Kamis, 29 Januari 2015

Kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan “Prima Melati” berhasil menyabet juara 1 lomba kelompok perikanan tingkat kabupaten Purbalingga tahun 2014. Berdasarkan hasil penyaringan dan dengan memperhatikan berbagai kriteria yang cukup ketat, akhirnya ditetapkan poklahsar Prima Melati sebagai juara 1, tutur Hery Astuti, S.Pi selaku ketua tim penilai lomba.


Kelompok Prima Melati merupakan kelompok pemgolah dan pemasar hasil perikanan yang berada di desa Patemon, kecamatan Bojongsari dan merupakan satu-satunya kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan yang berada diwilayah Balai Penyuluhan Kecamatan Bojongsari.


Kelompok yang berdiri pada tanggal 27 September 2012 ini, pada awalnya hanya mengolah dan memasarkan abon ikan lele, seiring berjalannya waktu, saat ini poklahsar prima melati telah memproduksi berbagai olahan beku berbahan dasar ikan lele seperti, nugget, kaki naga, bakso, tahu bakso, rolade, dll.


Selain olahan beku, olahan kering seperti pastel kering isi abon lele, kripik duri dan sirip, kerupuk kulit, serta ladrik juga telah diproduksi secara rutin. Olahan kering ini sebagian besar merupakan hasil samping dari pemanfaatan limbah lele (sirip, duri dan kulit). Perlu diketahui, semua produk poklahsar Prima Melati dipasarkan dengan brand Marisa.

Yelfia, ketua kelompok Prima Melati, mengatakan bahwa semua produknya dijual dan dipasarkan dengan dua cara yaitu secara langsung dengan titip jual di toko serta secara online melalui promosi di media sosial dan toko online.

Posted on Kamis, Januari 29, 2015 by marbowo leksono

No comments

Kamis, 22 Januari 2015

CPIB atau Cara Pembenihan Ikan yang Baik, merupakan stantard sistem mutu paling sederhana yang diperlukan dalam memproduksi benih dengan cara melakukan manajemen induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva dalam lingkungan yang terkontrol melalui penerapan teknologi yang memenuhi persyaratan SNI atau persyaratan teknis lainnya, serta memperhatikan biosekuriti, mampu telusur, dan keamanan pangan.

CPIB dan Isu Perdagangan Bebas

Penerapan CPIB bagi unit pembenihan menjadi semakin penting, mengingat akan diberlakukannya MEA yang tinggal menghitung hari. Bagi pengembangan dunia perikanan, era perdagangan bebas ini akan menimbulkan tantangan yang sangat kompleks. Mulai dari kompetisi yang sangat ketat, isu keamanan pangan, dan cara-cara budidaya yang bertanggungjawab dan berkelanjutan yang telah menjadi tren diberbagai negara dibelahan dunia.

Tantangan yang kompleks ini, jika tidak dihadapi secara serius, tentunya akan berdampak negatif, usaha pengembangan perikanan di Indonesia bukan tidak mungkin akan tergilas, karena tidak siap untuk berkopetisi dengan pelaku usaha perikanan yang datang dari berbagai negara-negara di Wilayah Asia Tenggara.

Perdagangan bebas juga akan membuat konsumen semakin selektif dalam memilih produk, termasuk dalam hal memilih benih. Konsumen dimajakan dengan semakin banyaknya pilihan yang menawarkan banyak kelebihan. Jaminan kualitas benih yang ditawarkan menjadi poin penting manakala konsumen dihadapkan pada banyak pilihan.

Jaminan kualitas benih ikan yang diproduksi dengan standar mutu yang baik serta memenuhi syarat keamanan pangan akan sangat menguntungkan para produsen benih. Selain meningkatkan kepercayaan konsumen, meningkatkan daya saing, juga secara internal akan berdampak positif bagi peningkatan produktifitas, efektifitas, dan efisiensi kerja.

Sertifikasi CPIB

Untuk menjamin bahwa suatu unit perbenihan telah menerapkan CPIB, maka setiap unit Perbenihan harus disertifikasi. Pemerintah, melalui Kepmen KP No. Kep.02/MEN/2007 telah mengatur bagaimana cara budidaya ikan yang baik serta pemilihan benih yang bermutu. Pemerintah menjamin suatu produk budidaya bermutu serta aman dengan cara menerbitkan sertifikat bagi unit-unit pembenihan yang telah dinyatakan lulus sertifikasi.

