 30 - 40 cm kemudian dipaku bersama dua bilah bambu yang sudah diserut halus. Panjang kakaban dibuat 1,5 m dan untuk kolam ukuran 2m x 4m dibutuhkan 14 - 18 buah kakaban.
Gambar kolam pemijahan yang telah dipasangi kakaban
3. Persiapan Kolam Penetasan

Kolam penetasan dibuat dengan ukuran 4m x 3m dengan ketinggian dinding 50cm, kolam ini juga dibuat dengan menggunakan terpal agar lebih mudah. Untuk satu kali pemijahan dibutuhkan 5 buah kolam penetasan, ini disebabkan telur yang dihasilkan sangat banyak sehingga harus dibagi ke beberapa kolam penetasan untuk menghindari kepadatan yang berlebihan sehingga mengurangi mortalitas.

4. Persiapan Induk

Induk yang akan dipijahkan harus dipersiapkan terlabih dahulu dengan cara memberikan pakan dengan kadar protein tinggi secara rutin minimal 3-5% dari total berat induk per hari.

Pemberian protein tinggi dimaksudkan agar terjadi pematangan gonad yang sempurna, sehingga akan tercapai tingkat fekunditas yang tinggi.

Ciri indukan yang siap untuk dipijahkan antara lain untuk betina adalah alat kelamin sudah berwarna merah jambu ataupun kalau itu tidak begitu kelihatan tinggal dipegang perutnya kalau terasa lembek berarti sudah siap. Untuk yang jantan juga demikian, bila alat kelaminnya sudah kelihatan berwarna merah muda dan menonjol atau bisa juga dilihat dari siripnya bagian atas yang berdiri.

C. PROSES PELAKSANAAN PEMIJAHAN

Proses pelaksanaan pemijahan diawali dari pembersihan kolam pemijahan. Setelah kolam pemijahan siap, maka akan lebih baik jika kakaban dipasang terlebih dahulu di dasar kolam sebelum diisi dengan air.

1. Pemasangan Kakaban

Susun kakaban membujur mengikuti sisi terpanjang kolam pemijahan. Atur kakaban secara berjejer, rapat dan rapi. Jangan biarkan celah kosong diantara kakaban agar semua telur dapat menempel di ijuk. Jadi, seluruh dasar kolam harus tertutup kakaban. Agar tidak mengapung, beri pemberat diatas kakaban  dengan batu atau pipa paralon yang diisi dengan adonan semen.

2. Pengisian Air

Setelah kakaban tertata dengan rapi dan rapat maka dilanjutkan dengan mengisi air ke dalam kolam pemijahan. Sumber air bisa dari sumur maupun saluran irigasi. Biarkan pengisian ari secara terus menerus hingga ketinggia air sekitar 25-30 cm.

3. Pemindahan Induk

Pemindahan induk ke dalam kolam pemijahan dilakukan pada wa ktu sore hari, sekitar pukul 4. Induk yang telah diseleksi dan memenuhi syarat untuk dipijahkan dimasukkan ke dalam kolam pemijahan secara hari-hari dan tidak kasar agar tidak menyebabkan stres. Cara mengambil indukan yang siap pijah adalah dengan mengambilnya satu-persatu dari ember atau bak plastik menggunakan seser. Tenggelamkan seser ke dalam kolam pemijahan dan biarkan induk keluar sendiri dari seser.

Biasanya, induk lele yang diletakkan dalam kolam pemijahan akan memijah pada malam harinya. Berdasarkan pengalaman, jika malam harinya induk lele memijah, keesokan harinya sekitar pukul 4 pagi telur sudah memnuhi kakaban.

Setelah proses pemijahan selesai, induk lele sangkuriang segera dipindahkan kebali ke kolam pemeliharaan induk. Namun pemindahan tersebut dilakukan setelah telur-telur dipindahkan ke kolam pemetasan. Induk yang sudah dipijahkan akandapat dipijahkan lagi setelah sekitar 20 hari, jika asupan makanannya terpenuhi.

D. PENETASAN TELUR DAN PEMELIHARAAN LARVA


Setelah induk lele memijah dan menghasilkan telur, langkah berikutnya adalah proses penetasan telur. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan pemeliharaan larva hingga akhirnya menghasilkan benih yang siap jual.

1. Persiapan Kolam Penetasan Telur

Kolam untuk kegiatan penetasa telur dianjurkan untuk dipisahkan dengan kolam pemijahan. Sehari sebelum pemijahan, kolam penetasan telur harus sudah diisi air. Untuk desinfektan, gunakan garam dapur sebanyak 3 sendok makan yang sebelumnya sudah dilarutkan dalam lima liter air bersih. Ketinggian air kolam penetasan di lokasi dengan ketinggia 1200 dpl cukup 10 cm. Semakin rendah dari permukaan laut, maka ketinggian air harus ditambah.

2. Penetasan Telur

Untuk mengetahui apakah induk lele sudah bertelur, dapat dilakukan dengan memeriksa kakaban yang di pasang di dalam kolam pemijahan. Jika kakaban telah ditempeli telur, maka induk sudah berhasil memijah, langkan berikutnya adalah memindahkan kakaban ke kolam penetasan. Waktu yang tepat untuk pemindahan kakaban adalah pada sore harinya sekitar pukul 4 sore. Selang 15 jam kemudian, atau sekitar pukul 07.00, telur-telur tersebut biasanya sudah menetas.

Gambar kakaban yang telah ditempeli telur, siap dipindahkan ke kolam penetasan
3. Pemeliharaan Larva

Proses pemeliharaan larva dimulai semenjak telur menetas hingga menghasilkan lele dengan ukuran siap tebar. Pemeliharaan benih dan larva dilakukan di kolam penetasan telur, larva yang baru menetas tidak perlu diberi makan selama 3 hari, kemudian pada hari keempat, setelah persediaan cadangan makanan berupa kuning telur habis, pemberian makan untuk larva dapat dimulai. Pakan yang sesuai untuk larva adalah cacing sutra/ rambut yang diberikan dalam keadaan hidup. Pemberian cacing sutra dilakukan kurang lebih selama 11 hari. Setelah itu, jenis pakan yang diberikan disesuaikan dengan ukuran benih.

E. PENYORTIRAN BENIH

Penyortiran benih merupakan kegiatan menyeleksi benih sesuai dengan ukuran yang diharapkan. Penyortiran benih bertujuan untuk mendapatkan keseragaman ukuran benih. Lele termasuk jenis ikan yang memiliki sifat kanibal, sehingga diusahakan agar dalam satu kolam ukuran benih yang dipelihara seragam untuk menghindari lele yang lebih besar memakan temannya sendiri saat sedang lapar.

Penyortiran benih umumnya dilakukan 2 kali, Penyortiran pertama dilakukan saat benih berumur 20 hari. Pada penyortiran pertama, biasanya akan terdapat 3 ukuran benih, yaitu ukuran 2-3 cm, 3-4 cm, dan 5-6 cm. Karena itu digunakan 3 ukuran baskom sortir.

Untuk menghemat waktu, penyortiran bisa dilakukan dengan cara bertumpuk. Yaitu dengan menyusun baskom sortir secara bertumpuk dari ukuran terkecil hingga ukuran terbesar. Dimana ukuran terbesar diletakkan dibagian paling atas. Beri ganjalan diantara baskom sortir agar terdapat ruang antar baskom sehingga benih bisa turun.
Gambar baskom sortir, dari kiri ke kanan ukuran 3-4 cm, 3-5 cm dan 4-6 cm
Penyortiran dapat dilakukan untuk 2 kolam terlebih dahulu. Angkat semua benih, sehingga kedua buah kolam tersebut kosong. Benih hasil sortir biasanya ditampung terlebih dahulu di dalam bokor hingga proses penyortiran selesai.

Usahakan air dalam kedua buah kolam tidak diganti sama sekali, setelah proses penyortiran selesai maka akan didapat benih dengan ukuran 2-3 cm, 3-4 cm, dan 5-6 cm. Benih ukuran 2-3 cm dan 3-4 cm dapat dimasukkan kembali kedalam kedua kolam tersebut. Sedangkan untuk benih dengan ukuran 5-6 cm dapat dimasukkan ke dalam kolam tersendiri yang sehari atau 3 hari sebelumnya sudah dipersiapkan dan diisi dengan air bersih.

Untuk penyortiran kedua dapat dilakukan pada saat benih berumur sekitar 30 hari. Atau sekitar 10 hari sejak penyortiran pertama. Teknis penyortiran kedua hampir sama dengan cara penyortiran pertama, penyortiran kedua difokuskan untuk mendapatkan benih dengan ukuran 3-4 cm dan 5-6 cm.

Untuk mendapatkan benih dengan ukuran yang lebih besar dari 5-6 cm maka penyortiran harus dilakukan kembali, akan tetapi pada umumnya benih dengan ukuran 5-6 cm sudah ditunggu oleh pasar, kecuali kalau ada permintaan untuk benih dengan ukuran besar dari pembeli maka penyortiran ketiga dapat dilakukan.

Posted on Jumat, Agustus 30, 2013 by marbowo leksono

No comments

Kamis, 15 Agustus 2013

A.    PENDAHULUAN

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan spesies ikan yang berasal dari kawasan Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya di Afrika. Secara anatomis, bentuk tubuhnya memanjang, pipih kesamping, dan warna putih kehitaman. Di Indonesia, jenis ikan ini merupakan ikan konsumsi air tawar yang banyak dibudidayakan setelah Ikan Mas (Cyrprinus Carpio).

Ikan nila telah dibudidayakan di lebih dari 93 negara dan saat ini, ikan ini bahkan telah tersebar ke Negara beriklin tropis maupun subtropis. Sedangkan pada wilayah beriklim dingin ikan ini tidak dapat hidup dengan baik.

Nila disukai oleh banyak kalangan karena mudah dipelihara, dapat dikonsumsi oleh segala lapisan serta rasa daging yang enak dan tebal. Tekstur daging Ikan Nila memiliki ciri tidak ada duri kecil dalam dagingnya. Apabila dipelihara di tambak akan lebih kenyal, dan rasanya lebih gurih, serta tidak berbau lumpur. Oleh karena itu, Ikan Nila layak untuk digunakan sebagai bahan baku dalam industry fillet dan bentuk-bentuk olahan lain. Ekspor Nila dari Indonesia umumnya dalam bentuk frozen fille (600 g) dan surimi.