Sertifikasi merupakan rangkaian kegiatan dimana lembaga sertifikasi pemerintah atau lembaga sertifikasi yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional memberikan jaminan tertulis bahwa produk, jasa, proses, atau individu telah memenuhi persyaratan standar atau spesifikasi teknis tertentu yang dipersyaratkan.

Untuk mendapatkan sertifikat CPIB, suatu unit pembenihan harus mengajukan permohonan sertifikasi CPIB kepada Dirjen Perikanan Budidaya sebagai pelaksana sertifikasi dengan melampirkan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan.

Mekanisme sertifikasi CPIB

Persyaratan awal, sebuah unit pembenihan bisa mengajukan sertifikasi CPIB apabila mereka telah memiliki MPM (Manajer Pengendali Mutu), Dokumen Mutu, serta telah menerapkan CPIB selama 1 siklus.

Ketika permohonan sertifikasi CPIB telah diajukan, maka akan dilakukan penilaian pendahuluan berupa pemeriksaan berkas dokumen yang dilampirkan pada permohonan sertifikasi. Jika memenuhi syarat, maka akan dilanjutkan ke penilaian lapangan. Apabila ternyata dokumen permohonan sertifikasi dinyatakan tidak cukup, maka akan dikembalikan lagi kepada pemohon.

Penilaian lapangan dilakukan untuk melihat kesesuaian penerapan CPIB di unit pembenihan yang dilakukan oleh tim Auditor Mutu Perbenihan. Jika dinyatakan lulus, maka sertifikat CPIB dapat diterbitkan. Pemeringkatan kelulusan dikategorikan dalam tiga tingkatan, yaitu sangat baik, baik, dan Cukup.

Bagi sebagian besar UPR (Unit Pembenihan Rakyat) atau Pokdakan yang bergerak di bidang pembenihan, persyaratan sertifikasi tersebut mungkin akan terlalu memusingkan, banyak hal-hal baru yang kemungkinan tidak dimengerti dan dipahami. Tetapi jika sertifikasi adalah suatu keharusan, dan menjadi sebuah kebutuhan, maka kami sarankan kepada siapapun baik perorangan ataupun kelompok yang ingin mengajukan sertifikasi CPIB untuk menghubungi Tim Pembina Mutu Perbenihan/ Penyuluh Perikanan di wilayah Kecamatan masing-masing.

Tim Pembina Mutu Perbenihan Kabupaten purbalingga, yang berada di Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPPKP) selalu menerima konsultasi berkaitan dengan persyaratan dan proses pengajuan sertifikasi CPIB. Para pembenih baik perorangan ataupun kelompok akan dibantu hingga dapat mengantongi sertifikat CPIB.

Posted on Kamis, Januari 22, 2015 by marbowo leksono

No comments

Senin, 12 Januari 2015

Ikan lele merupakan salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Seiring dengan perkembangan teknologi, saat ini, ikan lele banyak dibudidayakan dengan menggunakan kolam terpal. Banyak referensi dari pada pembudidaya bahwa pembesaran ikan lele dikolam terpal jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan menggunakan kolam konvensional. Hal ini dikarenakan tingkat kelulushidupan (SR) ikan lele yang dibudidayakan di kolam terpal jauh lebih tinggi, waktu produksi yang lebih singkat, hemat air, serta padat tebar yang lebih banyak.

Berbeda dengan kolam tanah/ beton, kolam terpal sangat cocok sebagai solusi untuk daerah yang krisis air atau daerah dengan lahan sempit. Kolam terpal dapat dibuat dihalaman rumah dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang kosong, memanfaatkan ruangan/ bangunan bekas pergudangan yang tidak difungsikan, bahkan di atas rumah dengan memanfaatkan ruang terbuka dibalkon rumah bertingkat.