Nila umumnya matang kelamin mulai umur 5-6 bulan. Ukuran matang kelamin berkisar 30-350 g. Rasio betina : jantan berkisat antara (2-5) : 1, keberhasilan pemijahan berkisar 20-30% per minggu dengan jumlah telur antara 1-4 butir/gram induk. Kelulushidupan (Survival Rate-SR) dari telur menjadi benih (ukuran < 5 gram) dapat mencapai 70-90%. SR fingerling menjadi ikan konsumsi berkisar 500-600 g dapat mencapai 70-98%. Nila mempunyai pertumbuhan cepat, rataan pertumbuhan harian (Average Daily Growth-ADG) dapat mencapai 4,1 gram/hari.

Nila mempunyai sifat omnivora (pemakan nabati maupun hewani), sehingga usaha budidayanya sangat efisien dengan biaya pakan yang rendah. Nilai Food Convertion Ratio (FCR) cukup baik, berkisar 0.8-1.6. Artinya, 1 kilogram Nila konsumsi dihasilkan dari 0.8-1.6 KG pakan, sebagai berbandingan nilai efisiensi pakan atau konversi pakan (FCR), ikan Nila yang dibudidayakan di tambak atau keramba jaring apung adalah 0.5-1.0.

Pembenihan ikan Nila dapat dilakukan secara missal di perkolaman secara terkontrol dalam bak-bak beton. Pemijahan secara missal ternyata lebih efisien, karena biaya yang dibutuhkan relatif lebih kecil dalam memproduksi larva untuk jumlah yang hampir sama. Pembesaran ikan nila dapat dilakukan di Keramba Jaring Apung (KJA), kolam, kolam air deras, perairan umun baik sungai, danau maupun waduk dan tambak.

Budidaya Nila secara monokultur di kolam rata-rata produksinya adalah 25.000 kg/ha/panen, di keramba jaring apung 1.000 kg/unit/panen (200.000 kg/ha/penen), dan ditambak sebanyak 15.000 kg/ha/panen. Budidaya Ikan Nila di tambak, pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan di kolam atau di jaring apung. Nila ukuran 5-8 cm yang dibudidayakan di tambak selama 2.5 bulan dapat mencapai 200 g, sedangkan di kolam untuk mencapai ukuran yang sama diperlukan waktu 4 bulan.

B.    PEMBENIHAN

Syarat lokasi kolam pembenihan adalah harus terdapat sumber air yang memadai secara teknis dan tersedia sepanjang tahun. Setidaknya, pada pemeliharaan benih, debit air yang dibutuhkan berkisar 0.5 liter/detik. Nila dapat hidup pada suhu 25-30 derajat Celcius; pH air 6.5-8-5; oksigen terlarut > 4 mg/I dan kedar ammoniak (NH3)< 0.01 mg/I; kecerahan kolam hingga 50 cm. selain itu ikan Nila juga hidup dalam perairan agaktenang dan kedalaman yang cukup.

Gambar pengeringan dan pengolahan dasar kolam

Pembenihan ikan Nila dilakukan dikolam pembenihan dengan konstruksi dari beton/semen ataupun tanah. Bentuk kolam empat persegi panjang sebanyak 4 unit. Kapasitas untuk masing-masing wadah/bak sebesar 500 m2. Aspek pembenihan dan produksi benih terdiri dari:

a) Induk

Bobot induk yang akan dipijahkan minimal sebesar 0,4 kg. Adapun perbandingan jumlah induk jantan dan betina adalah 1 : 2. Padat penebaran induk, untuk tiap pasang induk atau 3 ekor ikan, setidaknya disediakan lahan minimal 4 m2.

Untuk perawatan induk maka harus disediakan pakan tambahan berupa pellet, dedak, dan ampas tahu. Penambahan pakan alami dikolam dapat dilakukan dengan cara menggantungkan karung pupuk di bagian kolam tertentu, dengan terlebih dahulu melubaginya. Cara ini dimaksudkan agar pembusukan yang berlangsung di dalam karung tidak mengganggu kaulitas air kolam. Setelah beberapa hari biasanya disekitar karung akan tumbuh plankton.

b) Pakan

Pakan induk Nila adalah pakan buatan dapat berupa pellet dengan kadar protein 28-35% dengan kendungan lemeak tidak lebih dari 3%. Pada pemeliharaan induk, pembentukan telur pada ikan memerlukan bahan protein yang cukup di dalam pakannya sehinga perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan taoge dan daun-daunan/sayuran yang diris-iris.

Pemberian pellet untuk pemeliharaan induk sekurang-kurangnya adalah 3% berat biomass per hari. Untuk mengetahui berat biomassa ikan, maka diambil sempel 10 ekor ikan, ditimbang, dan dirata-ratakan beratnya. Berat rata-rata yang diperoleh dikalikan dengan jumlah seluruh ikan di kolam.

c) Peralatan

Peralatan pendukung yang diperlukan dalam pemijahan, penetasan dan pemeliharaan larva adalah alat pengukuran suhu air berupa thermometer. Kontrol terhadap suhu air diperlukna guna memastikan bahwa kolam dalam kondisi yang baik untuk pemeliharaan induk.

Sedangkan peralatan lapangan yang diperlukan adalah ember, baskom, gayung, selang plastik, saringan, plankton net, serok, timbangan, aerasi dan instalasinya. Untuk pendederan peralatan yang dibutuhkan adalah ember, baskom, saringan, serok, lambit, waring, cangkul, hapa penampung benih, timbangan
dll.

d) Produksi larva

Persiapan produksi larva dilakukan dengan mengeringkan dasar kolam selama kurang lebih 3 hari. Lubang-lubang pada pematang kolam ditimbun dengan tanah. Pengapuran diperlukan untuk memperbaiki dan pH tanah dan mematikan bibit penyakit maupun hama ikan. Pemupukan dilakukan untuk menyediakan makanan alami ikan bagi benih yang baru menetas. Selanjutnya, kolam diairi hingga air mencapai ketinggian 50-70 cm.

Proses produksi larva dilakukan dengan pemeliharaan induk. Proses pemijahan alami pada suhu air berkisar 25-30 derajat celcius , keaseman (pH) 6.5-7.5, dan ketinggian air 0.6-1m. Pemasukan induk ikan ke dalam kolam dilakukan pada pagi dan sore hari karena suhu tidak tinggi, dan untuk menjaga agar induk tidak stress, induk dimasukkan satu persatu. Induk jantan akan mulai menggali sarang dan segera memburu induk betina untuk melakukan pelepas telur, yang dengan cepat dibuahi oleh induk jantan dengan cara menyemprotkan spermanya.

Selesai pemijahan, induk betina menghisap telur-telur yang telah dibuahi untuk dierami di dalam mulutnya. Induk jantan akan meninggalkan induk betina, membuat sarang dan kawin lagi. Anakan yang telah keluar dari mulut induk segera dipanen dan dipisahkan tersendiri pada bak pemeliharaan larva. Panen benih sudak boleh dilakukan dengan menggunakan serokan/waring dan ditampung dalam ember/baskom untuk dipindahkan ke kolam pendederan.

Penangkapan sebaiknya dilakukan pada pagi hari di saat benih biasanya berkumpul di permukaan air. Bila matahari makin tinggi dan suhu air meningkat biasanya benih akan berada di bagian dasar kolam mencari tempat yang sejuk. Penangkapan biasanya beberapa kali dan membutuhkan waktu 2 jam. Masa-masa kritis biasanya berkisar 10 hari, karena benih sangat rentan mengalami kematian, sehingga pemeliharaan harus dilakukan secara hati-hati.

e. Pendederan

Kualitas air media pemeliharaan larva diatur pada suhu 25 – 30 0C, keasaman (pH) 6,5 – 7,5 ketinggian air media 0,6 – 1 m dalam kolam pemeliharaan dengan kapasitas luasan berkisar 500 m2. Padat tebar larva berkisar 150 ekor per m2 dengan waktu pemeliharaan 10 hari. Ukuran panen 1 – 3 cm dengan bobot 1 gram.
Gambar benih nila yang siap ditebar di kolam pendederan

Pemeliharaan benih ukuran 1-3 cm dilakukan pada suhu 30 – 32 0C, keasaman (pH) 6,5 – 7,5 ketinggian air media 20 – 30 cm dalam wadah pemeliharaan dengan kapasitas 500 m2. Ukuran benih tebar 1 – 3 cm, bobot 1 gram dengan padat tebar 50 – 75 ekor per m2. Waktu pemeliharaan 20 hari dengan ukuran panen 3 – 5 cm dan bobot 2,5 gram.

Pendederan benih dengan ukuran 3-5 cm dilakukan pada suhu 30 – 32 0C, keasaman (pH) 6,5 – 7,5 ketinggian air media 20 – 50 cm dalam wadah pemeliharaan dengan kapasitas 500 m2. Padat tebar benih berada pada kisaran 50 ekor per m2. Waktu pemeliharaan 30 hari, dengan ukuran panen 5 – 8 cm dan bobot 5 gr.

Gambar benih ikan nila dalam kolam pendederan

Kedalaman perairan kolam untuk pendederan nila di kolam tanah adalah 50 – 70 cm. Pakan benih berupa pakan buatan dengan kadar protein berkisar 30%. Persiapan kolam pendederan dilakukan dengan jalan mengeringkan kolam, pengapuran dan pemupukan dengan pupuk kandang ataupun pupuk buatan. Pupuk kandang diberikan sebagai pupuk dasar dengan dosis 1 kg/m2.

Nila sangat menyukai pakan alami berupa plankton, sehingga tujuan pemupukan susulan agar plankton dapat bertahan hidup dengan baik. Pupuk yang digunakan harus mengandung unsur fosfor dan nitrogen maka dianjurkan untuk menggunakan pupuk DSP (Double Superphosphat) atau TSP (Triple Superphospat) dan urea. Untuk kolam seluas 200 m2 dosis pupuk yang diperlukan 2 kg DSP atau TSP dan 2 kg urea. Pupuk diberikan setelah kolam terisi air.

Posted on Kamis, Agustus 15, 2013 by marbowo leksono

No comments

Rabu, 14 Agustus 2013

A.    PERSIAPAN KOLAM

Agar kegiatan pembesaran dapat berjalan dengan lancar maka kolam pembesaran perlu dipersiapkan dengan cara memperbaiki pematang, memeriksa dan membersihkan saluran pemasukan air dan saluran pembuangan air, pintu pematang air, pintu pembuangan air, caren dan kowean (sering pula disebut kemalir dan kobakan). Setelah proses perbaikan kolam dan pembersihan saluran air selesai, maka tahapan berikutnya adalah pengolahan dasar kolam dengan melakukan pemupukan dan pengapuran.