Secara teknis tingkat keberhasilan budidaya di kolam terpal jauh lebih tinggi dikarenakan kemudahan dalam pengawasannya, serta lebih intensif dalam budidayanya. Produksi lele dapat ditingkatkan secara signifikan karena padat tebar dikolam terpal dapat dinaikkan hingga 100-200 ekor/m2. Bahkan saat ini sudah banyak pembudidaya yang berhasil memelihara dengan padat tebar hingga 350 ekor/m2.

Terkait dengan hama dan penyakit yang muncul, budidaya di kolam terpal relatif lebih aman. Hal ini dikarenakan kondisi air dapat dikontrol 100%. Karena air merupakan pintu terbesar bagi masuknya sumber penyakit, dengan mengontrol sumber air, kita dapat melakukan antisipasi dan pencegahan terhadap bibit penyakit yang masuk. Jika sudah terjadi gejala penyakit, maka penanggulangannya juga akan lebih cepat dan terkontrol. 

Secara finansial, biaya operasional budidaya lele dikolam terpal dapat ditekan, utamanya dalam hal belanja benih. Benih yang digunakan untuk pembesaran lele dikolam terpal dapat lebih kecil, sehingga harga belinya lebih murah. Adapun secara mutu, ikan lele yang dipelihara di kolam terpal jauh lebih bagus karena lebih bersih dan tidak berbau lumpur.

PEMBUATAN KONSTRUKSI KOLAM TERPAL 

Pada prinsipnya kolam terpal adalah kolam yang keseluruhan bentuknya, baik bagian dasar, maupun dindingnya terbuat dari terpal. Secara umum kolam terpal bisa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kolam terpal didalam tanah dan kolam terpal diatas permukaan tanah. Kolam terpal diatas permukaan tanah biasanya dibangun untuk memanfaatkan pekarangan yang ada agar lebih produktif. Pembuatan kolam terpal sebetulnya sangat praktis, pengerjaannya dapat dilakukan dalam waktu hanya beberapa jam saja. 

Bahan-bahan untuk Membuat Kolam Terpal

Plastik Terpal
Dipasaran, sudah banyak pilihan ukuran terpal yang dapat digunakan untuk membuat kolam terpal, diantaranya ukuran 6 x 5, 8 x 5, 13 x 8, dan 15 x 11 meter. Ketebalan terpal juga bermacam-macam, semakin tebal maka akan semakin bagus dan awat.

Kerangka dan dinding kolam dari bambu
Dinding penahan terpal juga dapat dibuat dari bambu yang dibelah dan disusun menyerupai pagar, ukuran dinding dibuat dan menyesuaikan ukuran kolam.

Paralon, kawat, karet untuk pengikat, dan paku
Paralon diperlukan untuk pembuangan/ pengeringan air dan juga untuk menjaga ketinggian air. Biasanya untuk kolam dengan ukuran 3 x 4 meter ukuran paralon yang digunakan adalah diameter 2 atau 2,5 inchi.

Kawat digunakan untuk mengikat dinding kolam pada tiang/ tonggak serta menyatukan sudut-sudut dinding kolam. Selain itu, kawat diperlukan untuk mencencang tiang kolam untuk menahan agar dinding kolam lebih kuat. Dikarenakan tekanan air kolam cukup besar, maka sisi tiang/ kerangka kolam yang satu dengan tiang lainnya yang berseberangan harus dicencang dengan kawat sedemikian rupa sehingga bentuk kolam menjadi kokoh serta dinding tidak miring kearah luar karena tekanan air. Karet pengikat digunakan untuk mengikatkan knee pada terpal plastik di lubang pembuangan air. Sedangkan paku digunakan untuk membuat dinding kolam.

Cara pembuatan kolam terpal

Peralatan yang perlu dipersiapan untuk membuat kolam terpal adalah gergaji, palu, pahat, pisau, gunting, dan golok. Adapun langkah-langkah untuk membuat kolam terpal diatas permukaan tanah adalah sebagai berikut:

Setelah lokasi lahan ditentukan, maka bersihkan lokasi lahan dari benda-benda yang dapat mengganggu, misalnya rumput atau pohon yang terlalu rimbun, sehingga kolam mendapatkan sinar matahari secara langsung.