Contoh kambar kolam yang disekitarnya ditanami pohon sente sebagai salah satu bahan pakan ikan

Contoh gambar bak control air, untuk mengontrol kualitas air sebelum dimasukkan ke dalam koam pembesaran

Sebelum pengapuran dan pemupukan dilakukan dasar kolma terlebih dahulu dikeringkan. Setelah dasar kolam kering, maka dapat diberikan kapur dengan dosis 100-200 gr/m2 dan pupuk kandang 500-1.000 gr/m2. Pupuk kandang yang cukup baik untuk digunakan adalah kotoran ayam karena memiliki unsur hara yang lengkap untuk menumbuhkan pakan alami, mudah terurai dan kandungan amoniaknya tidak terlalu tinggi.

Pemupukan dilakukan untuk menyuburkan tanah sekaligus menumbuhkan pakan alami seperti Fitoplankton, Zooplankton dan Bentos yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan benih ikan gurami. Setelah itu dilakukan pengisian air dan dibiarkan selama 7 hari untuk memberi kesempatan pupuk terurai dan menumbuhkan pakan alami bagi benih gurami. Persediaan pakan alami ini dapat memenuhi kebutuhan benih ikan selama 11 s.d 14 hari. Di dasar kolam dekat pintu pemasukan air sebaiknya ditanami ganggang Hydrilla verticilata sebagai tempat berlindung dan mencari makan benih ikan gurami.

B.    PENEBARAN BENIH

Sebelum benih ditebar, terlebih dahulu dilakukan pemilihan benih yang berkualitas untuk menjamin produktifitas ikan yang dipelihara. Dalam pemilihan benih, hal yang perlu diperhatikan antara lain :
  • Kondisi benih sehat, tidak cacat/luka dan gerakan lincah
  • Warna sisik tidak terlalu hitam
  • Sisik tubuh lengkap/tidak ada yang lepas
  • Tubuh tidak kaku
  • Ukuran seragam
Penebaran benih dilakukan setelah air kolam sudah siap (berwarna hijau muda) atau kurang lebih 5-7 hari setelah pemupukan. Padat penebaran disesuaikan dengan ukuran benih yang akan dipeliharan. Ukuran benih yang biasa ditebar untuk pembesaran berukuran berat 200-250 gram/ekor dan ditebar dengan kepadatan benih ± 1 -2 kg/m2

Untuk mengurangi stress, penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat suhu udara rendah. Sebelum ditebar, dilakukan penyesuaian suhu air dalam wadah angkut dengan suhu air kolam (proses aklimitasi) dengan cara memasukkan air kolam sedikit demi sedikit secara perlahan ke dalam wadah angkut. Setelah terjadi penyesuaian suhu, wadah angkut dimasukkan ke dalam kolam. Air akan bercampur sedikit demi sedikit dan ikan-ikan akan keluar dan berenang ke tengah kolam.

Gambar benih ikan  berbagai ukuran
Urutan (ki-ka) ukuran 2 jari, bungkus korek, 3 jari, dan tampelan

C.    PEMBERIAN PAKAN

Selama masa pertumbuhannya ikan gurami mengalami perubahan tingkah laku makan (feeding habit) yang sangat signifikan. Larva bersifat karnivora (pemakan daging) sampai dengan ukuran dan umur tertentu, sedangkan juvenil muda bersifat omnivora (pemakan segala), dan setelah ukuran induk menjadi herbivora (pemakan daun). Pola perubahan tersebut terkait dengan pola perubahan enzimatik dalam saluran pencernaannya.

Adapun jenis pakan ikan gurami terdiri dari pakan alami (organik) berupa daun-daunan maupun pakan buatan (anorganik), berupa pelet. Pakan alami yang digunakan antara lain daun sente (Alocasia macrorrhiza (L), Schott), pepaya (Carica papaya Linn), keladi (Colocasia esculenta Schott), ketela pohon (Manihot utililissima Bohl), genjer (Limnocharis flava (L) Buch ), Kimpul (Xanthosoma violaceum Schott), Kangkung (Ipomea reptans Poin), Ubi jalar (Ipomea batatas Lamk), ketimun (Cucumis sativus L), labu (Curcubita moshata Duch en Poir), dadap (Erythrina sp).

Gambar daun sente.
Salah satu pakan ikan gurami yang biasa digunakan

Komposisi makanan yang ideal bagi pertumbuhan ikan adalah makanan yang berkadar protein 40%. Namun untuk efisiensi biaya, persentase pemberian makanan buatan ini hendaknya disesuaikan dengan persediaan makanan yang telah ada dalam kolam. Bila masih cukup banyak, cukup diberikan makanan buatan dengan kadar protein 20-30% saja.

Pada usaha budidaya yang hanya menggunakan pakan daun-daunan (teknologi tradisional) pertumbuhan ikan relatif lambat. Sebagai gambaran, berdasarkan pengalaman pembudidaya pemeliharaan benih ikan ukuran 200 gram dengan hanya diberi pakan daun-daunan saja membutuhkan waktu 1 tahun untuk mencapai ukuran 500 gram, sedangkan jika menggunakan pelet dan daun-daunan hanya membutuhkan waktu 4 bulan untuk mencapai ukuran 500 gram. Sehingga dianjurkan untuk dilakukan kombinasi antara daun-daunan dengan pelet.

Kebutuhan pakan berupa pelet per hari adalah 3% dari berat ikan namun jika pakan berupa daun-daunan kebutuhan pakan perhari sebanyak 5-10% dari berat ikan. Untuk penggunaan pakan secara kombinasi diberikan pelet sebanyak 1,5% per hari dari berat ikan dan hijauan sebanyak 5% per hari dari berat ikan. Pemberian pakan secara teratur dalam jumlah yang tepat dapat menghasilkan pertumbuhan ikan gurami yang optimal. Konversi pakan untuk pemeliharaan dalam kolam adalah 1,5-2%, artinya untuk menghasilkan 1 kg daging ikan memerlukan pakan sebanyak 1,5 kg sampai dengan 2 kg. Untuk memberikan pakan yang tepat sesuai kebutuhan dilakukan sampling berat ikan.

D.    PEMANENAN

Jika pakan yang diberikan cukup dan sesuai anjuran, maka dalam waktu 4 bulan ikan akan mencapai ukuran konsumsi dengan berat 500-700 gram/ekor. Pemanenan sebaiknya dilakukan tanpa menggunakan alat tangkap untuk menghindari kerusakan pada tubuh ikan.
 
Gambar contoh ikan gurami konsumsi

E.    HAMA DAN PENYAKIT

Hama yang biasanya menganggu ikan gurami adalah ikan liar pemangsa seperti gabus (Ophiocephalus striatur BI), belut (Monopterus albus Zueiw), lele (Clarias batrachus L) dan lain-lain. Musuh lainnya adalah biawak (Varanus salvator Dour), kura-kura (Tryonix cartilagineus Bodd), katak (Rana spec), ular dan bermacam-macam jenis burung.

Beberapa jenis ikan peliharaan seperti tawes, mujair dan sepat dapat menjadi pesaing dalam perolehan makanan. Oleh karena itu sebaiknya benih gurami tidak dicampur pemeliharaannya dengan jenis ikan yang lain. Untuk menghindari gurami dari ikan-ikan pemangsa, pada pipa pemasukan air dipasangi serumbung atau saringan ikan agar hama tidak masuk dalam kolam.

Gangguan penyakit dapat berupa penyakit non parasiter dan penyakit parasiter. Gangguan penyakit dapat lebih mudah menyerang ikan gurami pada saat musim kemarau dimana suhu menjadi lebih lebih dingin.
Penyakit non parasiter adalah penyakit yang timbul bukan karena serangan parasit, tapi biasanya bersumber dari faktor lingkungan fisika dan kimia air dan makanan. Penyakit ini bisa berupa pencemaran air karena adanya gas beracun seperti asam belerang atau amoniak, kerusakan akibat penangkapan atau kelainan tubuh karena keturanan. Untuk mengetahui gangguan yang dialami oleh ikan yang dipelihara dapat diketahui dari pengamatan terhadap ikan. Bila ada gas beracun dalam air, ikan biasanya lebih suka berenang pada permukaan air untuk mencari udara segar.

Penyakit parasiter diakibatkan parasit. Parasit adalah hewan atau tumbuh-tumbuhan yang berada pada tubuh, insang, maupun lendir inangnya dan mengambil manfaat dari inang tersebut. Parasit dapat berupa udang renik, protozoa, cacing, bakteri, virus, jamur dan berbagai mikroorganisme lainnya. Berdasarkan letak penyerangannya parasit dibagi menjadi dua kelompok yaitu ektoparasit yang menempel pada bagian luar tubuh ikan dan endoparasit yang berada dalam tubuh ikan.

Ciri-ciri ikan yang terkena penyakit parasiter adalah sebagai berikut :
Penyakit pada kulit:
Pada bagian tertentu kulit berwarna merah, terutama pada bagian dada, perut dan pangkal sirip. Warna ikan menjadi pucat dan tubuhnya berlendir.
Penyakit pada insang:
Tutup insang mengembang, lembaran insang menjadi pucat, kadang-kadang tampak semburat merah dan kelabu.
Penyakit pada organ dalam:
Perut ikan membengkak, sisik berdiri. Kadang-kadang sebaiknya perut menjadi amat kurus, ikan menjadi lemah dan mudah ditangkap.

Salah satu parasit yang sering menyerang ikan gurami adalah Argulus indicus yang tergolong Crustacea tingkat rendah yang hidup sebagai ektoparasit, berbentuk oval atau membundar dan berwarna kuning bening. Parasit ini menempel pada sisik atau sirip dan dapat menimbulkan lubang kecil yang akhirnya akan menimbulkan infeksi. Selanjutnya infeksi ini dapat menyebabkan patah sirip atau cacar. Parasit lainnya adalah bakteri Aeromonas hdyrophyla, Pseudomonas, dan cacing Thrematoda yang berasal dari siput-siput kecil.

Untuk mencegah penyakit ini dapat dilakukan dengan mengangkat dan memindahkan ikan ke dalam kolam lain dan melakukan penjemuran kolam yang terjangkit penyakit selama beberapa hari agar parasit mati. Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan pinset. Sementara pengobatan bagi ikan-ikan yang penyakitnya lebih berat dapat menggunakan bahan kimia seperti Kalium Permanagat (PK), neguvon dan garam dapur.

Selain penggunaan bahan kimia tersebut di atas, petani di daerah Purbalingga menggunakan daun lambesan (Chromolaena odorata (L), RM King & H. Robinson) sebagai antibiotik. Daun lambesan dimasukkan ke dalam kolam sebelum ikan di tebar yaitu pada saat pengolahan kolam. Banyaknya daun lambesan yang dipakai adalah 1 pikul (yaitu kurang lebih 50 kg) untuk luas tanah 25 m2. Penggunaan daun ini adalah 1 kali untuk 1 masa tanam.