Siapkan tonggak/ tiang utama untuk kerangka kolam. Jika ukuran kolam panjang 4 meter dan lebar 3 meter maka tancapkan tiang dimasing-masing sudut kolam. Jika lebih dari 1 petak, maka  diatur agar terlihat rapi. Setelah tonggak utama terpasang maka tancapkan juga tonggak pendukung lainnya disisi-sisi kolam dengan jarak antar tonggak minimal 1 meter.

Untuk pembuatan dinding kolam, pilih bambu yang sudah tua dan sebaiknya gunakan hanya bagian bawah sampai tengah saja. Bambu dipotong-potong sesuai degan ukuran panjang dan lebar kolam, setelah itu dibelah dengan ketebalan 4-5 cm. Setelah dibelah bersihkan dan serut belahan bambu dengan golok/pisau. Bambu-bambu tersebut selanjutnya disusun sedemikian rupa sehingga berbentuk persegi panjang sesuai dengan ukuran sisi-sisi kolam. Jarak antar bambu disusun dengan kerapatan sekitar 4-5 cm.

Jika kolam sudah terbentuk, misalnya kolam berukuran 4 x 3 x 1m, atur kemiringan dasar kolam ke salah satu sisi kolam, kemudian pada sisi yang paling rendah dibuat kowenan dengan ukuran kurang lebih 25 x 60 x 10 cm. Tujuan dibuat kowenan tersebut adalah untuk memudahkan pada saat pengeringan dan pemanenan lele.

Letakkan pralon beserta knee pada sisi dinding yang terdapat kowenan. Knee dan paralon tersebut digunakan sebagai bakal pembuangan air.

Setelah kerangka kolam selesai, langkah berikutnya adalah pemasangan terpal plastik. Jika kolam yang akan kita buat berukuran 4 x 3 x 1 m maka siapkan terpal dengan ukuran 6 x 5 m. Gelar dan letakkan terpal ditengah kerangka kolam dan atur sudut-sudut terpal terletak di masing-masing sudut dinding kolam. Agar rapih dan tidak terjadi kerutan pemasangan dilakukan secara bergantian dari dinding satu ke dinding yang lain. Bagian sudut di lipat telebih dahulu kemudian dinding bak paling atas dijepit dengan bilah bambu.

Pada bagian pembuangan air yang telah dipasang paralon dan knee, terpal disobek menyilang tepat diatas lubang knee. Setelah itu, masukkan knee ke dalam lubang tersebut dan ikat secara kuat dengan karet.

Setelah pemasangan plastik terpal selesai dan lubang pembuangan telah terpasang paralon, maka kolam terpal sudah siap untuk diisi dengan air.

Peralatan Pendukung Budidaya

Pompa listrik
Pompa listrik digunakan untuk memudahkan pengisian air ke dalam kolam budidaya jika lokasi kolam tidak memungkinkan untuk mengisi kolam dari saluran irigasi dan atau jika letak sumber air lebih rendah dari kolam. Untuk kolam terpal yang jumlahnya sedikit (hanya satu atau dua kolam) keberadaan pompa air tidak begitu diperlukan karena akan membebani biaya operasional. Air dari sumbernya, cukup dimasukkan ke dalam kolam secara manual yaitu menggunakan timba atau ember.

Slang atau paralon
Slang dan paralon dibutuhkan untuk menyalurkan air ke lokasi kolam jika sumber air jauh dari lokasi kolam, atau jika akan mengisi kolam menggunakan pompa listrik. Slang atau paralon yang digunakan berukuran minimum 1 inchi atau disesuaikan dengan kebutuhan.

Aerator/ Blower
Aerator hanya digunakan pada waktu tertentu saja, utamanya saat lele membutuhkan suplai oksigen pada saat karena kandungan oksigen terlarut dalam kolam menurun secara drastis.

Timbangan
Timbangan digunakan untuk menimbang pakan yang akan diberikan kepada lele. Alat ini tidak mutlak diperlukan tetapi saat skala usaha semakin besar, dan usaha budidaya lele sudah intensif dengan tujuan komersial maka timbangan pakan mutlak diperlukan untuk mengontrol pemberian pakan.

Posted on Senin, Januari 12, 2015 by marbowo leksono

No comments