Contoh gambar daun lambesan
Penggunaan obat-obatan kimia untuk ikan konsumsi sudah tidak tidak lagi direkomendasikan mengingat dampak yang tidak baik kepada konsumen. Oleh karena itu mencegah akan lebih baik dari mengobati. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengamatan secara konsisten terhadap kualitas air dan jika terjadi perubahan kualitas air yang ekstrim maka harus segera diatasi.

Posted on Rabu, Agustus 14, 2013 by marbowo leksono

No comments

Selasa, 09 Juli 2013

A.    PENGERTIAN

Sistem mina padi merupakan cara pemeliharaan ikan di sela-sela tanaman padi, sebagai penyelang diantara dua musim tanam padi atau pemeliharaan ikan sebagai pengganti palawija di persawahan.

Jenis ikan yang dapat dipelihara pada sistem tersebut adalah ikan mas, nila, mujair, karper, tawes dan lain-lain. Ikan mas dan karper merupakan jenis ikan yang paling baik dipelihara di sawah, karena ikan tersebut dapat tumbuh dengan baik meskipun di air yang dangkal, serta lebih tahan terhadap matahari.

Agar pertumbuhan tanaman padi tidak terganggu, pemeliharaan ikan di sawah harus disesuaikan dengan sistem pengairan yang ada, sehingga produksi padi tidak terganggu.

Dalam pembahasan kali ini, kita akan lebih fokuskan pada pemeliharaan ikan disela-sela tanaman padi. Dalam membudidayakan ikan bersama dengan tanaman padi, lamanya pemeliharaan adalah sejak benih padi ditanam sampai penyiangan I, penyiangan II, atau sampai tanaman padi mulai berbunga, kira-kira umur tanaman padi 50 hari.

Sawah yang sesuai untuk mina padi adalah sawah yang berpengairan teknis maupun setengah teknis.  Usaha mina padi selain merupakan usaha yang menguntungkan, juga dapat meningkatkan pendapatan petani, serta membantu program pemerintah dalam usaha memenuhi gizi keluarga.

B.    PERSIAPAN LAHAN

a.    Pembuatan Galengan

Galengan (pematang) yang dibuat harus cukup tinggi dan kuat untuk menahan air. Tinggi galengan sebaiknya antara 25 – 40 cm, tergantung pada tinggi permukaan air. Lebar galengan bagian dasar tidak kurang dari 50 cm, sedangkan lebar galengan bagian atas cukup 25 cm saja. Sebaiknya dalam pembuatan galengan tidak digunakan bahan-bahan yang berasal dari tanaman, karena bahan ini mudah busuk sehingga dapat menimbulkan kebocoran pada galengan. Galengan dapat dibuat dari tanah yang dipadatkan dengan cara menginjaknya sampai terbentuk galengan yang sesuai dengan harapan.
Gambar konstruksi kolam mina padi

Lubang-lubang yang terdapat di sepanjang galengan sebaiknya ditambal dengan tanah untuk menghindari perembesan dari sawah. Jika lubang terlalu besar, sebaiknya galengan yang terdapat di sekitar lubang dibongkar terlebih dahulu dan kemudian dibangun kembali.

b.    Pembuatan Selokan/ Kamalir

Pembuatan selokan/kamalir dimaksudkan untuk melindungi ikan dari :
  • Serangan hama, seperti burung, ular ataupun musang air
  • Bahaya kekeringan yang sering disebabkan oleh penguapan air yang tinggi.
  • Meningkatnya temperatur air karena panasnya sinar matahari.
Gambar bagan berbagai jenis layout selokan yang bisa diadopsi untuk pemeliharaan ikan

Selokan/ kamalir ini dapat dibuat melintang atau sejajar dengan galengan. Lebar kamalir cukup 50 cm dengan kedalaman tidak kurang dari 30 cm. Selama pemeliharaan, air di dalam kamalir harus selalu dikontrol supaya tidak sampai kurang.

Lebar selokan/ kamalir disesuaikan dengan luas petakan sawah yaitu sekitar 2-3% dari total luas petakan.  Bentuk kamalir dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

c.    Pembuatan Saluran Pemasukan air dan Pengeluaran air

Saluran pemasukan dan pengeluaran air dibuat dengan tujuan untuk mengatur tinggi permukaan air yang terdapat di sawah agar tidak kekurangan atau berlebihan. Saluran pemasukan dan pembuangan air dapat dibuat dari bahan bambu atau pipa pralon yang ditanam pada pematang sawah. Saluran pengeluaran air yang dibuat sebaiknya dua buah, yaitu berfungsi untuk menguras air yang terdapat dalam kamalir sehingga akan mempermudah penangkapan ikan pada saat panen dilakukan. Sedangkan saluran pengeluaran yang lain berfungsi untuk mengatur tinggi air yang diinginkan.

Saluran pemasukan air yang dibuat cukup satu saja dan harus terletak lebih tinggi dari pada saluran pengeluaran, agar air yang telah dialirkan tidak mengalir kembali ke luar. Untuk mencegah masuknya ikan-ikan liar atau sampah dan keluarnya ikan yang dipelihara, sebaiknya pada saluran pemasukan maupun pengeluaran dipasang saringan dari anyaman bambu atau kawat kasa.

d.    Pembuatan Bak Penampungan

Bak penampungan berguna untuk menampung ikan pada saat dilakukan panen sehingga ikan mudah ditangkap. Bak penampungan ini sebaiknya dibuat di sekitar saluran pengeluaran. Ukuran bak tergantung pada sawah yang tersedia sehingga dapat menampung semua ikan yang dipelihara. Bak penampungan harus lebih dalam daripada kamalir, sehingga pada saat kamalir kering bak ini masih terisi air untuk menampung ikan.

e.    Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah dimaksudkan untuk menyediakan media yang baik bagi pertumbuhan tanaman padi maupun organisme makanan ikan.

Tanah mula-mula dicangkul atau dibajak sampai kedalaman 20 cm, kemudian alirkan air agar tanah menjadi sedikit becek. Taburkan pupuk urea secara merata ke seluruh permukaan tanah dengan dosis 100-200 kilogram untuk setiap hektarnya.

Setelah benih padi ditanam, kemudian air dialirkan kembali sampai permukaan air mencapai ketinggian 20 cm, dan dibiarkan selama 4 -7 hari, untuk memberikan kesempatan kepada organisme makanan ikan untuk tumbuh. Setelah 4 -7 hari, benih ikan ditebarkan dengan kepadatan tertentu.

f.    Persyaratan dan Kepadatan Benih

Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, benih ikan yang akan ditebarkan sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut: Benih ikan tidak mempunyai warna tubuh yang terlalu mencolok, karena dapat menarik perhatian dari hewan-hewan pemangsa, Ikan bersifat omnivora (pemakan segala), Benih berasal dari jenis ikan yang unggul dan sehat, Bisa hidup di perairan dangkal dan tahan panas.

Sedangkan untuk padat tebar, harus disesuaikan dengan tujuan kita dalam usaha mina padi, apakan akan sampai pada tahap pendederan saja, atau akan sampai pada pembesaran. Untuk usaha pendederan, benih yang ditebar berukuran 1-3 cm ditebar sesudah 5 hari padi ditanam dengan kepadatan 3 ekor/ m2. Benih dipelihara sampai penyiangan kedua dan akan diperoleh benih dengan ukuran 5-8 cm.

Jika kita akan mengusahakan mina padi hingga mendapatkan ikan konsumsi, maka disarankan menggunakan benih dengan ukuran 8-12 cm dengan padat tebar lebih kurang 1000-1500 ekor/ Ha. Dengan lama pemeliharaan selama 50 hari akan diperoleh ikan dengan berat rata-rata 60 gram/ ekor.

C.    CARA PEMELIHARAAN

Kegiatan pemeliharaan ikan bersama padi sebaiknya disesuaikan dengan pertumbuhan tanaman padi. Dalam satu kali tanam padi dapat dilakukan beberapa macam pemeliharaan ikan, sesuai dengan tujuan pemeliharaan, apakah untuk ukuran benih saja atau untuk ukuran ikan konsumsi.

a.    Usaha Pendederan

Ada 2 (bentuk) usaha pendederan yang bisa dilakukan dalam usaha mina padi, yaitu:
  • Penebaran benih ikan ukuran 1-3 cm, dilakukan 5 hari setelah padi ditanam dan dipanen pada saat penyiangan padi  petama. Padat penebaran 40- 60 ribu ekor/ hektar. Lama pemelihraan 24 hari, nantinya akan diperoleh benih ikan berukuran 3-5 cm.
  • Penebaran benih ikan ukuran 1 cm dilakukan 5 hari setelah padi ditanam dan dipanen pada saat penyiangan kedua. Padat penebaran 10-15 ribu ekor/hektar. Pada saat penyiangan pertama diusahakan agar kamalir tetap ada airnya, sehingga ikan terus dipelihara sampai penyiangan kedua. Sampai saat penyiangan kedua ini akan diperoleh benih ikan berukuran 5-8 cm.
b.    Usaha Pembesaran

Untuk pemeliharaan ikan hingga ukuran konsumsi, dapat dilakukan melalui 3 cara, yaitu :
  • Untuk benih ikan yang berukuran 2-3 cm, ditebarkan sebanyak 3000 ekor/hektar. Penebaran dilakukan 5-7 hari setelah padi ditanam. Panen ikan dilakukan saat akan panen padi.
  • Untuk benih ikan yang berukuran 5-8 cm, ditebarkan 1000-1500 ekor/hektar. Penebaran dilakukan setelah penyiangan pertama. Panen ikan dilakukan saat akan panen padi.
  • Untuk benih ikan yang berukuran 8-12 cm, ditebarkan lebih kurang 1000 ekor/hektar. Penebaran dilakukan setelah penyiangan kedua dan dipanen saat akan panen padi dengan lama pemeliharaan 50 hari.

D.    CARA PEMANENAN IKAN

Berikut adalah cara penaenan ikan yang biasa dilakukan pada pemeliharaan ikan sistem mina padi:
  • Saluran pemasukan dan pengeluaran di pasang saringan. Saluran pemasukan ditutup dan saluran pengeluaran air dibuka, sehingga permukaan air turun.
  • Ikan digiring sehingga terkumpul di dalam kamalir dan kemudian air diturunkan lagi hingga air tinggal di parit saja.
  • Ikan yang ada dalam kamalir digiring menuju ke bak penampungan dan ikan ditangkap dengan menggunakan scoop-net. Ikan-ikan yang tertangkap ditampung di tempat penampugan yang berisi air bersih.

Posted on Selasa, Juli 09, 2013 by marbowo leksono

No comments